GOBLOK [2]

Posted: January 21, 2017 in celetukan
Tags: , ,

goblok-2“Tolong buka kacanya, Dul” pinta Mbah Jiman kepadaku saat ada pengemis mendekati mobil kami yang sedang berhenti di bawah lampu merah.

Kubuka kaca jendela di samping kiri Mbah Jiman secara otomatis dari sentral lock di sebelah kananku. Ia merogoh kantong bajunya dan dengan cepat ia berikan lembaran Sepuluh Ribu rupiah kepada sang pengemis, seraya berucap: “Nyuwun pandongane, Bu njih…

Agak terkejut, sang pengemis cepat menyambar lembaran merah itu. Ia hanya menunduk, tanpa berucap satu katapun. Lalu segera berpindah ke mobil berikutnya.

“Tidak salah, Mbah?” tanyaku sambil pelan kuinjak gas mobil saat lampu hijau menyala, “Uang Sepuluh Ribu akan memanjakan mereka untuk tetap menjadi pengemis loh”

“Ya, sekali-kali menyenangkan pengemis kan yo… apik toh, Dul?” jawabnya tidak serius.

“Apik apanya, Mbah?” kataku mempertanyakan, lalu kususulkan argumentasi rasional tentang ‘ketidak-apikan’ memberi gelandangan, pengemis dan anak jalanan di lampu merah baik dari sisi yuridis formal, sudut pandang psikologis-sosiologis-kultural, bahkan saya sertakan pula kalkulasi matematisnya:

“Jika mereka mendapatkan Rp. 1.000 saja permobil dikalikan 2 mobil per satu menit atau persekali lampu merah, berarti pendapatan permenit mereka Rp. 2.000,-. Taruhlah mereka ngemis 5 jam sehari, tinggal mengalikan saja. 60 menit x 5 jam x Rp. 2.000,- berarti Rp. 600.000,- mereka dapatkan perhari. Kalau sebulan, dengan dipotong 4 hari libur misalnya, berarti Rp. 600.000,- x 26 hari = Rp. 15.600.000,-. Gaji saya sebulan sungguh tiada apa-apanya dibanding mereka. Di mana letak kebaikannya, Mbah?”

“Ya.. Nggak tahu, Dul” jawab Mbah Jiman singkat sambil senyam-senyum.

“Pantas saja” lanjutku, “kalau ada yang menduga bahwa para peminta ini adalah pelaku modus penipuan yang terkoordinir sedemikian rupa seperti layaknya kerja profesional.” Lalu kusertakan cerita temenku tentang kampung pengemis di satu daerah tertentu, yang didapati bangunan-bangunan rumahnya sangat tidak mencerminkan kemiskinan, kefakiran. Kutambahkan lagi berbagai temuan tentang modus bersemangat sama. Bahkan ini lebih dasyat lagi, dengan menjemput langsung calon korbannya door to door. Membetot kesadaran keagamaan umat Islam atas nama infaq-sedekah untuk pesantren, masjid atau panti asuhan yang tergambar dalam proposal abal-abal lengkap dengan tipuan setempelnya. Tetapi…

Hhook Hhhoooookkkk” terdengar orang tua di sampingku ini pulas mendengkur. Kurang asem! Umpatku dalam hati. Saya berusaha mengajaknya berpikir rasional, malah sengaja ditinggal tidur.

Namun setiap lampu merah menyala, mobil berhenti, pengemis-pengamen atau anak jalanan dengan berbagai aneka ragam gayanya mendekat, dapat dipastikan Mbah Jiman terbangun lalu memberi mereka uang sekenanya tangan saat merogoh kantong. Kadang sepuluh ribu, lima ribu, bahkan dua puluh ribu dan lima puluh ribuan. Diberikan dengan ringan dan selalu dibarengi ucapan sama: “Nyuwun pandongane, njih…

Semuanya ditampakkan di depan mata saya seakan hendak menjawab dan menolak semua pertanyaan atau kritikan saya. Dalam hati ada rasa dongkol juga bercampur geram, tetapi tak kuasa berbuat apapun apalagi melarangnya. Tugas saya hanya nyopiri dan nemani. Lagian juga duit-duitnya sendiri, apa hak saya menahannya. Namun, terbersit juga di pikiran, ini orang tua… memang kaya tapi goblok kali ya? Kalau memang cerdas, mestinya kan semua pemberiannya cukup disalurkan melalui lembaga amil zakat-sedekah yang sudah jelas dan tepat sasarannya.

