Posts Tagged ‘imam’

KEMBANG MUSHOLLA

Posted: July 23, 2012 in celetukan
Tags: , , , ,

“Dul, mbok dibilangin toh tetanggamu itu..” kata Kang Mo saat kongkow sehabis tadarusan malam di musholla.

“Tetangga, siapa? Sampean kan yo.. tetangga juga!” ujarku sambil guyon.

“Itu lho.. yang sebelah kanan rumahmu”

“Oh, Kang Mail??”

“Mbok minta tolong, untuk menegur anak-anaknya agar tidak ribut saat terawih. Kalau gak bisa tenang, mbok sekalian aja gak usah diajak terawih di musholla”

“Lho, kalau tidak terawih, musholla tidak ramai, Kang!” celetuk Kang Ri.

“Iya, Kang Mo. Musholla kita jadi kuburan nanti. Singup!” ujarku.

(more…)

UNJUK RASA

Posted: July 22, 2012 in celetukan
Tags: , , , , ,

“Dul, ini bahaya. Bahaya Dul, kalau benar-benar terjadi!” kata Kang Ri dengan napas terengah-engah.

“Apa sih, Kang?” ucapku sesantai mungkin.

“Bahaya Dul. Ini sangat berbahaya..” masih dengan napas naik turun.

“Iya, apanya yang bahaya? Nggak ada angin, nggak ada hujan, nggak ada pula gempa kok bahaya..”

Sweerrr Dul, kalau ini benar-benar terjadi, maka akan…”

“Bahaya!” kataku cepat nimpali.

“Benar,  katamu”

Lha, iya toh. Lha wong sampean dari tadi juga ngomong itu berulang-ulang..”

“Tapi ini bener lho Dul!” Kang Ri sedikit membentak.

“Iya, tapi itu apa? Bahaya, bahaya tok. Tapi tidak mau nyebutin!” kataku tidak kalah sewot.

“Itu lho, Dul. Jama’ah musholah kita at-Taubah berencana berunjuk rasa!”

“Berunjukrasa??” tanyaku sok terkejut. Sengaja biar terkesan ekspresif, dan Kang Ri jadi senang.

“Benar. Berunjukrasa!!” katanya tidak kalah ekspresif.

(more…)

HARI KESEPULUH, SENIN, 03 DESEMBER 2007

Hari ini saya lalui dengan berkuliah mulai pagi hingga sore, tiga materi. Terasa menjemukan sih.. duduk berlama-lama di bangku kelas.

Malam harinya saya keluar, berjalan kaki bersama pak Sasmito dan pak Narto ke pasar tradisional yang terletak di kawasan makam Sayyida Fathima untuk membeli sepatu olahraga. Lumayan juga jaraknya, cukup membuat darah mengalir deras ke ujung kaki. Di sana kami hanya sekadar melihat-lihat. Niat semula untuk membeli sepatu tidak terlaksana. Selain desainnya tidak ada yang menarik selera, juga tidak ada yang pas ukurannya untuk kaki Pak Sas yang superjumbo. Akhirnya kami memutuskan pulang ke Hauzah, lagi-lagi dengan jalan kaki.

(more…)