MENIKAH, KODRAT SEMESTA PENUH BERKAH

Posted: August 28, 2017 in do'a, Renungan
Tags: , , ,

Adinda mempelai berdua,

pernikahanSebelum kado ini kutuliskan teruntuk kalian berdua, kupanjatkan do’a yang diajarkan Rasulullah SAW: “Barakallahu lak wa baraka alaik wajama’a bainakuma fi khair”. Semoga Allah memberkahi kalian dalam suka dan dukanya membangun rumah tangga, amin..

Do’a di atas menunjukkan kepada kita bahwa ada keberkahan yang berlimpah di dalam pernikahan yang penuh harap akan ridha Allah SWT. Di dalam suka-gembira kebersatuan kalian berdua ada berkah; di dalam duka-nestapa kebersamaan kalian berdua juga ada berkah. Berkah itu dari kata Arab “barakah” yang berarti “an-nama’ waz ziyadah” (tumbuh dan berkembang), yakni semakin menetap kebaikan ilahiyah dan tumbuh bersinambungan di dalamnya (Imam an-Nawawi). Atau “Ziyadatul khair ma’al khair”, bertambahnya kebaikan ilahiyah bersama kebaikan sebelumnya (Imam al-Ghazali). Dari itu, tahnia teruntuk kalian berdua dalam curahan berkah pernikahan.

Adinda mempelai berdua,

Ada limpahan berkah (kebaikan ilahiyah) di dalam pernikahan, karena ialah fitrah semesta dan tradisi para nabi.  Dalam bahasa Indonesia pernikahan disebut perkawinan, dari kata “kawin” yang berarti: 1) membentuk keluarga dengan lawan jenis; bersuami atau beristri; 2) melakukan hubungan kelamin; dan 3) bersetubuh (KBBI: 456). Intinya, ada kebersatuan, saling melengkapi dan menyempurnakan dalam keberpasangan. Alam semesta dikodratkan demikian, pun manusia juga begitu.

Ada langit ada bumi. Berpasangan untuk saling memberi dan melengkapi. Lahirlah keberkahan, berupa kebaikan dan keindahan. Langit (Arab: as-Sama’. Merepresentasikan kualitas kebapakan, mudzakkar) memberikan curahan hujan kepada bumi (Arab: al-‘Ardl. Merepresentasikan kualitas keibuan, mu’annats) lalu bumi mengolah dengan hujan itu biji-bijian sehingga tumbuhlah pelbagai jenis tanaman, tetumbuhan, rerumputan, bebungaan yang terus menjadi kebaikan dan keindahan bagi makhluk hidup di atas persada ini.

Ada siang ada malam. Dua kualitas yang juga dikawinkan, untuk berpasangan, saling memberi dan melengkapi. Lahirlah dari pernikahan itu keberkahan berupa kebaikan dan keindahan. Sungguh tidak bisa dibayangkan keelokan dan kelezatannya, jika dalam duapuluh empat jam hanya berisi gelap gulita, atau sebaliknya terang-benderang. Demikian pun dalam dunia binatang dan tetumbuhan, juga ada kodrat pernikahan. Disatukan dua atau lebih entitas berbeda untuk saling memberi dan melengkapi lalu diberkahi dengan banyak kebaikan dan keindahan.

Adinda mempelai berdua,

Manusia, yang sering disebut sebagai mikrokosmis juga build-in di dalam dirinya kodrat untuk saling menyatu antara laki-perempuan. Islam sebagai petunjuk kehidupan lalu mengaturnya dalam institusi pernikahan suci yang dinyatakan dalam al-Qur’an sebagai mitsaq ghalidz, perjanjian yang kuat (QS. 3:21). Kodrat/naluri ini dideskripsikan dengan indah oleh Ibnu Arabi sebagai hikmah batiniah terciptanya Hawa (perempuan) dari tulang rusuk Adam (laki-laki) sebagaimana tersirat dalam al-Qur’an (Surat al-Nisa` [4]:1, al-A’raf [7]:189, dan al-Zumar [39]:6) dan tersurat dalam sabda Nabi SAW: “Perlakukanlah perempuan dengan baik, karena perempuan diciptakan dari tulang rusuk yang paling bengkok adalah bagian yang paling atas, maka jika kalian mencoba untuk meluruskannya, ia akan patah, tetapi jika kalian membiarkannya sebagaimana adanya, ia akan tetap bengkok, maka perlakukanlah perempuan dengan baik” (HR. Bukhari).

