MEMAKNAI [kembali] KEMERDEKAAN

Posted: August 18, 2017 in Renungan
Tags: , ,

KEMERDEKAAN17 Agustus 72 tahun yang lalu, Soekarno Hatta atas nama bangsa Indonesia ikrarkan kemerdekaan negeri ini dari segala bentuk penjajahan bangsa lain. Tiga abad lamanya bangsa ini telah belajar dari tangis-pedih; dari duka-nestapa; dan dari derita-kematian para pejuang kemerdekaan bahwa api jihad haruslah selalu dikobarkan terhadap segala bentuk penindasan dan kedhaliman manusia atas manusia di atas bumi pertiwi ini.

Kini, setelah 7 decade sang saka merah putih berkibar bersama silih bergantinya rejim kepemimpinan oleh anak negeri sendiri, menyeruak satu tanya mendasar di lubuk hati: “Benarkah kita telah merdeka?”

Satu tanya yang layak mengemuka mengingat negeri Indonesia nan membentang luas anak pantainya, garam begitu langka dan mahal harganya.

Satu tanya yang lazim membuat kita tak bisa lagi jaim, mengingat negeri Indonesia nan begitu kaya hasil buminya, hasil lautnya, hasil tambangnya ternyata bukan milik anak-bangsanya.

Satu tanya yang wajar jika selalu diudar, melihat negeri Indonesia yang konon terlimpah bonus demografi, ternyata setiap bayinya sudah harus menanggung beban utang luar negeri.

Satu tanya yang sering membuat kita tak mampu lagi cerdas berpikir, menyaksikan negeri Indonesia yang gerak pengorbanan para pahlawannya di saat dahulu mengusir kaum penjajah tak bisa dilepaskan dari kalimat tauhid dan takbir, kini ucapan itu serasa dibenci oleh anak negeri karena imaji tingkat tinggi tentang radikalisme dan terorisme.

Benarkah kita sudah merdeka?

Kata Merdeka dari bahasa Sansakerta “Mahardika” yang berarti “pandai, terhormat, bijaksana dan tidak tunduk kepada seseorang selain raja dan Tuhan”. Dalam Kitab Nitisastra IV.19: “Mahardika” menunjuk contoh pada para pendeta yang telah melepaskan diri dari kekuasaan nafsu keduniawian. Para pendeta di jaman dahulu mendapat tanah tempat tinggal yang disebut “tanah perdikan” untuk mengamalkan agamanya,tanah bebas dari pajak, karena ia sudah mahardhika.

Dari bahasa Melayu, Merdeka berasal dari kata merdika. Yang berarti, “bebas, baik dalam pengertian fisik, kejiwaan, maupun dalam arti politik”.

Dalam bahasa Inggris, Merdeka disepadankan dengan kata “Independent”. Dependent artinya bergantung. In-dependent “tidak bergantung”.

Dalam bahasa Arab, Merdeka disamakan dengan kata istiqlal. Asal katanya “qalla-yaqillu” berarti sedikit. Dan istaqalla = meminta sedikit atau menyedikitkan (ketergantungan).

Jadi, secara sederhana, inti kemerdekaan itu adalah sedikitnya kebergantungan. Sekarang mari kita lihat diri kita sendiri. Sebagai bangsa, sebagai negara, seberapa besar tingkat kebergantungan kita kepada bangsa lain? Mari kita renungkan..

Sesungguhnya Islam telah mengajarkan dan menekankan kemerdekaan dalam laku keberagamaan sehari-hari kita. Dari rukun Islam yang biasa kita praktikkan, misalnya. Ada pembelajaran tentang makna pentingnya menjadi manusia dan bangsa yang merdeka:

Pertama, Syahadat. Syahadat yang bermakna kesaksian merupakan penekanan ideologis manusia mahardika. Kalimat La ilaha yang berarti “tiada tuhan (yang hak untuk disembah dan digantungi) merupakan ikrar kemerdekan, ikrar pembebasan dari segala ikatan apapun. Illa Allah “kecuali Allah” menegasan, hanya bergantung kepada Allah kita menjadi manusia pandai, terhormat, bijaksana, aman, damai sejahtera.

Dalam konteks bernegara, kesaksian itu meneguhkan cita tentang negeri yang merdeka, yaitu baldatun thoyyibatun wa rabbun ghafur. Yaitu negeri yang makmur, gemah ripa lohjinawi dan selalu hanya bergantung kepada Allah semata, sehingga Yang Maha Ghafur selalu melindunginya. Mesir zaman Fir’aun adalah negeri yang makmur gemah ripa lohjinawi, tetapi tidak merdeka karena terikat, terjajah dan bergantung kepada Fir’aun yang mengaku Tuhan. Akibatnya, Allah tidak melindunginya. Dan berakhir binasa, tinggal piramida sebagai sisanya.

Kedua, Shalat. Juga merupakan praktik pembelajaran menjadi manusia mahardika. Di dalam al-Qur`an (QS. An-Nisa 103) Allah berfirman: إِنَّ الصَّلاَةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَّوْقُوتًا “Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban atas orang-orang mukmin yang sudah ditentukan (waktu, gerakan dan bacaannya). Tidak boleh sak karepe dewe dalam melaksanakan shalat. Ini mengandung makna: “jangan terikat dgn selain Allah!” Merdekakan dirimu dari apapun selain Allah, apalagi dengan sekadar pekerjaan. Karenanya, kita tinggalkan untuk sementara apapun aktivitas pekerjaan kita untuk bermuwajahah dengan Allah dalam shalat kita saat adzan dikumandangkan.

