ANCUR

Posted: January 4, 2017 in celetukan
Tags: , ,

ancurTing tung” Satu pesan singkat masuk di handphone Kang Lis dari nomor yang tidak dikenal. Dibuka dan terbaca di layar: “Ass. Saya Fulan, jama’ah ustad. Ingin silaturrahmi. Apakah ustad ada di rumah?

Tanpa ada prasangka, Kang Lis segera nutul keybord Hpnya: “Wass. Iya, saya sedang di rumah. Monggo..

Iya, ustad. Segera meluncur. Terima kasih” jawaban dari seberang.

Jam di dinding menunjuk angka 05.15 sore, tatkala lelaki yang mengaku Fulan datang dan memarkir motor bututnya di depan rumah. Ia berperawakan pendek, ada sedikit botak, bertopi namun tak berhelm. Kang Lis tidak mengenalnya. Namun, tetap mempersilahkan masuk rumah sebagaimana tamu biasanya.

Setelah duduk, sang tamu mengenalkan diri, profesi kerja, dan alamat rumahnya. Ia mengaku mendapatkan alamat dan nomor HP Kang Lis dari jadwal khatib Jum’at yang terpampang di etalase masjid satu perumahan tak jauh dari tempat tinggalnya.

Setelah basa-basi, berbincang ke sana ke mari termasuk perihal pekerjaannya yang sepi pelanggan akhir-akhir ini padahal ia harus menyuapi lima mulut anggota keluarga juga SPP tiga anaknya, sang tamu kemudian menyampaikan hajat “silaturrahminya” bahwa ia bermaksud  meminjam uang dari Kang Lis untuk menebus jahitan seragam anaknya.

“Berapa ongkos jahitnya?” tanya Kang Lis.

“Seratus Lima Puluh Ribu, Ustad” jawab sang tamu, “dan ini KTP saya, kalau Ustad mau menahannya sampai saya melunasi pinjaman ini”

“Tidak perlu. Bapak bawa saja” kata Kang Lis sambil merogoh dompet dan mengambil pecahan seratus ribu dan lima puluh ribu rupiah dari dalam lipatan lalu segera memberikannya kepada sang tamu.

“Terima kasih, ustad” ucap sang tamu lalu bergegas pamit.

***

“Sampean sadar, pak?” tanya Yuk La, istri Kang Lis yang tiba-tiba muncul sepeninggal sang tamu.

“Sadar apa, Bu?” tanya Kang Lis balik.

“Bapak kenal orang tadi?”

“Tidak. Memangnya kenapa, Bu?”

“Tidakkah Bapak merasa ditipu?” tanya Yuk La lagi.

“Ditipu bagaimana? Dia meminjam kok, Bu. Menjaminkan KTPnya lagi. Saya sudah cek KTPnya. Poto, nama dan alamatnya benar.”

“Terus, Bapak tahan KTPnya?”

“Tidak. Lagian buat apa nahan KTP orang, Bu? Kayak polisi lalu lintas saja yang gampang nahan SIM pengendara”

Mbok dipikir toh Pak!” ujar Yuk La agak sengit.

“Apanya yang perlu dipikir, Bu? Orang susah datang kepada kita, ya kita bantu. Kebaikan jangan ditunda, itu kesempatan kita. Kalau tidak segera diambil, pasti ada orang lain yang mendahului menjadi produsen kebaikan itu. Dan saya yakin, dia tahu nama dan alamat kita yang menggerakkan adalah Allah. Termasuk dia bisa datang kemari, Allah lah yang menjodohkan dia dengan kita. Berbuat baik tidak membutuhkan banyak pikiran, tapi keikhlasan” kata Kang Lis panjang lebar seperti bahan ceramah yang biasa ia khutbahkan di atas mimbar.

“Jadi bapak ikhlas memberi Seratus Lima Puluh Ribu Rupiah tadi?” tanya Yuk La, agak kalem.