Hikmah batiniah tersebut berupa cinta dan kecenderungan-kegandrungan antara laki-perempuan untuk saling menyatu dan menyempurnakan. Ketika lelaki mencintai perempuan, cenderung dan gandrung kepadanya, sesungguhnya itu adalah ekspresi dari kesadaran batiniahnya bahwa perempuan adalah bagian dari dirinya. Sebaliknya juga demikian, ketika perempuan mencintai lelaki, cenderung dan gandrung kepadanya, sesungguhnya itu adalah ekspresi dari kesadaran batiniahnya bahwa lelaki adalah muasal dirinya. Karenanya, kodrat natural ini tidak bisa ditolak. Siapa yang menafikannya atau menyelewengkannya, maka ia akan terjatuh dalam kemiskinan. Menjauh dari kesempurnaan agama sebagai ummat Muhammad.

Diriwayatkan oleh al-Imam bin Abid Dunya dalam bukunya “al-‘Iyal” (No. 128) bahwa Rasulullah bersabda: “miskin, miskin, miskin… lelaki yang tidak beristri”. Para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, walaupun ia banyak harta?”. Rasulullah SAW menjawab: “Walaupun ia banyak harta. Dan miskin, miskin, miskin… perempuan yang tidak bersuami”. Para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah.. walaupun ia kaya dengan harta berlimpah?”. Rasulullah SAW menjawab: “Walaupun kaya, berlimpah” (diriwayatkan juga oleh: al-Baihaqiy dalam “Sya’bul Iman IV (5483)”; ath-Thobroniy dalam “al-Mu’jam al-Awsath VI (6589)”).

Diriwayatkan dari Anas bin Malik, Rasulullah SAW bersabda: ”Jika menikah seorang hamba, maka ia telah menyempurnakan separoh agamanya, dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam (menyempurnakan) separuh yang tersisa” (HR. ath-Thobroniy dalam “al-Mu’jam al-Awsath I (162)”; al-Albaniy dalam “as-Silsilah ash-Shahihah II (199)” menilainya sebagai hasan lighairih)

Selain itu, siapa yang menafikan/menolak naluri alamiah ini diancam oleh Rasulullah SAW sebagai orang yang tidak mengindahkan sunnahnya (tradisinya), dan tidak dianggap sebagai bagian dari ummatnya. Rasulullah SAW bersabda sebagaimana diriwayatkan secara mashur: “Wallahi, sayalah di antara kalian yang paling takut dan paling bertaqwa kepada Allah, tetapi saya berpuasa dan berbuka, saya shalat, tidur dan mengawini perempuan. Barang siapa yang membenci sunnahku maka dia bukan bagian dariku” (HR. al-Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi, an-Nasa’iy, dan Ahmad dari Anas bin Malik).

Adinda mempelai berdua,

Dari itu, tepatlah kiranya jika kalian berdua bergegas mensahkan kodrat semesta ini dalam kehidupan kalian melalui syari’at pernikahan yang dituntunkan kepada manusia. Karena walaupun cinta dan kecendrungan saling menyatu adalah naluri alamiah tetapi sebagai makhluk yang dianugerahi iman dan kebermaknaan, tidak selayaknya memperturutkannya secara liar seperti binatang. Ada legalitas ilahiah yang dituntunkan oleh agama agar perkawinan berproses penuh berkah. Peliharalah kesakralannya dengan kesadaran untuk saling menyempurnakan dalam meniti perjalanan bersama kembali kepada-Nya. FainsyaAllah.. bahtera rumahtangga kalian akan berjalan dengan sakinah (tenang, damai), mawaddah (penuh cinta-kasih) dan rahmah (penuh anugerah ilahiah). Amin ya Rabbal ‘Alamin…

Tahnia. Selamat menempuh hidup baru! Rasakan kehalalan nuansanya dan maknai, niscaya kalian akan temukan banyak kejutan keberkahan di dalamnya. Wa Allahul musta’an..[]

Joyosuko Metro, 28 Agustus 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s