GOBLOK [3]

Posted: January 29, 2017 in celetukan
Tags: , ,

boblok1Sungguh semakin saya mengamati kebiasaan hidup Mbah Jiman, semakin tidak bisa mengerti. Jadinya… yang goblok itu saya atau dia? Kalau boleh sedikit sombong, mungkin dialah yang goblok. Bagi saya, definisi goblok itu gampang saja. Siapa yang tidak menggunakan akal rasionya dalam melakoni kehidupan, dialah yang goblok. Dan saya kira itu cocok dengan apa yang pernah dikatakan orang tua itu: “Jalani saja hidup ini secara goblok!”.

Kalau saya, dalam hal ini mungkin sekadar bodoh saja. Ya, sekadar tidak mengerti atau istilah lainnya, sekadar tidak bisa meletakkan secara tepat apa yang dilihat dalam brangkas kognisi ini. Saya kira, kebanyakan Anda juga mungkin sama dengan saya. Bodoh, lalu lama-lama masa bodoh dengan apa yang dilihat tanpa mau memaknai. Ya, termasuk terhadap kebiasaan Mbah Jiman ini.

Bagaimana tidak? Kalau memberi makan binatang piaraan seperti kucing, ayam, kambing atau sapi tentu itu hal yang lumrah. Semua hewan itu sengaja dipelihara karena mungkin akan memberi keuntungan timbal balik. Dari ayam, telurnya bisa dikonsumsi atau anakannya bisa dijual dan mendapatkan laba finansial. Demikian pula kambing dan sapi. Dari kucing, keramahan dan kelucuannya bisa dijadikan hiburan. Begitu pula dengan burung, kicauannya atau warna-warni bulunya juga bisa menjadi sarana penghilang stress. Jadi ada semacam simbiosis mutualisme. Saling memberi dan menguntungkan. Minimal give and take.

Tetapi Mbah Jiman, baru saat ini saya menemukan orang dengan kebiasaan yang “goblok” ini. Ia tidak memiliki satu pun binatang piaraan. Bahkan sering kali ia singgah ke pasar hewan, memborong banyak burung, dan melepaskannya di hutan. Sehingga di rumahnya tidak ada ayam peliharaan. Kucing pun tidak. Tetapi setiap saat jika ia melihat ada kucing berkeliaran di sekitar rumahnya, ia panggil dan diberi makan. Ada ayam, bebek atau kambing, entah milik siapa yang kedapatan di sekitar rumahnya juga disediakan makanan. Setiap pagi, ia relakan waktunya untuk memanjat pohon di belakang rumahnya sekadar untuk mengisi nampan dengan berbagai biji-bijian agar menjadi santapan burung yang singgah.

Yang lebih tidak bisa dipercaya lagi, semutpun dikasih makan. Ia sediakan piring khusus yang diisi gula atau jajanan manis dan diletakkan di sudut-sudut rumahnya. Begitu juga dengan cicak, disediakan pula makanan olehnya. Dan yang lebih “guoblok” lagi, tikus.. binatang liar, symbol koruptor yang keberadaannya kita hindari dan jauhkan dari rumah tak luput pula diberi makanan olehnya di bawah pohon belakang rumah.

Pernah suatu sore, sehabis jamaah asar di musolla, dalam suasana nyantai aku tanyakan perihal kebiasaannya itu. Ia hanya tersenyum seperti biasanya sambil berucap sangat singkat: “Dul, semua makhluk punya hak hidup yang sama dengan kita”.

Seketika dengan bersemangat aku memberinya argumen tentang teori simbiosis mutualisme, “give and take”, dan berbagai hujjah rasional lainnya. Ia mendengarkan dengan penuh perhatian, menyimak dengan seksama sambil terkadang kepalanya mantuk-mantuk menunjukkan ia sedang merekonstruksi pikiran di benaknya. Aku sangat berharap Mbah Jiman akan menjelaskan sesuatu, semacam buah pikiran yang melandasi semua lakon kehidupannya, namun dengan suara lirih ia mengatakan: “Dul, sorry ya. Aku ngantuk!”. Lagi-lagi harus tepok jidat nih. Gagal maning!.[] Joyosuko Metro, 28 Januari 2016.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s