Memahami Masa, Mengantisipasi Kerugian Hidup

Posted: December 31, 2016 in opini
Tags: , , ,
waktuRenungan Tahun Baru

Saat ini kita ada di penghujung tahun 2016, dan akan memasuki awal tahun baru 2017M. Biasanya kebanyakan manusia bergembira menyambutnya. Dihitungnya detik-detik pergantian tahun itu dengan perlahan, dan kala jarum jam menunjuk pukul 24.00, ramai-ramai manusia mengucapkan selamat tahun baru.

Suasana lalu menjadi semakin bergemuruh, kemeriahan semakin bertambah. Tiupan terompet tak henti-hentinya mengilikitik telinga. Permainan cahaya kembang api elok dipandang mata.

Dan tak kalah dengan keramaian di lapangan kota, mereka yang di tengah kampung pun ikut latah. Disulutnya sumbuh petasan, lalu gelegarnya saling bekejaran serasa hen hendak merobek kendang telingah.  Intinya, semua tertawa riang bergembira. Namun, sabda alam selalu mengajarkan harmoni. Bahwa bersama keramaian, selalu membonceng kesunyian. Di balik kegembiraan, sesungguhnya mengintip kesedihan.

Bersama keramaian dan kegirangan setiap menyambut tahun baru, sesungguhnya ada hati nurani yang selalu berbisik dalam sunyi: “Apa makna dari semua kegembiraan ini?? Jangan-jangan justru kesedihanlah yang seharusnya tersisa saat tahun berganti”

Apa makna tahun baru? Sebagian kita mungkin mengartikannya sebagai waktu baru, peluang baru,harapan baru. Tentu tidak ada yang salah dalam pengertian itu. Namun bagi mereka yang memahami waktu sebagai satu dimensi (selain ada dimensi panjang, lebar dan tinggi) sesungguhnya tidak ada yang baru atau lama dalam katagori waktu.

Karena waktu identik dengan gerak. Badan kita berpindah dari satu ruang ke ruang yang lain karena ada waktu dan kita sudi menggunakannya. Maka harapan baru kurang tepat jika ditambatkan pada waktu yang netral itu. Pantasnya, harapan baru ada pada gerak dan ikhtiar kita yang senantiasa diperbaharui seiring berjalannya waktu.

Mungkin “tahun baru, harapan baru” boleh dipahami sebagai momen untuk mengubah dan melakukan gerak ikhtiyar yang baru. Bisa saja pemahaman seperti ini diajukan, walaupun tetap saja pergantian hari, bulan dan tahun hanyalah konsep pikiran kita untuk membatasi waktu yang lajunya tetap saja tak bisa dihentikan.

Dari itu, mari kita tengok al-Qur`an, bagaimana kata waktu digunakan. Ada 3 ayat yang jelas-jelas mengguna-kan kata “al-waqtu”. Yaitu QS. Al-A`raf [7]:187, QS. Al-Hijr [15]:38, dan QS. Shad [38]:81. Mari kita baca yang pertama, QS. Al-A’raf [7]: 187. Allah berfirman:

يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَاهَا قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِندَ رَبِّي لاَ يُجَلِّيهَا لِوَقْتِهَا إِلاَّ هُوَ ثَقُلَتْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ لاَ تَأْتِيكُمْ إِلاَّ بَغْتَةً يَسْأَلُونَكَ كَأَنَّكَ حَفِيٌّ عَنْهَا قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِندَ اللّهِ وَلَـكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُونَ

Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: “Bilakah terjadinya?” Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorang pun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru-haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba”. Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang hari kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.

Berikutnya QS. Al-Hijr [15]:38, dan QS. Shad [38]:81, keduanya memiliki redaksi yang sama, di mana Allah berfirman:

إِلَى يَومِ الْوَقْتِ الْمَعْلُومِ

”sampai kepada hari yang telah ditentukan waktunya (hari kiamat)”

Jika diperhatikan, kata “waqt” dalam seluruh ayat tersebut digunakan dalam konteks pembicaraan masa akhir hidup manusia. Karenanya, pakar bahasa Arab dan Tafsir al-Qur`an seringkali mengartikan kata “waqt” dengan batas akhir dari masa yang seharusnya digunakan untuk bekerja keras (beramal).

