BERBEDA

Posted: August 6, 2017 in celetukan
Tags: , ,

berbedaYuk Na hanya bisa tersenyum ketika Bu Desi, wali kelas putrinya mengulang pertanyaan yang sudah ke sekian kali ditanyakan: “Sudah finalkah keputusan ibu memasukkan Ela ke pesantren?”

“Eman loh, Bu..” lanjut bu guru itu saat melihat Yuk Na hanya tersenyum, “Ela anaknya pintar. Prestasi non-akademiknya juga banyak. Dan punya sertifikat nasional pula. Itu cukup sebagai modal diterima di SMP atau MTs negeri unggulan di kota kita lewat jalur prestasi”

“Iya Bu. Saya dan ayahnya sudah sangat bulat memutuskan Ela melanjutkan belajar di pesantren” jawab Yuk Na.

“Sudah tidak bisa ditinjau ulang Bu, keputusan itu?”

“Tidak!” jawab Yuk Na tegas.

“Eman loh, Bu. Saya yakin Ela bisa mendapat beasiswa full di SMP atau MTs negeri favorit”

“Maaf bu, kami orang tuanya insyaAllah masih sanggup membiayai sekalah putri kami”

“Tapi..” sanggah bu Desi, “mohon maaf, sekali lagi mohon maaf… mau jadi apa nanti Ela setamat pesantren? Paling-paling menjadi guru agama kan?…”

Yuk Na tersenyum, lalu berkata: “Bu Desi… mohon maaf, njih… Kalaupun nantinya Ela sekadar mejadi guru agama seperti ibu bilang, sebagai orang tuanya saya akan bangga. Yang penting bagi kami ia mengerti dan mampu melakoni ajaran agamanya dan bermanfaat bagi lingkungannya. Yang penting bagi kami, ia mampu membimbing dan mentalqin kami waktu naza’ sakaratul maut. Yang penting bagi kami ia mampu memandikan, merawat, menyolati dan menguburkan mayat kami saat meninggal nanti. Yang penting bagi kami, ia mau dan mampu mendoakan serta memohonkan ampunan bagi kami saat di alam kubur nanti”

Bu Desi melongo. Tidak tahu harus berkata apa. Ucapan Yuk Na seperti serangan bombardir yang tidak bisa dihentikan.

“Saya undur diri dulu, Bu” Ujar Yuk Na, “Terima kasih atas segala perhatian dan bimbingannya selama ini untuk putri saya, dan mohon maaf” Lalu Yuk Na bergegas meninggalkan ruang pembagian rapot akhir kelas enam sekolah putrinya. Selain karena sudah dijemput suaminya, juga ia enggan meladeni pertanyaan-pertanyaan Bu Desi yang cara pandangnya tentang pesantren dan pendidikan berbeda dengannya. Baginya dunia pesantren bukanlah sesempit sekolah yang dibatasi: ruang, lingkup kurikulum, pengajar, waktu dan sarana belajarnya. Pesantren adalah lembaga budi dan makna yang kurikulumnya bersifat holistik mencakup seluruh aspek kehidupan dengan waktu tidak terbatas. Apapun yang dilihat, didengar, diucapkan, dirasa, dipikir dan dilakoni santri dari tidur malam sampai tidur kembali itulah kurikulumnya. Meleknya, meremnya, sedihnya, tawanya, tangisnya, jatuhnya, bangkitnya semua adalah proses pembelajarannya. Siapa yang orientasi berpikir dan carapandangnya materialistik-kapitalistik-hedonistik tak kan mampu memahami sistem pendidikan ala pesantren ini.[]

Joyosuko Metro, 06 Agustus 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s