Archive for the ‘opini’ Category

waktuRenungan Tahun Baru

Saat ini kita ada di penghujung tahun 2016, dan akan memasuki awal tahun baru 2017M. Biasanya kebanyakan manusia bergembira menyambutnya. Dihitungnya detik-detik pergantian tahun itu dengan perlahan, dan kala jarum jam menunjuk pukul 24.00, ramai-ramai manusia mengucapkan selamat tahun baru.

Suasana lalu menjadi semakin bergemuruh, kemeriahan semakin bertambah. Tiupan terompet tak henti-hentinya mengilikitik telinga. Permainan cahaya kembang api elok dipandang mata.

Dan tak kalah dengan keramaian di lapangan kota, mereka yang di tengah kampung pun ikut latah. Disulutnya sumbuh petasan, lalu gelegarnya saling bekejaran serasa hen hendak merobek kendang telingah.  Intinya, semua tertawa riang bergembira. Namun, sabda alam selalu mengajarkan harmoni. Bahwa bersama keramaian, selalu membonceng kesunyian. Di balik kegembiraan, sesungguhnya mengintip kesedihan.

(more…)

PILIHAN

Posted: October 4, 2009 in opini

memilih“Hidup adalah kesediaan menerima akibat pilihan” kata seorang teman. Tidak salah. Karena dalam hidup ini kita senantiasa dihadapkan kepada pelbagai pilihan. Mulai bangun tidur hingga kembali ke peraduan kita mesti menentukan banyak pilihan. Dari urusan yang remeh-temeh seperti baju apa yang hendak kita pakai sampai urusan yang paling prinsipil: kepada siapakah mesti menyembah.

(more…)

ABDAN SYAKURA

Posted: October 3, 2009 in opini

Suatu malam ummul mukminin, Aisyah ra terbangun dari tidurnya dan mendapati Rasulullah saw sedang menangis memberihebat dalam kesungguhan shalat lailnya hingga, konon, jenggot beliau basah kuyup oleh airmata. Tidak kuasa menyaksikan sang pujaan terlihat begitu, Aisyah pun bertanya penasaran: “Wahai Rasulullah, apa kiranya yang membuat Anda melakukan ini? Tidakkah Allah telah mengampuni dosamu yang telah lalu maupun yang akan datang?”. “Engkau benar, ya Humaira” sabda Rasulullah, “tetapi salahkah aku jika menjadi abdan syakura?”

(more…)

Kuyakin Tuhan Pun Tidak Akan Marah

Posted: October 2, 2009 in opini

senyumKEMARIN, di awal-awal bulan penuh berkah ini saya mudik sebentar. Kebetulan saya bersua dengan Kang Tejo di sebuah Colt yang akan membawa kami ke desa. Sebagaimana tradisi pesisiran, saya memanggilnya “kang” karena umurnya lebih tua dari saya. Kami akrab karena ketika kecil, sama-sama suka tidur di mushalla yang sekarang sudah menjadi masjid.

(more…)