KEMBALIAN

Posted: January 30, 2017 in celetukan
Tags: , , ,

kembalianYuk Na merasa sangat khawatir. Sambil menggendong oroknya ia mondar-mandir, gelisah. Jarum jam di dinding menunjuk angka 1.30 siang, namun si Endut, anak keduanya tak kunjung pulang ke rumah. Ia kontak HP suaminya berkali-kali, namun hanya suara perempuan penunggu telepon yang tidak bosan meminta maaf. Mau menyuruh anak sulungnya untuk mencari sang adik, ia sedang diajak ke rumah Budenya. Mau berangkat sendiri, hari sedang hujan lebat disertai petir bersahutan. Hati Yuk Na semakin galau, tak karuan.

Tidak seperti biasanya, si Endut pulang lama seusai shalat Jum’at. Yuk Na teringat anak lelaki yang baru duduk di bangku TK itu saat berangkat jum’atan. Ia meminta uang untuk dimasukkan kotak amal sebagaimana Yuk Na ajarkan. Ia beri selembar uang Rp. 5000an karena tidak ditemukan di dompet lembaran atau recehan Rp. 2000an. Namun sampai sekarang mengapa anak itu belum juga kembali ke pangkuannya. Yuk Na semakin gelisah.

Jarum jam terus bergerak tidak mau kompromi dengan suasana kebatinan yang sedang bergemuruh di hati ibu muda tersebut. Ia mulai merasa kehilangan anak lelakinya itu. Teringat padanya yang belum ganti seragam sekolah. Terbayang rasa kasihan padanya karena belum makan siang. Terkenang olehnya tentang keinginan anak lelaki satu-satunya itu untuk ikut bersama mbaknya ke rumah Budeh namun keburu adzan Jum’at memanggil. Dan sampai pukul 2:00 siang Yuk Na merasa tidak kuasa melakukan apapun kecuali menunggu dan menunggu mukjizat datang. Mulailah waswasil khannas menyuarakan syak wasangkah di dalam kalbunya dan meniupkan ketakutan berlebih yang merasuki setiap cela kewarasan pikirannya. Sampai yang paling ekstrim, ialah kekhawatiran bila anaknya menjadi korban penculikan sebagaimana berita kriminil yang semarak akhir-akhir ini.

Naudzubillah ya Allah… Naudzubillah…” ucapnya sambil lalu lalang di dalam rumah. Ia bermaksud mengusir semua kekhawatiran di kalbunya dengan do’a. Nuraninya masih menyisakan pelita: “jika bumi bagimu terasa sempit, jangan bersedih! Di sana masih ada langit”. Namun tetap saja, seperti manusia lainnya, ia demikian lemah dan rentan. Bahkan seringkali ia tidak berdaya melawan pikirannya sendiri. Ada benarnya, pikiran memang mampu mempengaruhi seseorang untuk mengubah keadaan, namun juga tidak bisa disalahkan jika pikiran seringkali terlalu bombastis dalam mendramatisir suatu ketakutan. Yuk Na tersandra kesadarannya dalam gulana berlebih.

Drung drung drung..” suara motor memasuki pelataran rumah. Yuk Na tersadarkan akan adanya harapan. Ia bergegas keluar kamar, ada yakin bahwa suaminya yang datang.

Assalamu’alaikum” terdengar suara suaminya yang masih berbungkus mantel hujan, “Bu.. saya bawakan nasi padang kesukaanmu..” lanjutnya sambil tersenyum manis.

Wa’alaikum salam” jawab Yuk Na cepat, “Sudah… nggak usah nasi padang-padangan. Jangan dicopot mantel hujan Sampean, Pak. Cepat cari si Endut!” lanjutnya dengan muka ditekuk, sama sekali tidak ada sirat manisnya seperti mana balasan yang diharap oleh Kang No, suaminya.

“Loh, memang Endut kemana?” tanya Kang No yang masih basah kuyup.