Ini berbeda dengan definisi KBBI, di mana waktu diartikan dalam konteks peng-kotak-an (penyekatan) sebagai masa lalu, sekarang, dan akan datang. Menurut KBBI, waktu adalah “seluruh rangkaian saat yang telah berlalu, sekarang, maupun yang akan datang”

Keberbedaan dua definisi tersebut mengisyaratkan titik tekan dan cara pandang yang berbeda tentang waktu. KBBI (dan kebanyakan kita) memandang “waktu” pada aspek simbol penyekatan-nya secara kuantitatif dalam detik, menit, jam, hari, pekan, bulan, tahun dan abad.

Akibatnya kita lebih senang berbangga dengan jumlah waktu yang telah kita lalui dan acuh dengan kualitas penggunaannya. Setiap tahun misalnya, kita senang merayakan hari kelahiran, dengan lilin berbentuk angka usia kita, seakan menunjukkan pada dunia bahwa sepanjang itulah kita sudah menjalani kehidupan, namun kita lupa: apakah sepanjang itu, usia kita diisi dengan karya berkualitas kebajikan?

Sedangkan al-Qur`an, lebih menekankan pada kita sebagai pembacanya, tentang kaitan yg demikian tegas antara waktu dan gerak amal kebajikan. Agar seiring perjalanan hidup ini, kita lebih fokus pada seberapa besar kualitas karya kebajikan yang bisa kita banggakan.

Selain kata “al-waqt” untuk menunjuk masa dalam al-Qur`an, juga digunakan kata “al-’Ashr”.

Kata “al-Ashr” ini hanya digunakan sekali dalam al-Qur’an, tepatnya dalam QS. Al-Ashr [103]: 1. Walaupun hanya sekali digunakan, namun terasa lebih tegas dari “al-waqt” dalam menunjukkan kaitan waktu dengan kerja keras.

al-’Ashr” berasal dari akar kata yang berarti “memeras/menekan sekuat tenaga, sehingga bagian terdalam dari sesuatu dapat keluar dan nampak dipermukaan”. Al-Qur’an menamai waktu dengan “al-Ashr” karena manusia dituntut untuk menggunakannya dengan sekuat tenaga, memeras keringat, sehingga sari kehidupan ini dapat diperoleh.

Masa menjelang terbenamnya matahari juga disebut “ashr” atau waktu asar dalam budaya kita, karena saat itu seseorang telah selesai memeras tenaganya. Minuman Jus yang menyegarkan tubuh kita, dalam bahasa Arab disebut “’Ashir”, seakar dengan “al-Ashr”, karena merupakan air dari buah yang diperas sedemikian rupa.

Jadi bicara tentang waktu, al-Qur’an lebih menekankan pada implikasinya tentang gerak yang seharusnya dilakukan. Yaitu kerja keras, membanting tulang sekuat tenaga dalam menghasilkan karya-karya kehidupan yang berkualitas kebenaran, kebajikan dan keindahan.

Untuk menekankan kaitan waktu dengan kerja keras itulah Allah bahkan bersumpah: wal Ashr! (Demi masa!), innal insana lafi khusyr (sesungguhnya manusia seluruhnya benar-benar dalam kerugian). Rugi karena tidak mau menggunakan waktunya untuk bekerja keras dalam kebajikan. Lalu tiba-tiba tanpa disadari telah berada di penghujung waktu asar.

Rasulullah SAW bersabda: “Dua nikmat yang sering dilupakan (disia-siakan) banyak manusia, kesehatan dan waktu”. Sayyidina Ali ra pernah berujar: “Rezeki yang tidak diperoleh saat ini masih dapat diharapkan lebih dari itu untuk diperoleh esok hari, tetapi waktu yang berlalu sekarang ini tidak mungkin dapat diharapkan kembali esok nanti”.