Satu lagi yang saya anggap aneh dan menunjukkan kekurang cerdasannya adalah kalimat klise yang diucapkan saat memberi. Yakni, meminta dido’akan oleh orang yang dia sendiri tidak sanggup mendo’akan dirinya sendiri.

“Ya, siapa tahu, Dul” Jawab Mbah Jiman saat kutanyakan perihal itu, “Do’anya untuk dirinya belum dikabulkan, tetapi do’anya untuk orang lain justru didengar dan diijabahi oleh Allah”.

“Tolong pelan-pelan, Dul!” pinta Mbah Jiman saat di depan tampak ada tong di tengah jalan dan tertempel papan bertuliskan ‘Pembangunan Masjid Miftahul Jannah’. Di belakang tong berdiri beberapa pria dewasa dan juga anak-anak membawa kaleng atau timba. Di sebelah jalan raya, ada gubuk kecil, di dalamnya seorang pria duduk sambil membawa mix tersambung ke speaker tua. Ia komat kamit mengajak berinfak para pengendara sambil sesekali mengutip ayat atau hadits yang memerintahkan bersedekah.

“Tolong buka kacanya, Dul!” pinta Mbah Jiman saat mobil mendekati mereka, lalu tangannya memasukkan ke dalam kaleng tiga lembaran merah bergambar soekarno-hatta.

“Terima kasih, Mbah” teriak pembawa kaleng seperti tak percaya ada tiga soekarno-hatta mesam-mesem menatap dirinya dari dalam wadah bekas biscuit itu.

Mobil terus melaju mengikuti hitamnya aspal jalan. Belum sempat kaki kananku menginjak gas pada jarum angka 60 di speedometer, pemandangan yang sama didapati di pertigaan. Tong berdiri tegak meminta sedekah. Kali ini tertulis pembangunan musholla at-Taubah. “Pelan-pelan, Dul..” pinta Mbah Jiman, dan dua soekarno-hatta dimasukkan di dalam timba.

“Mbah, Mohon maaf ya..” tak kuasa juga saya bersabar untuk tidak mengeluarkan ganjalan di hati, “saya ingin ngeluarkan uneg-uneg, tolong ditanggapi”.

“Hehehe koyok opo wae, Dul? Kamu kok serius banget. Seandainya bisa, ya kan saya jawab..”

“Maaf, Mbah. Sepanjang perjalanan ini, saya banyak melihat kayak parade kemiskinan dan kebodohan. Pertama, pengemis, pengamen, gelandangan dan anak jalanan menarget setiap pengendara di setiap lampu merah; kedua, peminta sumbangan atas nama agama di setiap tikungan juga menarget pengendara, minimal mengganggu laju setiap pelintas jalan; dan ketiga, kok ya ada orang-orang seperti sampean yang serasa memanjakan dan melanggengkan itu semua dengan pemberiannya..”

“Dul, benar kamu ingin tanggapan saya?” tanya Mbah Jiman, serius.

“Iya, Mbah.. Saya ingin mendengarkannya. Biar yang muda ini bisa belajar dari yang tua”

“Sudah siap mendengarkannya?” tanyanya lagi.

“Siap, Mbah. Sangat siap!” jawabku tegas.

“Tidak kecewa nanti kalau ternyata jawaban saya tidak seperti yang kamu inginkan?”

InsyaAllah tidak, Mbah. Pelajaran hidup memang kadang pahit rasanya” jawabku serius.

“Benar? Sudah siap mendengarnya?”

“Sudah, Mbah. Sangat siap!” kataku tegas.

Mbah Jiman lalu mendekatkan mulutnya ke telinga kiriku seraya berucap lirih: “Sayangnya, saya tidak pandai menjawabnya” lalu tertawa terbahak-bahak seperti hendak memecahkan gendang telingaku.

“Kurang asem!” umpatku. Gagal maning… gagal maning.[] Joyosuko Metro, 21 Januari 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s