Archive for the ‘celetukan’ Category

candleMenjalani kehidupan tak ubahnya menyusuri ketidakpastian. Gelap, apa kan diperoleh hari ini. Pekat, kapan dan di mana kan dimatikan raga ini. Ketakutan, ucap Jalaluddin Rumi, adalah keengganan menerima ketidakpastian. Padahal jika diterima, kan menjadi petualangan yang mengasyikkan..

Seperti biasanya, Kang Fik menghentikan Mitsubisi Jetstar tuanya di depan warung kopi langganan di pinggir jalan pulang seusai jenguk anak di pesantren. Yuk Na, istrinya, sebenarnya tidak setuju perjalanan terhenti, karena masih lima jam jarak tempuh sampai ke rumah. Namun filosofi kopi suaminya tak bisa ia bantah. Kopi penawar kantuk, kata Kang Fik. Kalau sopirnya ngantuk, tetap terhenti pula perjalanannya.

(more…)

Advertisements

BERSERAHHidup memang seringkali punya kaki sendiri. Tanda bukti bahwa memang ada Yang Maha Menjalankannya. Manusia hanya punya upaya, Dia-lah yang tetap punya kuasa. Hanya mereka yang berpandangan positif lalu berserahdiri-tawakkal kepada-Nya, yang tetap mampu melihat sisi indah dari setiap laju kehidupannya.

(more…)

DAN

Posted: January 5, 2018 in celetukan
Tags: , , , ,

danDia yang omongannya ceplas-ceplos, kadang nyelekit bagi pendengarnya. Dia yang kurang bisa bersabar untuk berkomentar saat melihat sesuatu tidak pas di hatinya. Dia yang terkesan lebih banyak menggurui dalam berkomunikasi daripada mendengarkan. Dia yang banyak tetangganya enggan berinteraksi bersamanya… tiba-tiba datang dan memintaku untuk mendampinginya belajar membaca qur’an. Kaget bercampur gembira, saya langsung mengabulkan permintaannya. Dan, terbentuklah saat itu “kontrak belajar” dadakan untuk berupaya shalat magrib berjamaah di musholla setiap hari, dilanjutkan belajar mengaji.

(more…)

KUAT

Posted: August 23, 2017 in celetukan, cerpen
Tags: , , , ,

kuatJarum jam menunjuk angka Setengah Sepuluh malam ketika handphone di atas meja berdering kencang. Seorang ibu separoh baya bergegas mengangkat dan melihat layarnya. Terlihat deretan nomor penelpon yang tidak ia kenali. Agak sedikit enggan ia memencet tombol hijau bergambar telepon dan menempelkan lubang speaker di telinganya sambil lembut berujar: “Hallo…”.

Tidak ada jawaban balik dari seberang. Namun yang terdengar adalah tangisan seseorang.

(more…)

MERDEKA

Posted: August 10, 2017 in celetukan, cerpen
Tags: , ,

MERDEKANama aslinya Merdeka. Mungkin karena ia orang Jawa, dipanggil Eka terasa kurang jawani. Jadinya oleh teman-teman sepermainan dipanggil Eko begitu saja. Konon ia lahir pas tanggal 17 Agustus, di saat ibunya yang pegawai kantor kecamatan sedang mengikuti upacara bendera. Tiba-tiba perutnya yang hamil besar mules dan terasa akan melahirkan. Segera dibopong oleh kawan-kawannya ke kantor dan dipanggilkan bidan. Namun, sebelum juru bantu-lahir tersebut datang, ternyata sang jabang bayi mbrojol duluan. Sedikit gemparlah kantor kecamatan dan orang-orang yang sedang upacara di depannya. Sepertinya sang jabang bayi ingin juga memperingati hari kemerdekaan RI. Untuk mengingat itu, lalu orangtuanya menamai ia dengan asma Merdeka.

 

(more…)

BERBEDA

Posted: August 6, 2017 in celetukan
Tags: , ,

berbedaYuk Na hanya bisa tersenyum ketika Bu Desi, wali kelas putrinya mengulang pertanyaan yang sudah ke sekian kali ditanyakan: “Sudah finalkah keputusan ibu memasukkan Ela ke pesantren?”

“Eman loh, Bu..” lanjut bu guru itu saat melihat Yuk Na hanya tersenyum, “Ela anaknya pintar. Prestasi non-akademiknya juga banyak. Dan punya sertifikat nasional pula. Itu cukup sebagai modal diterima di SMP atau MTs negeri unggulan di kota kita lewat jalur prestasi”

(more…)

KASIHAN

Posted: August 5, 2017 in celetukan
Tags: , ,

kasihanMbah Sum menutup diri. Tidak sekadar enggan berkomunikasi, rumahnya pun selalu ditutup rapat. Sejak kematian putra keduanya, Kang No, nenek tujuhpuluh tahun ini seakan dipaksa melakoni kehidupan seperti ini. Menyendiri dan sembunyi. Sebisa mungkin lari dari putaran nasib almarhum anaknya. Ia ada namun sedapat mungkin meniada. Setiap ketukan pintu orang asing selalu dibiarkan sia-sia. Para tetangga sebelah sungguh maklum; terjebak antara kasihan dan ketidakmampuan berbuat apa-apa kecuali serasa menjadi penyambung lidah semata. Bagai paduaan suara, tanpa diminta mereka akan berkata “tidak tahu” bagi siapa yang mencari ibu dua putra ini.

(more…)