Archive for August, 2017

Adinda mempelai berdua,

pernikahanSebelum kado ini kutuliskan teruntuk kalian berdua, kupanjatkan do’a yang diajarkan Rasulullah SAW: “Barakallahu lak wa baraka alaik wajama’a bainakuma fi khair”. Semoga Allah memberkahi kalian dalam suka dan dukanya membangun rumah tangga, amin..

Do’a di atas menunjukkan kepada kita bahwa ada keberkahan yang berlimpah di dalam pernikahan yang penuh harap akan ridha Allah SWT. Di dalam suka-gembira kebersatuan kalian berdua ada berkah; di dalam duka-nestapa kebersamaan kalian berdua juga ada berkah. Berkah itu dari kata Arab “barakah” yang berarti “an-nama’ waz ziyadah” (tumbuh dan berkembang), yakni semakin menetap kebaikan ilahiyah dan tumbuh bersinambungan di dalamnya (Imam an-Nawawi). Atau “Ziyadatul khair ma’al khair”, bertambahnya kebaikan ilahiyah bersama kebaikan sebelumnya (Imam al-Ghazali). Dari itu, tahnia teruntuk kalian berdua dalam curahan berkah pernikahan.

(more…)

Advertisements

KUAT

Posted: August 23, 2017 in celetukan, cerpen
Tags: , , , ,

kuatJarum jam menunjuk angka Setengah Sepuluh malam ketika handphone di atas meja berdering kencang. Seorang ibu separoh baya bergegas mengangkat dan melihat layarnya. Terlihat deretan nomor penelpon yang tidak ia kenali. Agak sedikit enggan ia memencet tombol hijau bergambar telepon dan menempelkan lubang speaker di telinganya sambil lembut berujar: “Hallo…”.

Tidak ada jawaban balik dari seberang. Namun yang terdengar adalah tangisan seseorang.

(more…)

KEMERDEKAAN17 Agustus 72 tahun yang lalu, Soekarno Hatta atas nama bangsa Indonesia ikrarkan kemerdekaan negeri ini dari segala bentuk penjajahan bangsa lain. Tiga abad lamanya bangsa ini telah belajar dari tangis-pedih; dari duka-nestapa; dan dari derita-kematian para pejuang kemerdekaan bahwa api jihad haruslah selalu dikobarkan terhadap segala bentuk penindasan dan kedhaliman manusia atas manusia di atas bumi pertiwi ini.

Kini, setelah 7 decade sang saka merah putih berkibar bersama silih bergantinya rejim kepemimpinan oleh anak negeri sendiri, menyeruak satu tanya mendasar di lubuk hati: “Benarkah kita telah merdeka?”

(more…)

DO’A HARI KEMERDEKAAN KE72

Posted: August 17, 2017 in do'a
Tags: , ,

75zqweBapak-ibu, saudara-saudari,
Marilah kita tundukkan hati. Sejenak kita buka ruang kesadaran ilahiyah kita untuk menambat-kan asa, menggantungkan harap, dan menyandarkan segala permohonan kepada Allahusshomad, dengan bersholawat, beristighfar lalu bermunajat..

اللهم صل على محمد وآل محمد كما صليت على إبراهيم وآل إبراهيم فى العالمين إنك حميد مجيد
أستغفر الله العظيم، أستغفر الله العظيم، أستغفر الله العظيم، وأتوب إليك

(more…)

MERDEKA

Posted: August 10, 2017 in celetukan, cerpen
Tags: , ,

MERDEKANama aslinya Merdeka. Mungkin karena ia orang Jawa, dipanggil Eka terasa kurang jawani. Jadinya oleh teman-teman sepermainan dipanggil Eko begitu saja. Konon ia lahir pas tanggal 17 Agustus, di saat ibunya yang pegawai kantor kecamatan sedang mengikuti upacara bendera. Tiba-tiba perutnya yang hamil besar mules dan terasa akan melahirkan. Segera dibopong oleh kawan-kawannya ke kantor dan dipanggilkan bidan. Namun, sebelum juru bantu-lahir tersebut datang, ternyata sang jabang bayi mbrojol duluan. Sedikit gemparlah kantor kecamatan dan orang-orang yang sedang upacara di depannya. Sepertinya sang jabang bayi ingin juga memperingati hari kemerdekaan RI. Untuk mengingat itu, lalu orangtuanya menamai ia dengan asma Merdeka.

 

(more…)

BERBEDA

Posted: August 6, 2017 in celetukan
Tags: , ,

berbedaYuk Na hanya bisa tersenyum ketika Bu Desi, wali kelas putrinya mengulang pertanyaan yang sudah ke sekian kali ditanyakan: “Sudah finalkah keputusan ibu memasukkan Ela ke pesantren?”

“Eman loh, Bu..” lanjut bu guru itu saat melihat Yuk Na hanya tersenyum, “Ela anaknya pintar. Prestasi non-akademiknya juga banyak. Dan punya sertifikat nasional pula. Itu cukup sebagai modal diterima di SMP atau MTs negeri unggulan di kota kita lewat jalur prestasi”

(more…)

KASIHAN

Posted: August 5, 2017 in celetukan
Tags: , ,

kasihanMbah Sum menutup diri. Tidak sekadar enggan berkomunikasi, rumahnya pun selalu ditutup rapat. Sejak kematian putra keduanya, Kang No, nenek tujuhpuluh tahun ini seakan dipaksa melakoni kehidupan seperti ini. Menyendiri dan sembunyi. Sebisa mungkin lari dari putaran nasib almarhum anaknya. Ia ada namun sedapat mungkin meniada. Setiap ketukan pintu orang asing selalu dibiarkan sia-sia. Para tetangga sebelah sungguh maklum; terjebak antara kasihan dan ketidakmampuan berbuat apa-apa kecuali serasa menjadi penyambung lidah semata. Bagai paduaan suara, tanpa diminta mereka akan berkata “tidak tahu” bagi siapa yang mencari ibu dua putra ini.

(more…)