ONTEL

Posted: January 1, 2017 in celetukan
Tags: , , ,

ontelYa, ontel. Ada yang menyebutnya sepeda angin, atau sepeda kayuh. Dalam bahasa Arab disebut “darrajah” dengan dipanjangkan bacaan huruf Ra-nya. Kata “darrajah” ini seakar dengan “darajah” yang berarti derajat, harkat atau martabat. Menyaksikan ontel tua ini , terbawa ingatan pada seseorang yang memiliki derajat tinggi di hadapan Tuhan karena kesederhanaan, ketulusan, takzim kepada guru, dan pengabdiannya dalam kebajikan kepada sesama. Ya, ontel tua ini menjadi saksi bisu perjalanan almarhum. Seandainya ditemukan teknologi pemindah rekaman peristiwa yang tersimpan dalam setiap benda, maka ontel ini akan berkisah banyak tentang tapak laku sang tokoh sederhana ini.

Beliau hanyalah seorang guru biasa di pesantren tempat ia menuntut ilmu agama. Hingga jelang tutup usia, beliau tetap mengajar di almamaternya. Sehari-hari beliau pulang pergi dari rumah ke pesantren ditemani ontel ini. Selama bertahun-tahun, setiap memasuki gerbang pesantren, beliau turun dari ontel ini, berdiri sebentar tampak berdoa, lalu dituntunnya hingga lokasi yang dituju, tempat beliau beraktivitas. Banyak orang penasaran akan laku beliau yang sederhana ini. Buat apa membawa ontel kalau tidak dikendarai? Dan mengapa pula harus turun dari ontelnya ketika beliau hendak memasuki gerbang pesantren? “Bagaimana mungkin aku harus mengendarainya” ujarnya suatu ketika, “kalau di tanah ini ada terkubur jasad para guru dan kyaiku”.

Tiada kata “tidak” baginya dalam memberikan khidmat kepada sesama. Prinsip hidupnya: “Sebisa mungkin memasukkan rasa senang dalam hati orang-orang di sekitarnya; kalau tidak bisa, minimal tidak menyusahkan mereka” selalu dipraksiskan, tanpa kata. Pernah datang kepadanya seorang tetangga untuk meminjam gergaji. Tentunya beliau tidak memiliki alat itu, karena bukan tukang kayu. “Tunggu sebentar ya” beliau berujar, “saya akan mencarinya dulu, dan akan kuantarkan ke rumahmu secepatnya”. Sepulang tetangganya, segera beliau pergi ke toko pertukangan, membeli gergaji lalu dihantarkannya ke rumah orang yang meminjam.

Bersama gurunya, beliau menulis seperangkat buku pembelajaran bahasa Arab yang hingga hari ini masih digunakan di pesantren beserta anak cabang dan lembaga alumninya. Sudah puluhan juta eksemplar bahkan mungkin ratusan juta buku itu dicetak, namun satu rupiahpun beliau tidak mau menerima royaltinya. Beliau melarang ahli warisnya untuk mengambil karena telah diniati sebagai sedekah teruntuk pesantrennya.

Ontel ini, menjadi saksi bisu perjalanan hidup manusia tulus dan sederhana. Sungguh bagi kita, dialah manusia ilham dari surga[] Joyosuko Metro, 01 Januari 2017.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s