POLIGAMI

Posted: December 24, 2016 in celetukan
Tags: , ,

poligamiKang To tidak pernah membayangkan ini terjadi dalam hidupnya. Selain tidak ada riwayat atau contoh faktual dalam keluarganya, juga karena cintanya pada perempuan yang dinikahi dua puluh lima tahun lalu itu tak berkurang sedikitpun. Ia merasa sangat bahagia hidup bersama Yuk Tun, seorang guru TK di kampungnya, walaupun sampai saat ini belum dikaruniai semata wayang pun buah dari cintanya.

Bagi Kang To, anak adalah titipan. Sebagaimana hidup ini juga amanah, anakpun demikian. Sang Pemberi Sejati mungkin punya penilaian terbaik mengapa ia tidak diamanahi seorang buah hati walaupun sudah demikian maksimal dalam kadar ihtiarnya sebagai hamba. Dan ia sepenuhnya berserah diri. Ia merasa bodoh akan laju kehidupannya ke depan, karenanya ia hanya belajar bersyukur dengan menikmati keberduaan bersama sang istri tercinta. Ia bertekad untuk menyayangi Yuk Tun apa adanya hingga ajal tak bisa ditolaknya. Saling berbagi dan memberi, saling menjaga dan menyempurna walaupun tak seindah jika ada ananda. Intinya, Kang To ingin hidup apa adanya bersama Yuk Tun. Tidak pernah terbayang sedikitpun, angan-angan apalagi kebutuhan untuk memadu istrinya walaupun sejatinya secara materi ia mampu, karena anugerah rizki berlimpah di genggamannya.

Namun, apa yang dipikirkan Kang To ternyata tidak berbanding lurus dengan yang ada dalam benak Yuk Tun, istrinya. Sudah sebulan ini, ada suasana kurang nyaman antar suami-istri itu. Aliran komunikasi antara keduanya terasa belum menemukan kran pembuangan. Dekapan mesra Kang To saat tidur berdua terkesan hambar tidak seperti biasanya. Serasa keduanya menjelma menjadi dua makhluk tak saling kenal walaupun dekat dan penuh cinta. Hal ini bermula ketika Yuk Tun secara tiba-tiba, tiada hujan tiada angin meminta suaminya untuk menikah lagi.

Bagai petir di siang bolong, tentu permintaan itu membuat Kang To kaget setengah mati. Dengan setengah tak percaya, ia pun menanggapinya tidak serius: “Jo guyon, toh Bu..”

“Aku serius, pak!” timpal Yuk Tun.

“Kalau aku tidak mau, bagaimana?” Tanya Kang To.

“Mengapa?” tanya Yuk Tun balik.

“Karena aku mencintaimu, Bu” jawab Kang To tegas, “Aku tidak mau menyakiti cintaku padamu”

“Benar Sampean mencintaiku?” tanya Yuk Tun kembali.

“Seratus persen! Cintaku tak berkurang sedikitpun sejak sampean menerima lamaranku” jawab Kang To, mantap.

“Dan Sampean tidak mau menyakiti cintamu?”

“Benar!”

“Jikalau cintamu meminta sesuatu, apakah sampean akan menurutinya?

“Iya”

“Dan sekarang cintamu memintamu untuk menikah lagi, mengapa Sampean tidak mengabulkannya? Berarti cintamu tidak utuh! Sampean telah menyakitinya” jawab Yuk Tun, tegas.

“Bukan begitu, maksudku Bu..” ujar Kang To.

“Terus, apa maksud Sampean menolak permintaanku?” tanya Yuk Tun.

“Bu, maaf. Sampean sadar ngomong begini?” tanya Kang To balik.

“Sangat sadar”

Waras?”

“Sangat waras

“Kalau waras, mengapa meminta suamimu untuk menikah lagi?” tanya Kang To.

“Karena aku mencintaimu” jawab Yuk Tun, tegas.

“Apakah benar sampean mencintaiku?” tanya Kang To kembali.

“Seutuhnya, sejak Sampean kuterima sebagai imamku” jawab Yuk Tun tanpa ragu.

“Kalau Sampean benar-benar mau mentaati imammu, jangan memintaku untuk menduakan dirimu” Jawab Kang To tak kalah tegas.

“Tetapi, aku tak rela Sampean menderita karena aku tak mampu menyemaikan benihmu di rahimku” ujar Yuk Tun.

“Kalau memang itu takdirku, aku kan berbaik sangka kepada Allah dan bukan karena salahmu, Bu”

“Sampean orang baik, Pak” kata Yuk Tun lirih, “Dua puluh lima tahun bersamamu, aku bersyukur bisa sangat mengenalmu. Aku yakin, Sampean bisa berlaku adil bila ada istri liyan bersamamu”

“Sudahlah, Bu. Kumohon jangan pernah punya pikiran begitu. Cukuplah bagiku untuk menyukuri keberadaanmu di sisiku. Yakinlah, Tuhan tiada pernah mencipta kehidupan ini sia-sia”.

