MERDEKA

Posted: August 10, 2017 in celetukan, cerpen
Tags: , ,

MERDEKANama aslinya Merdeka. Mungkin karena ia orang Jawa, dipanggil Eka terasa kurang jawani. Jadinya oleh teman-teman sepermainan dipanggil Eko begitu saja. Konon ia lahir pas tanggal 17 Agustus, di saat ibunya yang pegawai kantor kecamatan sedang mengikuti upacara bendera. Tiba-tiba perutnya yang hamil besar mules dan terasa akan melahirkan. Segera dibopong oleh kawan-kawannya ke kantor dan dipanggilkan bidan. Namun, sebelum juru bantu-lahir tersebut datang, ternyata sang jabang bayi mbrojol duluan. Sedikit gemparlah kantor kecamatan dan orang-orang yang sedang upacara di depannya. Sepertinya sang jabang bayi ingin juga memperingati hari kemerdekaan RI. Untuk mengingat itu, lalu orangtuanya menamai ia dengan asma Merdeka.

 

Namun, tak selamanya nama berbanding lurus dengan alam nyata. Kang Eko hari ini, tepat pada hari ulangtahunnya, harus meringkuk di tahanan polsek setempat, dengan tuduhan yang tidak remeh: menghina simbol negara. Nama boleh merdeka, namun kebebasannya saat ini terpenjara.

***

“Apakah Kang Eko telah mengucapkan ujaran atau tulisan penghinaan kepada presiden?” tanyaku pada Yuk Tin, isterinya saat malam hari kujenguk bersama Lik Pon di rumahnya.

“Tidak” jawab Yuk Tin.

“Menginjak-nginjak bendera merah putih?”

“Tidak”

“Menambah tulisan La ilaha illa Allah pada bendera merah putih?”

“Tidak”

“Memelesetkan lirik Indonesia Raya?”

“Tidak”

“Lalu apa sebabnya, Yuk..??” tanyaku penasaran.

Sambil menahan sedih juga geli, Yuk Tin berkata: “Pagi tadi Kang Eko mungkin terlalu bersemangat merayakan ulangtahun kemerdekaan RI hingga menyanyikan lagu Indonesia Raya di sungai belakang rumah…”

“Apakah salah, menyanyikan Indonesia Raya di sungai?” tanyaku, menghentikan ucapan Yuk Tin.

“Bukan itu sebab Kang Eko ditangkap”

“Lalu apa, Yuk?” desakku.

“Menyanyikannya sambil buang hajat” jawab Yuk Tin, singkat.

Hampir saja saya meledak dalam tertawa jikalau tidak segera kubungkam ini mulut. Kulirik Lik Pon juga senyam-senyum, ngempet. Baru kali ini saya menemukan ada orang menyanyikan lagu kebangsaan sambil berindehoi di jamban atas sungai.

“Tetapi” kata Lik Pon sepontan pada Yuk Tin, “Terlepas dari sopan tidaknya, pantas tidaknya cara ia mengekspresikan, sepertinya Kang Eko adalah pecinta sejati NKRI”

“Jangan ngawur Sampean, Pon! Atau tidak perlulah menghibur diriku”sanggah Yuk Tin sambil mengusap matanya yang lembab, “Mana ada, orang didakwah menghina negara kok sejatinya pecinta Negara?”

Pertama” jawab Lik Pon memberi argumentasi, “Siapa yang sedang mencinta banyaklah ia menyebut kekasihnya. Eksistensi sang kekasih sudah me-wihdatil wujud di dalam dirinya. Sehingga di manapun dan bersama siapapun ia selalu merasa berkesadaran akan objek cintanya. Kalau sudah begitu, maka hatinya, lisannya, gerakannya sudah tidak terikat dengan kondisi dan suasana. Saya yakin, bagi Kang Eko lantunan Indonesia Raya adalah ungkapan cintanya. Dan tidak harus terikat dengan suasana formal di gedung DPR, istana Negara, balai pertemuan atau lapangan sepakbola, tapi juga di ruang dan dalam suasana yang sangat pribadi seperti kamar kecil..”

“Walah.. Jan ngawur tenan awakmu, Pon!” Ujar Yuk Tin sedikit nyengir, setengah tidak percaya.

Kedua” lanjut Lik Pon, “tiada yang lebih ikhlas dari orang yang sedang buang hajat. Ia mengeluarkan sesuatu tetapi merasa tidak kehilangan bahkan sangat senang sekali. Plong, bisa menyalurkan dorongan dari dalam”

“Terus.. hubungannya apa, Lik, sama Kang Eko?” Tanyaku.

“Dengan menyanyikan lagu kebangsaan saat BAB, Kang Eko ingin menunjukkan bahwa mencintai NKRI itu mesti ikhlas. Tidak pamrih. Tidak Koyok-koyoke paling NKRI. Mulutnya lantang berteriak-teriak ‘aku semprul, aku Indonesia’, eh ternyata ada kepentingan golongan, ada kepentingan kelompok di dalamnya..”

“Masalahnya, Pon…” potong Yuk Tin, “tetap saja argumentasi seperti itu tidak bisa menghalangi suamiku dari dakwaan menghina simbol negara..”

“Iya, sih… tapi setidaknya kita bisa belajar..” ujar Lik Pon.

“Belajar apa? Belajar menikmati kehilangan?” bantah Yuk Tin, lalu meledaklah tangisnya mengingat sampai malam begini Kang Eko tidak kunjung pulang.

Assalamu’alaikum” tiba-tiba terdengar suara Kang Eko dari luar pintu.

Setengah tidak percaya, seisi rumah saling berpandangan lalu cepat bergegas keluar. Tampak Kang Eko berdiri sumringah. Wajahnya berseri, tidak tampak ada bekas tanda-tanda ketakuan. Yuk Tin melihat suaminya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Utuh. Tak ada yang cuil sedikitpun. Hilang sudah dari benaknya ingatan buruk tentang drama penangkapan suaminya pagi tadi. Lekas ia memeluk suaminya, erat sekali sambil air matanya bercucuran. Bahagia.

“Bagaimana Kang?” tanyaku setelah emosi Yuk Tin mereda.

“Bagaimana apanya, Dul?” jawab Kang Eko balik bertanya.

“Rasanya meringkuk di Polsek”

“Siapa yang ditahan di Polsek?”

“Lha, tadi pagi Kang Eko ditangkap dan ditahan begitu loh?” desakku.

“Saya tidak ditahan, Dul. Tapi dijemput dengan penuh kehormatan ke Polsek”

“Untuk apa?” tanyaku penasaran.

“Untuk memberi kuliah pagi”

“Tentang apa, Kang?”

“Internalisasi Nilai-nilai BAB dalam Bela Negara: Tinjauan Filosofis-praksis” jawabnya, mantap. Dan kami pun pura-pura percaya hehehe.[]

Joyosuko Metro, 10 Agustus 2017.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s