BERANGKAT

Posted: November 3, 2016 in celetukan
Tags: , , ,

images“Dul, aku pamit dulu ya. Maafkan saya kalau ada salah” kata Kang Sul sambil menjabat tanganku saat keluar musholah seusai jamaah Isya tadi malam.

“Lho, Kang” kataku kaget, “memangnya Sampean jadi berangkat toh? Kok pakai pamitan segala”

“Do’anya ya… Dul. Mudah-mudahan kita semua, bangsa ini, ummat ini diberkahi Allah dengan keselamatan dan kedamaian” katanya sambil senyum lalu ngeloyor pergi begitu saja, tanpa menjawab pertanyaanku.

Kang Sul memang beberapa hari ini sedang membara hatinya. Luapan ghirrah agamanya sudah sampai ubun-ubun. Ia merasa lebih baik berbalutkan kafan daripada diam saat marwah al-Qur’an, kitab suci agamanya dinista. Azzamnya semakin menggelegar saat ia menyaksikan beberapa kawan bahkan tokoh muslim yang selama ini ia takzimi berteriak lantang membela sang penista. Dengan pelbagai argumentasi dibuat serasional mungkin, mulai dari adanya sekenario hitam barisan sakit hati (sisa pilpres lalu) untuk menjungkalkan sang penista sebelum pilkada DKI, sekenario hitam menghancurkan NKRI, sekenario “men-syiria-kan” Indonesia, sampai menjual al-Maidah: 51 dalam penafsiran yang tak lazim, justru membuat Kang Sul semakin mantap bahwa medan jihad telah terbuka di hadapannya.

Dalam perenungannya, ia ingin berterima kasih pada kawan-kawan, tokoh, dan kyai yang membela sang penista langsung maupun tidak langsung bahwa ucapan mereka, tulisan mereka justru semakin menguatkan dirinya untuk berdiri tegas di batas pembeda siapa pemberani dan siapa pengecut saat agama dihinakan.

Gemuruh api jihadnya semakin mencapai titik klimak saat menyadari bahwa rejim penguasa dalam kasus ini secara terang benderang lebih bertindak tebang-pilih dan mempermainkan keadilan. Habis sudah batas argumentasinya untuk bersabar. Hanya ada satu kata: BERANGKAT!

“Hati-hati Pak, di jalan” ujar Yu Minten, istrinya saat menghantar suaminya keluar rumah, “Janganlah dikau pulang, kecuali dengan nama harum yang terlukis di dinding surga”

“Iya, Bune. Tapi mbok ya.. tidak perlu puitis begitu” jawab Kang Sul, ngguyoni.

“Biar menjadi penyemangat jiwamu dalam membela al-Qur`an” kata istrinya, mantap.

“Tetapi kata mereka, al-Qur`an tidak membutuhkan pembelaan kita. Ada Allah yang menjaganya” ucap Kang Sul, sengaja memancing di dalam bening hati istrinya.

“Tak usahlah engkau dengar dan debat mereka. Firman Allah saja mereka lewati, apalagi sekadar perkataanmu, seorang juragan paving”

“Mereka yang mengatakan begitu ada ustadz, kyai, tokoh masyarakat, dan pimpinan lembaga agama loh, Bu?”

“Biarlah, aku tidak peduli siapa mereka. Yang aku inginkan suamiku bukanlah seorang pengecut dalam membela agamanya. Jika kelak anak kita lahir, saya kan berbangga menceritakan di mana bapak-ibunya saat ia bertanya tentang peristiwa 4 Nopember esok hari” jawab Yu Minten sambil mengusap perutnya yang telah membuncit 8 bulan.

“Terima kasih, Bune. Hatiku semakin kokoh!”

“Kuserahkan jiwa-ragamu kepada Robbil ‘izzati, pakne! Kalau seumpama rejim penguasa tetap mokong dan ingin mengorbankan rakyatnya sebagai martir, kuingin engkau salah satu dari mereka yang syahid. Kalau seratus, yang uluhatinya oleh timah panas tertembus, kuharap engkau salah satunya. Kalau hanya sepuluh, kuingin engkau pula salah satunya. Kalau hanya satu yang mati syahid, aku bermohon dialah dirimu!”

Bismillah, aku berangkat Bune!” ucap Kang Sul sambil mengecup kening isterinya lalu beranjak menuju mobil travel yang akan membawanya ke bandara.

Saat kaki Kang Sul hendak menginjak karpet mobil, dari jauh suara Yu Minten memanggil namanya untuk menunggu sebentar.

“Ada apa lagi, Bune?” ucap Kang Sul kala Yu Minten tiba di depannya.

“Apakah Pakne berangkat karena marah kepada penista Qur’an kita?” tanya istrinya.

“Tidak!” jawab Kang Sul, mantap.

“Karena amarah terhadap sikap penguasa?”

“Tidak!” jawabnya, kokoh.

“Karena amarah kepada orang Kristen?”

“Tidak!” jawabnya, tegas.

“Karena amarah kepada orang Cina?”

“Tidak!” Jawabnya, gigih.

“Lalu… karena apa Pakne berangkat?”

“Karena Allah, Rasulullah, dan Kitab Suci al-Qur`an”

“Berangkatlah, Pakne! Aku mengikhlaskanmu” ujar Yu Minten sambil mengusap tetes air mata bahagia.[] Joyosuko Metro, 3 Nopember 2016.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s