KUCING

Posted: August 25, 2016 in celetukan
Tags:

imageBagi Kang Ran, ini peristiwa biasa saja. Tidak heboh, dan tidak perlu dibesar-besarkan. Tapi bagi Yu Nik, istrinya, kejadian ini mengherankan. Menyandera nalarnya. Mengebiri akal logisnya. Membuat kedua matanya terpejam, namun hatinya tak bisa istirahat. Kepikiran. Tidak hanya itu, ia pun menjadi tak bisa makan enak seperti biasanya. Tampaknya Yu Nik telah menjadi korban perasaannya sendiri.

“Biasa toh Bu” ujar Kang Ran, “kucing masuk rumah saat pintu terbuka, lalu terkunci, tidak bisa keluar dan buang kotoran sembarangan”
“Bukan itu masalahnya, Pak” sanggah Yu Nik.
“Lalu apa?” tanya suaminya.

“Pertama” Jawab Yu Nik “Saya tidak bisa memastikan itu kotoran kucing atau bukan karena bentuknya tak lazim sebagaimana yang kita kenal. Kedua, Kalau benar itu ulah kucing, mengapa ia buang kotoran di atas kasur padahal di halaman belakang ada taman. Dan ketiga, ini yg membuat saya semakin tak bisa berpikir rasional. Saya datang, ketika masuk kamar saya mencium bau bacin mengganggu hidung. Lalu saya merebahkan diri di kasur hampir satu jam sambil membaca pesan-pesan di HP. Setelah kumpul PKK, dengan maksud mencari sumber bau, saya masuk kamar dan menemukan kotoran itu utuh di samping bantal. Pertanyaannya, mengapa baju yang saya pakai tidak kena sedikitpun?”
“Bu, apapun dalam hidup ini kalau kita permasalahkan ya jadi masalah. kalau kita anggap biasa ya biasa saja”
“Tapi bagi saya ini luar biasa, pak”
“Apanya yang luar biasa?” komentar Kang Ran sambil lalu.
“Ya… itu tadi. Sampean kok ya tidak paham juga toh Pak?” ujar Yu Nik mulai agak jengkel dengan sikap suaminya yang datar begitu.
“Lha.. memang tidak dibutuhkan pemahaman yang dakik toh, Bu” ucap suaminya.
“Tidak, bagi saya tetap saja ini tidak biasa” kata Yu Nik.
“Apa perlu saya minta kucingnya untuk buang kotoran di kasur seratus kali baru ibu bisa menganggapnya biasa?” seloroh Kang Ran ngguyoni.
“Ngawur!”‘
“Lha terus bagaimana? Sudahlah bu.. tidak perlu baper begitu. Lebay. kepikiran terus. masih banyak hal penting yang membutuhkan perhatian kita dari pada sekadar mikirkan tai kucing”
“Oh, jadi sampean menganggap kejadian ini tidak penting, begitu?”
“Iya. Apa pentingnya coba?” jawab Kang Ran sekenanya, “Cobalah ibu belajar ikhlas. Nanti kan enak-enak saja hidup ini. Bukankah semua peristiwa yang terjadi dalam kehidupan ini tak luput dari takdirNya? Kucing ini sengaja didatangkan oleh Allah kepada kita, bukan kepada tetangga kita. Kita dipilih oleh Allah untuk menerima hadiah dari kucing itu, bu. Pasti ada hikmahnya. Mungkin agar kita bisa belajar bahwa tidak selamanya hidup ini berjalan seperti yang kita pikirkan. Bisa jadi agar kita sadar bahwa apa yang kita anggap tidak baik, belum tentu begitu di hadapan Tuhan. Atau… bisa juga… bisa juga…”
“Bisa juga, apa?” tanya Yu Nik ketus.
“Bisa juga pelajaran dari tai kucing itu adalah agar ibu belajar ikhlas menerima keberadaan hewan tersebut di sekitar kita. Bukankah selama ini ibu tak sudi ada kucing di rumah kita? Baru lewat di depan pagar, ibu sudah siram dengan air” jawab Kang Ran dengan sabar.
“Habis menjengkelkan sih..” gerutu Yu Nik, “Baru saja ikan goreng ditaruh di meja digondolnya tanpa sisa. Belum lagi, tong sampah depan rumah sering digulingkan dan dieker-eker isinya”
“Itu hewan kesayangan Rasulullah loh Bu. Siapa tahu, keikhlasan kita menerima hadiah dari hewan tersebut lalu bersabar karenanya lebih diridhai Allah daripada amal ibadah kita yang banyak cacatnya..”
“Bisa.. bisa…bisa..” ucap Yu Nik sambil kepalanya mantuk-mantuk.
“Bisa apa, Bu?” tanya Kang Ran, penasaran.
“Bisa diterima penjelasan sampean, Pak” jawab Yu Nik mantap.
“Siapa dulu dong… suamimu? Kasmiran gheto lho….hihihi” ujar Kang Ran, cengengesan.
“Jadi, kejadian ini memberikan pelajaran tentang ikhlas ya, Pak?” tanya Yu Nik dengan senyum manisnya yang dua puluh tahun lalu pernah membuat Kang Ran klepak-klepek.
“Bentul, eh betul… yayangku” jawab Kang Ran yang ternyata saat ini pun masih klepak-klepek.
“Juga, mengajarkan kesabaran ya?” lanjut Yu Nik.
“Oh… yayangku super sekali. Benar…”
“Agar pelajaran ikhlas dan sabar itu lebih terasa lagi bagiku, tolong saya ya pak..” pinta Yu Nik penuh siasat.
“Yayangku minta apa sih? tidak perlu sungkan. Ada arjunamu di sini” kata Kang Ran, tidak sadar. Tampaknya ia masih klepak-klepak terkena senyum manis istrinya.
“Agar ikhlas itu bisa saya rasakan..”
“Iya, cayang…”
“Agar sabar itu bisa saya lihat nyata..”
“He’e, yayangku mau minta apa sih? katakan segera..” ucap Kang Ran mulai tidak sabar juga.
“Benar nih, mau nolong?” tanya Yu Nik, tetap dalam senyuman.
“Iya, cayang..”
“Tidak menyesal?”
“Untuk yayangku, mana ada penyesalan..”
“Tidak menggerutu?”
“Ya tidaklah… kan agar ikhlas dan sabar bisa yayangku lihat nyata”
“Okelah kalau begitu..” Ucap Yu Nik kalem, namun setelahnya nyerocos permintaan dari mulutnya seperti air yang mengalir deras dari kran yang rusak: “Dengarkan baik-baik! Tolong itu tai kucing segera dibersihkan. Kasur, seprei, dan bantal-bantalnya cepat dikeluarkan lalu dicuci yang bersih sampai hilang semua najis, warna dan baunya. Tidak boleh ada yang tertinggal sedikitpun.. sedikitpun!”
“Ancur ancur” gerutu Kang Ran dalam diam. Tampak di depan matanya berbayang upaya perjuangan untuk ikhlas dan sabar karena memang selama ini terkait pekerjaan rumah tangga ia tahunya beres semata.
“Emang gampang belajar ikhlas dan sabar..” kata Yu Nik sambil tersenyum. Manissss sekali, namun kali ini Kang Ran malah keseper.[] Joyosuko Metro, 25 Agustus 2016

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s