Archive for the ‘celetukan’ Category

KUAT

Posted: August 23, 2017 in celetukan, cerpen
Tags: , , , ,

kuatJarum jam menunjuk angka Setengah Sepuluh malam ketika handphone di atas meja berdering kencang. Seorang ibu separoh baya bergegas mengangkat dan melihat layarnya. Terlihat deretan nomor penelpon yang tidak ia kenali. Agak sedikit enggan ia memencet tombol hijau bergambar telepon dan menempelkan lubang speaker di telinganya sambil lembut berujar: “Hallo…”.

Tidak ada jawaban balik dari seberang. Namun yang terdengar adalah tangisan seseorang.

(more…)

Advertisements

MERDEKA

Posted: August 10, 2017 in celetukan, cerpen
Tags: , ,

MERDEKANama aslinya Merdeka. Mungkin karena ia orang Jawa, dipanggil Eka terasa kurang jawani. Jadinya oleh teman-teman sepermainan dipanggil Eko begitu saja. Konon ia lahir pas tanggal 17 Agustus, di saat ibunya yang pegawai kantor kecamatan sedang mengikuti upacara bendera. Tiba-tiba perutnya yang hamil besar mules dan terasa akan melahirkan. Segera dibopong oleh kawan-kawannya ke kantor dan dipanggilkan bidan. Namun, sebelum juru bantu-lahir tersebut datang, ternyata sang jabang bayi mbrojol duluan. Sedikit gemparlah kantor kecamatan dan orang-orang yang sedang upacara di depannya. Sepertinya sang jabang bayi ingin juga memperingati hari kemerdekaan RI. Untuk mengingat itu, lalu orangtuanya menamai ia dengan asma Merdeka.

 

(more…)

BERBEDA

Posted: August 6, 2017 in celetukan
Tags: , ,

berbedaYuk Na hanya bisa tersenyum ketika Bu Desi, wali kelas putrinya mengulang pertanyaan yang sudah ke sekian kali ditanyakan: “Sudah finalkah keputusan ibu memasukkan Ela ke pesantren?”

“Eman loh, Bu..” lanjut bu guru itu saat melihat Yuk Na hanya tersenyum, “Ela anaknya pintar. Prestasi non-akademiknya juga banyak. Dan punya sertifikat nasional pula. Itu cukup sebagai modal diterima di SMP atau MTs negeri unggulan di kota kita lewat jalur prestasi”

(more…)

KASIHAN

Posted: August 5, 2017 in celetukan
Tags: , ,

kasihanMbah Sum menutup diri. Tidak sekadar enggan berkomunikasi, rumahnya pun selalu ditutup rapat. Sejak kematian putra keduanya, Kang No, nenek tujuhpuluh tahun ini seakan dipaksa melakoni kehidupan seperti ini. Menyendiri dan sembunyi. Sebisa mungkin lari dari putaran nasib almarhum anaknya. Ia ada namun sedapat mungkin meniada. Setiap ketukan pintu orang asing selalu dibiarkan sia-sia. Para tetangga sebelah sungguh maklum; terjebak antara kasihan dan ketidakmampuan berbuat apa-apa kecuali serasa menjadi penyambung lidah semata. Bagai paduaan suara, tanpa diminta mereka akan berkata “tidak tahu” bagi siapa yang mencari ibu dua putra ini.

(more…)

KEMBALIAN

Posted: January 30, 2017 in celetukan
Tags: , , ,

kembalianYuk Na merasa sangat khawatir. Sambil menggendong oroknya ia mondar-mandir, gelisah. Jarum jam di dinding menunjuk angka 1.30 siang, namun si Endut, anak keduanya tak kunjung pulang ke rumah. Ia kontak HP suaminya berkali-kali, namun hanya suara perempuan penunggu telepon yang tidak bosan meminta maaf. Mau menyuruh anak sulungnya untuk mencari sang adik, ia sedang diajak ke rumah Budenya. Mau berangkat sendiri, hari sedang hujan lebat disertai petir bersahutan. Hati Yuk Na semakin galau, tak karuan.

Tidak seperti biasanya, si Endut pulang lama seusai shalat Jum’at. Yuk Na teringat anak lelaki yang baru duduk di bangku TK itu saat berangkat jum’atan. Ia meminta uang untuk dimasukkan kotak amal sebagaimana Yuk Na ajarkan. Ia beri selembar uang Rp. 5000an karena tidak ditemukan di dompet lembaran atau recehan Rp. 2000an. Namun sampai sekarang mengapa anak itu belum juga kembali ke pangkuannya. Yuk Na semakin gelisah.

(more…)

GOBLOK [3]

Posted: January 29, 2017 in celetukan
Tags: , ,

boblok1Sungguh semakin saya mengamati kebiasaan hidup Mbah Jiman, semakin tidak bisa mengerti. Jadinya… yang goblok itu saya atau dia? Kalau boleh sedikit sombong, mungkin dialah yang goblok. Bagi saya, definisi goblok itu gampang saja. Siapa yang tidak menggunakan akal rasionya dalam melakoni kehidupan, dialah yang goblok. Dan saya kira itu cocok dengan apa yang pernah dikatakan orang tua itu: “Jalani saja hidup ini secara goblok!”.

(more…)

GOBLOK [2]

Posted: January 21, 2017 in celetukan
Tags: , ,

goblok-2“Tolong buka kacanya, Dul” pinta Mbah Jiman kepadaku saat ada pengemis mendekati mobil kami yang sedang berhenti di bawah lampu merah.

Kubuka kaca jendela di samping kiri Mbah Jiman secara otomatis dari sentral lock di sebelah kananku. Ia merogoh kantong bajunya dan dengan cepat ia berikan lembaran Sepuluh Ribu rupiah kepada sang pengemis, seraya berucap: “Nyuwun pandongane, Bu njih…

Agak terkejut, sang pengemis cepat menyambar lembaran merah itu. Ia hanya menunduk, tanpa berucap satu katapun. Lalu segera berpindah ke mobil berikutnya.

“Tidak salah, Mbah?” tanyaku sambil pelan kuinjak gas mobil saat lampu hijau menyala, “Uang Sepuluh Ribu akan memanjakan mereka untuk tetap menjadi pengemis loh”

“Ya, sekali-kali menyenangkan pengemis kan yo… apik toh, Dul?” jawabnya tidak serius.

(more…)