KUAT

Posted: August 23, 2017 in celetukan, cerpen
Tags: , , , ,

kuatJarum jam menunjuk angka Setengah Sepuluh malam ketika handphone di atas meja berdering kencang. Seorang ibu separoh baya bergegas mengangkat dan melihat layarnya. Terlihat deretan nomor penelpon yang tidak ia kenali. Agak sedikit enggan ia memencet tombol hijau bergambar telepon dan menempelkan lubang speaker di telinganya sambil lembut berujar: “Hallo…”.

Tidak ada jawaban balik dari seberang. Namun yang terdengar adalah tangisan seseorang.

“Hallo… ini Mas Adib?” tanya Lik Jum, ibu separoh baya itu dengan hati penuh tanda tanya tentang putra pertamanya yang baru dua pekan ia ikhlaskan belajar di pesantren.

“Iya, Ma…. Hik hik hik” suara dari seberang sambil terus menangis. Hati Lik Jum seperti es cream yang meleleh. Teringat ia tentang Adib, putra pertamanya yang walaupun tamatan SD namun begitu tegar saat ia tinggalkan di pesantren setelah dinyatakan lulus tes masuk, kini di hadapannya tampak rapuh.

“Iya, Mas. Ada apa sayang?” kata Lik Jum menguatkan diri agar tidak terlihat lemah di depan anaknya, walaupun sebagai seorang ibu sesungguhnya ia tidak pandai berbohong seperti ini.

“Hik hik hik…” Sang anak terus menangis, “hik hik hik hik”.

“Iya, Mas. Ada apa, Sayang? Ngomong dong, Sayang…” ujar Lik Jum sambil air matanya mulai ikut menetes.

“Hik hik hik…” dari seberang, sang anak terus menangis dan menangis, “hik hik hik hik”.

“Ya, sudah. Mama akan sabar mendengar tangisan Mas Adib…” ucap Lik Jum sambil menyeka air matanya dengan tisu.

Dalam hati, ibu beranak tiga ini bertekad tidak boleh meleleh oleh keadaan. Apapun yang terjadi pada anaknya di pesantren, ia tidak boleh kalah oleh suasana kebatinannya sendiri. Jika ia berharap anaknya tumbuh menjadi manusia kuat maka ia harus tampak lebih kuat daripada anaknya. Dan sumber dari kekuatan seseorang adalah keikhlasannya dalam mengarungi samudra kehidupan.

Keikhlasan inilah yang akan membuahkan carapandang positif kepada Tuhan dan kehidupan. Husnudz-dzan ini akan menghasilkan pikiran positif. Pikiran positif akan menumbuhkan tindakan bajik. Prilaku bajik yang terus diulang akan menjadi kebiasaan bijak. Kebiasaan bijak yang telah menyandu akan menjadi akhlaq terpuji sepanjang hayat. Akhlaq mulia inilah paket lengkap kesuksesan seseorang dunia-akhirat.

Tangisan perdana anaknya kali ini, bagi Lik Jum, tidak boleh menghancurkan keikhlasan yang telah dibulatkan sejak awal nawaitu mondokkan anak di pesantren. Teringat ia tentang kisah ketegaran ibunda Imam Syafi’i kala melepas putranya menuntut ilmu ke Iraq. Pesan sang ibunda kepada Syafi’i kecil: “Kita akan bertemu lagi di akhirat kelak” mengajarkan tentang keikhlasan tersebut. Bahwa anak memang terlahir dari raga ibundanya, tetapi bukan milik orang tuanya. Ia anak kehidupannya, dan Allahlah Pemilik Sejati kehidupan itu. Maka yakinlah secara positif, Tuhan akan menuntunnya dan kehidupan akan menjadi gurunya. Orang tua hanyalah motivator, katalisator dan dinamisator semata. Lik Jum bertekad memainkan peranan itu dengan kuat dan tegar, walaupun sesekali harus menyeka air mata.

Tiba-tiba tangisan dari seberang terhenti. “Hallo… Mas Adib…” ucap Lik Jum, “Ada apa, Sayang..? bicara dong, Sayangku…”

“Saya sakit, Ma… hik hik hik” kata Adib lalu menangis lagi.

“Sakit apa, Sayang?” tanya Lik Jum dengan sabar.

“Wajahku luka-luka. Rasanya panas sekali seperti terbakar. Tadi malam sepertinya saya digigit Tomcat” lalu menangis lagi.

“Iya, Sayang. Tidak apa-apa, sebentar juga akan sembuh” kata Lik Jum sambil terus menguatkan diri agar tidak terdengar isak dan sedihnya di telinga putranya, walaupun sesekali ia harus menyeka air matanya. . “Coba bawa ke balai kesehatan pesantren ya, Sayang… agar dicek dokter dan diberi obat”

“Sudah, Ma. Sudah diberi obat. Tapi sakit dan panasnya…”

“Ditahan ya Sayang… bersabar, sebentar juga akan sembuh”

“Mama kapan ke sini?” tanya Adib.

“Iya Sayang… nanti kalau Papa ada libur kerja, kami kan segera ke pondok”

“Jangan lama-lama, Ma. Di sini berat sekali..” rengek Adib.

“Iya, Sayang. Nanti Mas Adib lama-lama juga akan terbiasa dan jadi ringan. Coba cari teman yang banyak ya.. dan ikuti banyak kegiatan yang Mas Adib senangi, nanti akan terasa enaknya hidup di pondok”

“Sudah, Ma ya… sudah Jaros! Wassalamu’alaikum” terdengar suara telepon dimatikan.

Wa’alaikum salam..” jawab Lik Jum seorang diri. Terbayang bagaimana anaknya yang selama ini tidak pernah berjauhan dengannya, harus berjuang melawan sakit sendirian. Berjuang melawan beratnya hidup di pondok sendirian: Harus bangun pagi sebelum waktu subuh; harus antri di sana sini; harus melahap makanan yang selama ini tidak pernah terdaftar dalam selera kulinernya; harus datang di masjid, di kelas, di lapangan, di dapur, dan di pelbagai lokus kegiatan dengan tepat waktu; harus mengerti ritme pergantian waktu kegiatan yang termaknai dalam istilah “jaros” dengan tamam; harus mencuci pakaian sendiri; harus mandi dan BAB di kamar kecil yang tidak sebersih di rumah orang-tuanya; harus memaksa diri berbicara dengan bahasa yang bukan milik ibunya; harus mengendalikan amarah kala konflik dengan kawannya; harus segera mengondisikan diri dengan cantik saat sandal, pakaian, buku atau barang pribadi lainnya dighosob, hilang atau berpindah tangan; harus menahan malu bercampur “sakit hati” saat mendapat hukuman kala melanggar aturan; dan pelbagai keharusan-keharusan yang lain.

“Tetapi, sudahlah” bisik Lik Jum jauh di kedalaman nuraninya. Ia harus mengikhlaskan. Karena semua itulah, insyaAllah… yang mendidik anaknya tumbuh menjadi manusia kuat, petarung sejati sebagai anak zamannya yang kelak akan menundukkan kejamnya kehidupan di bawah bayang-bayang suksesnya dunia-akhirat. “Allahumma amin…” Lik Jum terkapar lunglai dalam munajat di sepertiga malamnya.[]

Joyosuko Metro, 23 Agustus 2017.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s