GODAAN

Posted: December 27, 2016 in celetukan
Tags: , , ,

godaanDuduk sendiri di depan rumah kontrakan, pikiran Kang Paat menerawang menembus batas waktu. Ada sesal, mengapa ia tidak pula cerdas membaca tanda zaman. Ada derita, mengapa ia tidak pula mau mendengarkan petuah kyainya. Ada nestapa, mengapa ia tidak pula kuasa menghadapi godaan dunia. Teringat ia tentang kesuksesan bisnis yang dirintisnya dari nol. Terlintas ia tentang rumah besar yang dibangun dari keringatnya. Terbayang ia tentang dua mobil mewah yang selalu menjadi kakinya. Terkenang ia tentang isteri setia beserta anak-anaknya yang ceria. Semua tinggal menjadi lukisan usang berbingkai pigura lusuh. Tersisa luka saat melihatnya.

Hidup, penuh misteri. Hanya Tuhanlah yang punya kunci gaibnya. Manusia bodoh akan lajunya. Esok hari tak tahu apa yang akan didapatinya. Tak mengerti pula di bumi mana, jasad kan dimatikannya. Kang Paat sangat hafal ayat itu. Namun sesal sekarang tiada guna, ia alpa untuk mentadaburinya.

Butir bening menetes di matanya tatkala terlintas wajah penuh kharisma kyai sepuh di pesantrennya. Terakhir, tahun 2009, Kang Paat datang memohon nasihat perihal keputusannya untuk maju di Pilkada tempat kelahirannya. Di hadapan gurunya itu, ia penuh semangat menjelaskan tentang rencana, peluang dan mimpi-mimpi politiknya untuk membangun tanah nenek moyangnya. Sang kyai sabar dalam diam, mendengarkannya. Saking semangatnya menjelentrehkan rajutan mimpi indah, Kang Paat baru tersadarkan kalau sang guru telah lama tampaknya, mendengkur halus di atas kursi santainya. Seketika, ia sudahi omongannya.

“Loh, kok berhenti?” tanya sang kyai tiba-tiba dengan mata masih terkatup kelopaknya. “Sudah cukupkah penjelasan ananda?”

“Sudah, Kyai” jawabnya dalam keterkejutan.

“Kalau masih ada yang perlu dijelaskan, silakan ananda lanjutkan”

Sampun, Kyai. Sudah. Sudah semuanya. Sekarang ananda mohon nasihat Njenenganipun, Kyai” ucap Kang Paat.

“Kalau begitu, silakan ananda minum dulu teh hangatnya” ujar sang kyai sambil membenarkan posisi duduknya.

Injih, Kyai. Injih, haturnuhun” sambil tangan Kang Paat mengambil gelas kecil di atas meja lalu menyorongkan isinya ke ujung bibirnya.

“Sudah mantapkah ananda pada pilihan ini?” tanya sang Kyai.

InsyaAllah, Kyai. Ananda mantap!”

“Sudah ananda pertimbangkan segala resikonya?”

“Sudah, Kyai!”

“Boleh saya beri saran?” tanya sang guru.

Injih, Kyai. Kehadiran ananda kemari memang menantikan petuah Panjenenganipun Kyai”

“Benar?”

Injih, Kyai. Sami’na wa atha’na!”

“Batalkan!” ujar sang kyai, tegas.

Nuwun sewu, Kyai. Ananda belum mengerti maksud Panjenenganipun Romo Kyai” tanya Kang Paat setengah tidak percaya akan saran gurunya.

“Tanggalkan segala niat dan rencana ananda untuk maju di Pilkada. Ananda tidak cocok di situ!” jawab sang guru pelan namun tegas petuahnya.

Bagai petir di siang benderang, petuah guru menyentakkan kesadarannya. Mementahkan rencana sukses yang telah disiapkannya. Menyemburatkan rajutan mimpi indahnya. Ia patuhi nasehat gurunya, walaupun pikiran dan tubuh sedikit lunglai, separuh tak bisa menerima. Dalam kalkulasi politisnya ia menyakini sembilan puluh persen akan terpilih sebagai anggota dewan. Tiba-tiba ia harus abaikan itu semua, menafikan ikhtiar yang telah dibuatnya. Namun, ia telah berjanji, taati petuah kyai walaupun keluarga besar, sanak kadang dan tim suksesnya  kaget setengah mati dan tentunya tidak bisa memahami akan keputusan melempar handuk, meninggalkan gelanggang.

Tahun 2012, tiba Pilkada lagi. Ternyata nafsu ingin-kuasanya nongol kembali. Membetot kebengalan dan mengubur petuah gurunya dengan pelbagai alasan rasional yang sengaja dicari-cari: tentang modalitas; tentang kepantasan; tentang nilai kemanfaatan; tentang politik kaum santri; dan tentang-tentang lain yang seakan muaranya kembali kepada dirinya. Kang Paat sudah melupakan saran gurunya. Baginya, petuah itu untuk 2009, bukan 2012.

Ia mantap maju, dan pantang buang handuk kedua kali. Sebagian besar keluarga, sanak saudara, para sahabat tetap berbaris di belakangnya. Tampak ia sungguh-sungguh total-optimal menyiapkannya. Badlul juhdi, mengeluarkan segala daya dan modal yang dimiliki untuk menggenggam kekuasaan yang diidamkannya. Namun, apa yang terjadi sungguh manusia takbisa membuatnya pasti, hatta hanya sekadar memprediksi. Singkat kata: ia “gatot”, gagal total. Tidak hanya gagal menjadi wakil rakyat, tetapi juga sirna semua yang telah ada di tangannya. Merpati takkunjung bisa disangkari, telur di tangan pun hilang dicuri. Dua mobil kesayangannya terjual. Rumah besar nan megah beserta isinya hilang disita bank. Demikian pula dengan tabungan, tanah, dan ladang bisnisnya ludes semuanya. Baginya, serasa roda kehidupan berputar demikian cepatnya. Ia kini kembali pulang ke tanah kelahiran istrinya, seperti saat pertama kali ia menikahinya. Hidup menjadi “kontraktor”, berpindah dari satu kontrakan ke kontrakan yang lain dengan kebutuhan berlebih karena ada lima mulut yang setiap hari harus disuapi.

Kang Paat tetap tak beranjak, masih duduk di depan rumah kontrakan. Tengar-tenger seorang diri tatkala Yuk Ning, istrinya, menyuguhkan secangkir kopi jagung yang tentunya seribu kali kalah enak daripada kopi luwak, andalannya saat jaya dahulu. Namun apa boleh buat! Itulah kehidupan. Manusia seringkali salah tafsir tentang makna kesuksesan atau kebahagiaan di dalamnya. Dan dari itu, Kang Paat telah mendapatkan hikmah yang sesungguhnya.[] Joyosuko Metro, 27 Desember 2016.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s