Itulah kita, dalam ancaman kerugian yang besar terkait dengan waktu yang tidak termanfaatkan. Allah menegaskan, hanya ada  4 kriteria dari orang yang mampu terhindar dari kerugian tersebut, yaitu: Pertama, alladzina amanu (mereka yang menyakini dan amat mengenal kebenaran, di mana puncak kebenaran adalah Allah SWT); kedua, Wa ‘amilush sholihat (mereka yang bekerja keras mengamalkan kebenaran dalam wujud kesalihan-kesalihan); ketiga, Wa tawashow bil haq (mereka yang mau berbagi dan mengajarkan kebenaran kepada sesama); dan terakhir, Wa tawashow bish shobr (mereka mau berbagi dalam kesabaran dan ketabahan saat mengamalkan dan mengajarkan kebenaran)

Demikianlah, 4 kriteria dari orang yang dijamin tidak merugi seiring taqdir waktu yang terus melaju dan ia bisa memanfaatkannya dengan karya-karya kebajikan. Bagaimana dengan kita? Apakah pergantian tahun ini benar-benar membuat kita bisa bergembira ria? Atau malah bersedih hati, mengingat hingga tahun 2016 tiada kerja keras dalam karya-karya kebajikan yang dapat dibanggakan.

Untuk menutup renungan ini ada baiknya disitir satu kisah dari kitab Irsyadul Ibad. Diceritakan bahwa Nabi Ya’kub as. sedang asyik berbincang dengan Malaikat Maut. Di antara perbincangan itu adalah membahas tentang kematian. Dengan nada santai Nabi Ya’kub berkata “aku tahu tugasmu sebagai pencabut nyawa. Alangkah baiknya, jika engkau mengabariku terlebih dahulu sebelum menjemput ajalku nanti.

Gimana caranya?” Tanya Malaikat Maut.

“Ya gampanglah, masak gitu aja bingung, kirim surat atau kirim utusan kan bisa!” jawab Nabi Ya’kub.

Malaikat Mautpun menjawab “oke… nanti akan kukirim-kan  kepadamu dua atau tiga kabar”

Selang beberapa lama datanglah Malaikat Maut menemui Nabi Ya’kub as.  Beliau menyapa sekaligus bertanya kepada malaikat itu: “Kali ini kamu datang mau mejemput ajalku, atau sekedar bertamu seperti biasanya?”.

“Ya mencabut nyawa” jawaban Malaikat maut singkat.

“Lho bukankah aku pernah memesanmu untuk mengingatkanku sebelum kau mencabut nyawaku”? tuntut Nabi Ya’kub.

“Udah, Aku sudah kirimkan kepadamu pesan itu, tidak hanya satu bahkan tiga”

Masak sih? Yang benar aja! Apa itu? Kok saya tidak tahu!” sergah Nabi Ya’kub.

“Pertama,  rambutmu yang mulai memutih. Kedua, badanmu yang mulai melemah, dan ketiga, punggungmu yang mulai membungkuk. Itulah pesan yang ku kirimkan kepada semua manusia sebelum aku mendatangi mereka”

Begitulah sejatinya Allah telah memberikan peringatan kepada segenap manusia akan datangnya kematian, akan tetapi manusia lebih suka berpura-pura melupakannya.

Sepasang syair Arab patut disitir dalam khutbah kali ini

مضى الدهر والأيام والذنب حاصل

وجاء رسول الموت والقلب غافل

نعيمك فى الدنيا غرور وحســـــرة

وعيشـك فى الدنيـا محــال وبـاطل

Masa telah berlalu dan dosa-dosa semakin menumpuk, datanglah tanda-tanda kematian,  namun hati tidak mempedulikan.

Nikmatmu di dunia menjadi kesesatan dan kesalahan, dan hidupmu di dunia adalah sebuah kebathilan

Demikianlah sekilas renungan ini, semoga bisa menggugah kita bersama untuk menjadi: 1) menjadi hamba Allah yang terhindar dari kerugian besar karena tertipu oleh kegembiraan–kegembiraan semu seiring perjalanan waktu. 2) hamba Allah yang bisa memanfaatkan waktu untuk banting tulang dalam karya-karya kehidupan yang berkualitas kebenaran, kebajikan dan keindahan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s