Posts Tagged ‘masjid’

KEMBALIAN

Posted: January 30, 2017 in celetukan
Tags: , , ,

kembalianYuk Na merasa sangat khawatir. Sambil menggendong oroknya ia mondar-mandir, gelisah. Jarum jam di dinding menunjuk angka 1.30 siang, namun si Endut, anak keduanya tak kunjung pulang ke rumah. Ia kontak HP suaminya berkali-kali, namun hanya suara perempuan penunggu telepon yang tidak bosan meminta maaf. Mau menyuruh anak sulungnya untuk mencari sang adik, ia sedang diajak ke rumah Budenya. Mau berangkat sendiri, hari sedang hujan lebat disertai petir bersahutan. Hati Yuk Na semakin galau, tak karuan.

Tidak seperti biasanya, si Endut pulang lama seusai shalat Jum’at. Yuk Na teringat anak lelaki yang baru duduk di bangku TK itu saat berangkat jum’atan. Ia meminta uang untuk dimasukkan kotak amal sebagaimana Yuk Na ajarkan. Ia beri selembar uang Rp. 5000an karena tidak ditemukan di dompet lembaran atau recehan Rp. 2000an. Namun sampai sekarang mengapa anak itu belum juga kembali ke pangkuannya. Yuk Na semakin gelisah.

(more…)

Advertisements

MOGOK

Posted: July 29, 2012 in celetukan
Tags: , , , ,

Yu Patim, istri Kang Ri, ngamuk. Karena sejak awal puasa hanya diberi janji saja oleh suaminya. Ia ingin bisa bersembayang terawih di Masjid Agung, namun tidak pernah bisa kesampaian karena Kang Ri tidak pernah mau mengantarnya dengan pelbagai alasan.

Lha piye toh, Bu. Jarak kampung kita dengan masjid agung kan ya jauh. Sebelas kiloan” kata Kang Ri.

“Sebelas kilo aja kok ya jauh toh, Pak?! Paling ya hanya seperempat jam, sampai!” ujar Yu Patim, sewot.

“Itu kalau nggak macet, Bu” sanggah Kang Ri, “Kalau jalanan macet ya bisa setengah jam-an, Bu..” kilah Kang Ri.

Walahhh Pak.. Pak! Jo kaken alasan. Kalau memang tidak mau nganter, bilang saja!”

“Bukan begitu, Bu..”

“Lha, apa? Kenyataannya begitu, kok!”

“Begini lho, Bu.. kalau perjalanan saja setengah jam, kan sampai Masjid Agung bisa terlambat. Lah wong di sana itu adzan, sebentar kemudian langsung iqomat jeh! Lha kalau terlambat kan ya tidak bisa menikmati” Kang Ri beralasan.

(more…)

HARI KETIGABELAS, KAMIS, 06 DESEMBER 2007

Hari ini saya habiskan waktunya untuk mengikuti kuliah seperti biasa. Hanya saja sorenya ada kuliah tambahan mengenai Methode Menghafal al-Qur`an yang disampaikan oleh Ghulam Hosein, seorang Hafidz Qur`an. Di Iran, walaupun pembelajaran bahasa Arabnya bisa disebut tidak sukses, namun penghafal Qur`an amatlah banyak jumlahnya. Di sini, penghafal Qur`an tidak hanya hafal ayat-ayat kitab suci itu, tetapi juga beserta halaman, nomor ayat dan juznya.

(more…)

HARI KESEPULUH, SENIN, 03 DESEMBER 2007

Hari ini saya lalui dengan berkuliah mulai pagi hingga sore, tiga materi. Terasa menjemukan sih.. duduk berlama-lama di bangku kelas.

Malam harinya saya keluar, berjalan kaki bersama pak Sasmito dan pak Narto ke pasar tradisional yang terletak di kawasan makam Sayyida Fathima untuk membeli sepatu olahraga. Lumayan juga jaraknya, cukup membuat darah mengalir deras ke ujung kaki. Di sana kami hanya sekadar melihat-lihat. Niat semula untuk membeli sepatu tidak terlaksana. Selain desainnya tidak ada yang menarik selera, juga tidak ada yang pas ukurannya untuk kaki Pak Sas yang superjumbo. Akhirnya kami memutuskan pulang ke Hauzah, lagi-lagi dengan jalan kaki.

(more…)

Hari ketujuh, Jum’at, 30 Nopember 2007

Hari ini, hari libur dari pembelajaran di kelas. Saya memanfaatkannya untuk bermain tenis meja di lantai bawah tanah bersama beberapa kawan. Setelah itu mencuci pakaian dan mandi Jum’at. Saat ini musim dingin, tidak lazim di sini adat Indonesia “mandi setiap hari”, apalagi tiga kali sehari. Saya mandi paling banyak dua kali seminggu. Walaupun begitu, jangan dikira badan akan dekil atau bau. Hal itu karena di udaranya kering, sehingga badan tidak pernah keringatan. Cucian cukup diperas di mesin cuci lalu digantungkan di kamar mandi dan dalam beberapa jam akan kering sendiri.

(more…)