“Tapi, Pak…”

“Stttttt, cukup Bu, cukup..” ujar Kang To sambil meletakkan hujung telunjuk di bibirnya.

Keduanya kemudian larut dalam diam nan dilematis. Hanyut dalam proses mencinta yang alirannnya “memberi” namun juga “menyakiti”. Dan Kang To tidak pernah mengira bahwa obrolan singkat ini ternyata awal dari ketidaknyamanan hubungan antara dirinya dan perempuan yang dicintainya. Sudah sebulan kira-kira, Yuk Tun berubah menjadi pendiam, pemurung dan jauh dari aura keceriaan. Dan lebih dari itu, ini yang membuat Kang To klepak-klepek. Kebutuhannya sebagai suami tidak mendapatkan pelayanan prima dari sang istri sebagaimana biasanya.

Pertama-tama Kang To menduga, perubahan ini hanyalah reaksi sesaat istrinya seperti tangisan kanak-kanak ketika tak dituruti permintaannya. Namun ketika itu berlangsung lama, Kang To khawatir juga.

“Bu” kata Kang To sambil rebahan di balik punggung istrinya, “mengapa jadi begini?”

Yuk Tun diam saja, namun isaknya mulai terdengar lirih.

Ngomong dong, sayang…” ucap Kang To menggoda.

Yuk Tun tetap membisu sejuta kata, namun tangisnya mulai bersuara.

“Semua permasalahan pasti ada solusinya, asal dikomunikasikan..” kata Kang To sambil tangannya mulai mendekap tubuh istrinya.

“Aku hanya ingin memberikan kebahagiaan pada orang yang kucintai” ucap Yuk Tun dalam tangis, “Mengapa Sampean tidak memberikan kesempatan?”

“Apakah aku terlihat tidak bahagia bersamamu, Bu?” tanya Kang To.

“Tetapi… salahkah jika aku ingin melihatmu lebih bahagia dengan kelahiran anak-anakmu?” tanya Yuk Tun balik.

“Kan kita bisa mengadopsi anak, Bu.. kalau memang itu masalahnya?”

“Tidak. Aku hanya menginginkan anak-anak itu lahir dari benih orang yang kucintai” jawab Yuk Tun dalam isak.

“Sudahlah, Bu. Jangan paksa aku untuk menikahi perempuan lain. Aku tak kuasa menyakitimu” ujar Kang To.

Tiba-tiba Yuk Tun membalikkan badan. Wajahnya persis berhadapan dengan wajah suaminya. Ia tatap mata lelaki yang dicintainya itu seakan ingin menyelam dalam di telaga hatinya seraya berucap: “Agar Sampean mau menikah lagi dan tidak terhalang oleh rasa sakit yang Sampean anggapkan itu ada pada diriku. Bagaimana kalau aku mengajukan gugatan cerai kepadamu?”

Naudzubillah min dzalik” terperanjat tubuh Kang To, hampir-hampir ia terjatuh dari dipan, “istighfar Bu, istighfar… Jauhkan kata cerai itu dari lisan kita”

“Kalau memang dengan begitu, aku bisa melihat orang yang kucintai bahagia, mengapa tidak?” kata Yuk Tun tetap dalam isak, namun terdengar jelas memberikan serangan pasti ke pusat sasaran.

Nyebut Bu, nyebutIstighfar…”

Astaghfirullahal AdzimAstaghfirullahal AdzimAstaghfirullahal Adzim…” ucap Yuk Tun.

“Kumohon Bu, jangan perdengarkan kata itu lagi di telinga kita. Please kumohon” pinta Kang To.

“Maafkan aku, Pak. Tetapi ucapanku, tawaranku tadi serius!” ucap sang istri, pasti.

***

Singkat cerita, Kang To terkapar. Tidak berdaya. Tidak kuasa menolak permintaan orang yang dicintainya, istrinya. Dengan terpaksa ia harus mau berkompromi dalam keputusan bersama. Dan memang demikianlah hidup berjamaah. Ada banyak kompromi yang mesti berakibat pada penanggalan ego-ego pribadi. Dan Kang To menyerah. Mengalahkan keinginan pribadi untuk tetap berbini satu sampai mati. Ia tundukkan hasrat diri itu dalam kesepakatan bersama istrinya dengan meminta tiga syarat, dan Yuk Tun menyetujuinya: pertama, Yuk Tun yang harus memilihkan calon istri kedua suaminya; kedua, Yuk Tun pula yang meminang dan melamar calon madunya itu untuk suaminya; ketiga, bila dalam proses kehidupan bersama nanti ada perselisihan, semisal iri dan cemburu dengan madunya maka Yuk Tun harus membicarakan dengan suaminya di ruang pribadi, tidak meluapkannya di depan istri kedua suaminya.[]

Joyosuko Metro, 24 Desember 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s