InsyaAllah, Bu.. Saya Ikhlas!” kata Kang Lis, mantap.

“Termasuk ikhlas ditipu?” ujar Yuk La sedikit mendekatkan mulutnya ke telinga suaminya.

InsyaAllah…” jawab Kang Lis. Namun cepat-cepat ia menimpali: “Mana mungkin orang tadi menipu, Bu?”

“Coba dipikir..” kata Yuk La, “Pertama, sekarang belum akan masuk tahun ajaran baru, belum saatnya jahitkan seragam; Kedua, masak ongkos jahit seragam kok sebanyak itu. Memangnya ia jahitkan seragam anaknya di Hongkong?; Ketiga, tiba-tiba ada orang datang dengan maksud meminjam duit kepada yang belum dikenal sama sekali.. analisis sederhanapun tidak nyambung deh Pak! Orang baik, kalau benar-benar niatnya meminjam karena terdesak pasti mencari orang yang sangat dikenalnya. Karena saya yakin, orang baik itu malu berhutang. Kecuai kalau orang itu punya niat menipu..”

“Tetapi, dia tadi berani loh Bu menunjukkan KTPnya, bahkan minta ditahan sampai ia melunasi..” ujar Kang Lis yang tampak keikhlasannya mulai goyah.

“Itu modus, pak namanya!” jawab istrinya, “Ia sangat paham subyek sasarannya. Ia pasti mencari orang-orang seperti sampean: yang tidak tegaan, yang tidak mau susahkan orang lain walaupun sekadar nahan KTP”

“Ya sudahlah, Bu. Kita berbaik sangka saja dengan kehidupan!” kata Kang Lis, akhirnya.

***

“Pertama saya dapat SMS begini, Kang” cerita Ustadz Dulkawi, teman sekomunitas muballigh, saat bertamu ke rumah Kang Lis. Lalu ia menunjukkan HPnya kepada kang Lis, dan terbaca SMS dalam redaksi yang sama. Persis seperti yang diterima sepekan lalu.

“Saya tidak mau ia datang ke rumahku” lanjut Ustadz Dulkawi, “Saya minta ia datang ke kantor pada waktu yang disepakati. Eh ternyata sulaturrahminya untuk pinjam duit. Katanya buat beli susu untuk anak balitanya”

“Sampean kasih pinjaman, Ustadz?” tanya Kang Lis.

“Tidak. Saya suruh dia pergi. Saya bilang ke dia, saya juga punya anak balita yang perlu saya belikan susu” jawab sang tamu tegas.

“Bisa tega begitu sampean, ustadz?” ujar Kang Lis.

“Ya… ditega-tegain, Kang. Karena saya yakin itu modus penipuan. Dan ternyata keyakinanku tidak salah. Kemarin saya ketemu Ustadz Dulkamid dan Ustadz Mahfudz, keduanya juga didatangi orang yang sama dengan pola “minta silaturrahmi” begitu”.

Sambil tersenyum, Kang Lis lalu menebak ciri-ciri si pengirim SMS itu. “Kok tahu sampean, Kang?” tanya Ustadz Dulkawi.

“Ya tahulah!” jawab Kang Lis, lalu tersenyum.

“Pasti sampean juga korban tipu-tipu orang ini ya…?” tanya Ustadz Dulkawi.

Kang Lis tidak menjawab. Ia hanya tertawa terbahak-bahak. Namun, di balik itu Kang Lis bersedih. Sedih sekali karena merasa keikhlasannya yang utuh saat memberi si pengirim SMS itu, semakin hancur berkeping-keping dalam satu pekan sejak Yuk La mengajaknya berpikir-menganalisis ulang. Memang benar kata orang arif, ikhlas itu ujiannya tidak sekadar pada saat melakukan kebajikan, tetapi juga bertaruh dengan realita yang menyertai masa setelahnya.[] Joyosuko Metro, 4 Januari 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s