Ketiga, zakat. Juga merupakan praktik pembelajaran menjadi manusia mahardika. Pelajaran tentang kemerdekaan darinya ialah “jangan terikat dgn selain Allah!” Merdekakan dirimu dari apapun selain Allah, apalagi dengan sekadar harta, kekayaan! Semuanya tidak bisa menghantar kepada kebahagiaan hakiki.

Keempat, puasa/shiyam. Juga merupakan praktik pembelajaran menjadi manusia mahardika. Pelajaran tentang kemerdekaan darinya ialah “jangan terikat dgn selain Allah!” Merdekakan dirimu dari apapun selain Allah, apalagi dengan sekadar mulut dan yg di bawah perut (seks)! Sabda Nabi: “Ada dua hal yg akan banyak menjerumuskan manusia: mulut dan kemaluan mereka” Betapa banyak kedzaliman dan penjajahan manusia atas manusia terjadi karena mulut (lisan) dan kemaluan (hasrat seksual).

Dan terakhir, haji. Juga merupakan praktik pembelajaran menjadi manusia mahardika. Pelajaran tentang kemerdekaan darinya ialah “jangan terikat dgn selain Allah!” Merdekakan dirimu dari apapun selain Allah, apalagi dengan prestise, pangkat jabatan, strata sosial-ekonomi, dan lain-lain. Pertaruhkan cinta dan ketaatanmu hanya kepada Allah semata. Tinggalkan itu semua. Tanggalkan cintamu pada itu semua di bawah cintamu kepada Allah semata, niscaya kamu akan merdeka, bahagia, damai dan sentosa. Nabi SAW bersabda (HR. bukhari [14]): لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِين  “Tidak beriman salah seorang di antara kamu sebelum aku lebih dicintainya daripada anaknya, orang tuanya dan semua manusia

Sesungguhnya beliau SAWmenegaskan apa yang difirmankan oleh Allah dalam QS at-Taubah: 24, yang berbunyi:

قُلْ إِنْ كاَنَ آباؤُكمْ وَ أَبْناؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُم وَ أَزْوَاجُكُم وَعشِيْرَتُكُم وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهاَ وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَساَدَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللهِ وَ رَسُوْلِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيْلِهِ  فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللهُ بِأَمْرِهِ  وَاللهُ لاَ يَهْدِي القَوْمَ الفَاسِقِيْنَ

“Katakanlah, jika orangtua-orangtua kalian, anak-anak kalian, saudara-saudara kalian, istri-istri kalian, kaum kerabat kalian, kekayaan yang kalian usahakan, perdagangan yang kalian takutkan kerugiannya, dan tempat tinggal yang kalian senangi lebih kalian cintai daripada Allah dan rasul-Nya dan dari jihad di jalan-Nya, tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya, dan Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang yang fasik”

 

Dari uraian di atas, tampak kita belum merdeka, baik sebagai diri maupun bangsa. Memang kita tidak lagi terjajah secara jasadiah, tetapi ruh kita, jiwa kita terjajah oleh hawa nafsu kebiadaban kita sendiri. Dan wujud penjajahan hari ini tampaknya mengambil pola dan bentuk yang terbarukan.

Jangan membayangkan Penjajahan dan peperangan itu berupa penindasan fisik seperti zaman lampau, walaupun di beberapa belahan bumi hal ini masih terjadi. Tetapi kecenderungan wujud penjajahan hari ini sudah mulai bergeser pada apa yang disebut oleh Panglima TNI sebagai “perang asimetris”. Contoh kongkrit dari korban penjajahan masa kini itu adalah Negara Yunani. Kalah dan bangkrut.

Menurut pakar, pola penjajahan masa kini mewujud dalam 3 strategi: Pertama, membelokkan sistem sebuah negara sesuai arah kepentingan kolonialisme/ kapitalisme. Kedua, melemahkan ideologi serta pola pikir rakyatnya. Dan ketiga, menghancurkan ketahanan pangan, jaminan pasokan dan ketahanan energy sebuah bangsa, serta menciptakan ketergantungan negara target kepada negara lain.

Tampak jelas sudah dari 3 strategi di atas, bangsa kita termasuk yang sedang terancam dengan penjajahan model baru ini. Dari itu, mari kita selalu mawas diri. Karena sesungguhnya musuh terberat kita bukanlah mereka yang menyerang dari luar benteng tetapi mereka yang menyergap senyap dari dalam diri kita sendiri. Dan itulah hawa nafsu kita! Serangan penjajahan model baru ini tidak akan bisa meruntuhkan bangsa ini senyampang anak negeri tidak terkalahkan oleh egonya sendiri, ego kelompok dan golongannya sendiri. Bersama itu, kita kuatkan ukhuwwah islamiyah, ukhuwwah wathaniyyah dan ukhuwwah basyariah di antara anak bangsa. Mari kita pandang secara positif setiap keberbedaan antar-kita dengan saling menghormati dan menguatkan fainsyaAllah akan menjadi rahmat, bukan laknat[].

Joyosuko Metro, 18 Agustus 2017.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s