TEGAR

Posted: December 28, 2016 in Uncategorized
Tags: , , ,

tegarBenarlah Tuhan dengan segala firman-Nya. Hari-hari akan dipergilirkan di antara manusia, tanpa bisa menolaknya. Pagi bahagia, sore nestapa. Sama halnya alam semesta bersabda: tak selamanya langit cerah berawan, adakalanya juga mendung berhujan. Begitulah sunnah kehidupan, rodanya terus berputar. Dan bagi orang beriman di situlah ada ujian. Siapa yang mampu tegar dengan syukur dan sabar, dialah yang mendekap keberkahan.

Ialah Kang Moh sahabatku. Sembilan belas tahun kami terpisah jarak dan masa, setelah tujuh tahun bersama. Ada kerinduan membuncah saat Tuhan mempertemukan kami tahun 2013 dalam reuni almamater. Namun, benarkah ini sahabatku? Ada keraguan menyelimuti benakku, saat kami berpelukan. Badannya semakin kurus, kulitnya melegam dan parasnya tak memancarkan kecerahan. Dalam obrolan, ia banyak mengumbar senyuman untuk menutupi penderitaan. Tampak, ia sedang terdudukkan di titik nadir kehidupan. Rodanya sedang berposisi di bawah. Dan itu bermula setelah kematian ayah mertuanya.

Sebagai orang muda, fresh graduate dari pesantren ternama, plus pengalaman mengabdi sebagai guru dan pengelola lembaga pendidikan modern menjadikannya berbekal spirit juang yang luar biasa lii’lai kalimatillah. Ia tak bisa menolak saat diminta oleh kyai tua di kampungnya untuk ikut membesarkan warisan pesantren yang dibinanya. Keikhlasan, komitmen dan kinerjanya membuat sang kyai kepincut untuk menikahkan dengan putri bungsunya.

Kehidupan berjalan datar penuh bahagia. Rumah tangganya bersama Ning, putri kyai diselimuti mahabbah, sakinah, dan mawaddah hingga tak terasa berlarian tiga krucil dari rahim istrinya. Bersamaan dengan itu sentuhannya terhadap lembaga pendidikan milik keluarga istrinya bagai tangan Raja Midas, membuahkan perkembangan keemasan. Semakinlah ia disayang oleh bapak mertuanya. Maqamnya pun di hadapan santri dan masyarakat melejit, mengalahkan para gus dan ning, ipar-iparnya. Rembulan tampak bersinar lebih terang dari matahari.

Titik balik terjadi. Ayah mertuanya dihantar malaikat maut kepada Yang Kuasa. Belum berlalu kesedihan akibat ditinggalkan, tampuk kepemimpinan pesantren mulai diperebutkan. Kang Moh yang hanya anak mantu, dimana selama ini menjadi pelapis langsung sang kyai, menjadi the common enemy. Semangat “asal bukan Kang Moh” menjadi tagline bersama.

Dan yang terjadi, terjadilah. Sabda kehidupan mulai berjalan: Bersama kebahagiaan membonceng kesengsaraan; bersama kegembiraan mengintip kesedihan. Kang Moh mulai dilemparkan. Ia bagai binatang jalang, dari kerumunannya terbuang. Baginya bukan ini “palu godam” kehidupan, karena ia sungguh menyadari siapa dirinya.

Namun yang terasa sakitnya di sini, di relung hati ini bagi Kang Moh adalah tatkala istrinya mengajukan gugatan perceraian sepihak dan tiba-tiba. Ada heran berpeluk rasa tak percaya. Seperti ada rekayasa mistis menggelayuti perubahan sikap dan prilaku istrinya. Begitu cepatnya beralih dari mahabbah (cinta) kepada karahah (benci) terhadap dirinya. Serasa tanpa proses sebab-musabab. Seperti tiada hukum kausalitas. Malam masih berdekapan dalam ranjang yang basah, paginya sang suami harus angkat kaki selamanya. Pintu pun ditutup rapat-rapat walau sekadar untuk bicara, karena apapun yang terlihat dari diri Kang Moh bagi istrinya adalah kebencian semata. Dan yang lebih membuat Kang Moh terkapar lama, tak berdaya di atas dipan ibunya adalah tatkala ia terlarang untuk bisa sekadar berdekatan dengan tiga buah hatinya. Sama dengan istrinya, apapun yang tampak oleh mereka pada sosok ayahnya, adalah kejahatan dan kebencian.

Lengkap sudah penderitaan Kang Moh. Hancur lebur hatinya. Dan di sinilah para syaithon biasanya menemukan pintu lapang untuk menuntun manusia di jalan yang tidak diridhai-Nya, jika tidak mawas diri. Mungkin untuk mengobati dukanya, bisa jadi sekadar agar melupakan deritanya, Kang Moh memilih perjalanan spiritual yang tidak semua orang sepaham dengannya.

Dari satu guru olah batin ke guru yang lain di nusantara ini ia nyantri. Hampir semua makam orang suci ia singgahi. Banyak lokasi ganjil yang ia jadikan tempat bersemedi. Dan tampaknya ia cukup menikmati dan mengalir di dalamnya. Pantas saja, saat kami diperjumpakan kembali ia terlihat laksana sosok yang berbeda. Obrolan kami sering  tidak ketemu sebagaimana bertemunya dua jasad kami. Ada dua paradigma, ada dua manhaj kehidupan yang memang jelas-jelas tidak bisa disamakan. Sungguh ujian hidupnya adalah bagian dari “proses menjadi” dirinya saat ini.

Tahun 2015, kami diperjumpakan kembali di pesantren dlu’afa milik teman kami. Kulihat Kang Moh sumringah. Parasnya mulai terlihat cerah. Badannya mulai menggempal seperti sedia kala. Dan tampak terpancar aura kebahagiaan dalam senyum dan ucapannya. Diam-diam saya bertanya perihal Kang Moh kepada kyai pesantren, teman kami. “Ia baru saja menikah lagi!” jawabnya singkat. Aku hanya tersenyum, mengapit rasa syukur. Dan akupun tak sudi bertanya lebih jauh lagi.[] Joyosuko Metro, 28 Desember 2016.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s