KASIHAN

Posted: August 5, 2017 in celetukan
Tags: , ,

kasihanMbah Sum menutup diri. Tidak sekadar enggan berkomunikasi, rumahnya pun selalu ditutup rapat. Sejak kematian putra keduanya, Kang No, nenek tujuhpuluh tahun ini seakan dipaksa melakoni kehidupan seperti ini. Menyendiri dan sembunyi. Sebisa mungkin lari dari putaran nasib almarhum anaknya. Ia ada namun sedapat mungkin meniada. Setiap ketukan pintu orang asing selalu dibiarkan sia-sia. Para tetangga sebelah sungguh maklum; terjebak antara kasihan dan ketidakmampuan berbuat apa-apa kecuali serasa menjadi penyambung lidah semata. Bagai paduaan suara, tanpa diminta mereka akan berkata “tidak tahu” bagi siapa yang mencari ibu dua putra ini.

Hidup memang terasa demikian singkat. Putaran rodanya begitu cepat dan sering membuat shock bagi siapa yang tidak siap. Serasa baru kemarin sore Mbah Sum menyaksikan Kang No hidup bahagia bersama istri dan dua anak di rumah mewah. Semua serba berlebih. Mobil dua terparkir manis di garasi. Perabot dan berbagai peralatan elektronik buah teknologi terkini menambah kecantikan rumah huni. Usaha simpan pinjamnya berpijak di puncak jaya. Hingga dengan spekulasi tingkat dewa ia mengakuisisi sehektar tanah dan bangunan bekas sekolahan di tengah kota yang tentu dengan harga takterbilang jumlah nolnya. Semakin meneguhkan prestasi dan prestise duniawi pemiliknya.

Namun, benarlah. Hanya Allah pemilik kunci kegaiban. Manusia sungguh sangat amat bodoh akan apa yang akan diperolehnya esok hari. Bahkan ia pun buta di bumi mana ia kan dimatikan. Mbah Sum dipaksa menyaksikan titik balik kehidupan Kang No, putranya. Sore masih terdudukkan di singgasana, pagi terjatuh pada titik nadir kehidupan. Terjadi rush di perusahaan simpan-pinjam Kang No. Semua nasabah ingin menarik dana simpanannya dalam waktu yang sama. Sementara dana di kas tidak mencukupi. Terjadi kekacauan. Demo nasabah yang marah bercampur kecewa hampir tiap hari di depan kantor perusahaan yang tidak lagi berpenghuni. Para pengacara dan polisi ikut masuk gelanggang. Media rajin memuat perkembangan dengan gorengan beritanya. Suasana semakin runyam.

Sementara itu, Kang No dan anak istrinya tercerai berai, masing-masing bersembunyi dari ancaman pembunuhan. Mereka berpindah-pindah dari kejaran teror. Semua aset dan kepemilikan disita kepolisian. Hingga ia terdudukkan di atas kursi pesakitan di depan pengadilan kota yang berlarut-larut dan sangat melelahkan. Akhirnya, Kang No menyerah pasrah, dibui sebatang kara tanpa upaya banding. Akibat kuatnya tekanan jiwa, badanpun mulai kurus dan melemah. Berkali-kali terserang jantung, lalu wafat di penjara.

Teringat itu semua, Mbah Sum tercekat dalam sedih. Dan lebih dari itu, ia selalu dibuat menangis tanpa keluar lagi air mata saat menyaksikan terakhir kali jenazah Kang No hendak diangkat seusai dishalati di masjid kampung kelahirannya. Tiba-tiba dari kerumunan jamaah berdiri beberapa lelaki berteriak-teriak mencari keluarga mayit dan meminta pertanggungjawaban hutang-hutang almarhum kepada mereka. Suasana dalam masjid mencekam. Untunglah, ada pemuda takmir yang gempal badannya dan bercambang. Dengan tegas ia tak kalah berteriak dalam kalimat yang tetap tertata: “Bapak-bapak! Kita di sini hanya takmir dan jamaah masjid. Kewajiban kita sebagai umat Islam terhadap jenazah muslim diantaranya adalah menyolati dan cepat menguburkan. Urusan utang-piutang dengan almarhum silakan selesaikan di luar masjid dengan keluarganya. Titik. Angkat jenazah dan kuburkan sekarang juga!”

Dalam sedih dan sembunyinya, Mbah Sum hanya bisa berserah kepada Tuhannya. Dalam ikhtiarnya sebagai orangtua, bersama almarhum suaminya ia merasa telah berupaya sekuat tenaga mendidik anak-anaknya agar menjadi manusia shalih. Tetapi apa daya jika akhir kehidupan anak keduanya itu harus menyisakan rasa berat atas banyak orang karena hutang yang tak terbayarkan. Bahkan, jasadnya pun seakan tak direlakan untuk dikubur. Terhina karena hutang![]

Joyosuko Metro, 05 Agustus 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s