“Dari setelah jum’atan belum pulang. Ayo cepat, Pak! Tidak perlu banyak bertanya!” teriak Yuk Na, tegas.

“Sebentar toh Bu… mbok bapak minum barang segelas dua gelas dulu toh..” pinta Kang No.

“Tidak usah! Temukan anaknya dulu, Baru minum!” ucap Yuk Na, sewot.

“Kalau gitu, setetes saja bu. Pleeeesss..” mohon Kang No.

“Tidak ada!”

“Ayolah Bu… haus ini loh..”

“Tidak boleh! Ayo cepat berangkat!”

“Ayolah Bu…”

“Mau minum atau segera berangkat? Awas nanti malam kalau minta. No way!”

“Iya deh.. kalau begitu, Bapak berangkat” ujar Kang No tak berkutik. Kang No yang komandan skuriti di perusahaan swasta; Kang No yang bertubuh gempal; Kang No yang pendekar pencak sungguh tetap saja di depan bininya tak bisa berlagak. Cepat ia bergegas meninggalkan rumah dengan misi: Finding Endut.

Di tengah guyuran hujan yang serasa tak mengenal cuti, ia menyusuri gang-gang kampungnya. Ia singgahi rumah teman-teman Endut yang biasa ia bermain di sana. Namun tiada satupun yang bisa memberikan petunjuk keberadaan anak lelakinya itu. Jam di tangan menunjuk angka 03:05. Sayup-sayup terdengar dari corong speaker masjid suara tua sang muadzin memanggil kaum muslimin untuk bersujud asar.

Agak sedikit lelah mencari, Kang No berniat sembahyang asar dulu baru melanjutkan pencariannya. Ia bergegas menuju masjid sambil berdoa, semoga saja dalam shalat dan munajatnya nanti Allah memberikan petunjuk keberadaan putranya.

Saat kaki memasuki gerbang pelataran masjid, mata Kang No tertuju pada seorang anak lelaki gendut terduduk lesu, mendekap kedua kakinya di samping kotak amal di pojok halaman masjid. Ia amati sekali lagi dengan seksama, lalu berucap gembira: “al-Hamdulillah, belum saya bersujud ke hadapan-Mu ya Allah, Engkau telah ijabahi doaku”.

Kang No cepat memasuki pelataran masjid lalu mengambil air wudlu dan menemui anaknya. “Sayang, mengapa duduk di sini? Kok tidak pulang? Ibumu dari tadi mencarimu?” ucap Kang No sambil memeluk anaknya.

“Aku menunggu kembalian uangnya ibu” ucap si Endut.

“Lha memang kamu beli apa? Dan di warung mana?” tanya Kang No, “Ayo ayah antar!”

“Enggak… Endut nunggu di sini saja. Karena tadi Endut ngasihkannya di sini” ucap si anak polos, namun membuat ayahnya bingung.

“Memangnya, Endut di sini tadi beli apa?” Ucap Kang No, gagal paham.

“Tadi, ketika jum’atan Endut masukkan ke kotak ini uangnya ibu Lima Ribuan. Kata Allah akan dikembalikan Tiga Ribu” jawab Endut polos, “Kok lama ya, Yah? Sampai sekarang belum dikasihkan?”

Subhanallah… ucap Kang No dalam hati. Jadi tiga jam lamanya anak ini sendirian di masjid, di tengah hujan petir, nunggu kembalian uangnya. Membuat ibunya super khawatir. Dan yang lebih tragis lagi: membuat ayahnya yang komandan skuriti di depan istri tak kuasa petitah petitih; membuat ayahnya yang bertubuh gempal di depan istri ajiannya tak sakti untuk dirapal; membuat ayahnya yang pendekar pencak di depan istri tak sanggup berlagak.

“Endut… Endut.. Nanti Nak, kembaliannya berupa rumah di surga” ucap Kang No lirih sambil memeluk anaknya.[] Joyosuko Metro, 30 Januari 2017.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s