“BODOH”

Posted: July 21, 2016 in celetukan, cerpen
Tags:

images (1)HP di saku Dul berdering saat ia dan keluarganya pada etape terakhir berlebaran di rumah para tetangganya. Dipungutnya telepon pintar itu dan tertera nama Kang Tono. “Assalamualaikum..” terdengar suara dari speaker.
Waalaikum salam” balas Dul, “Iya Kang, di mana?”
“Di depan rumahmu. Sampean di mana?”
“Oh iya, Kang. Sebentar ya, saya masih di rumah Pak Hendru. Setelah ini langsung pulang”
“Injih, saya sabar menunggu, Kang” Jawab Kang Tono di ujung telepon.

Seusai bersalam-salaman dengan Pak Hendru dan keluarganya, Dul memohon pamit. “Siapa Pak, yang nelepon?” tanya Yu Ila, istrinya.
“Kang Tono, Bu. Ia sudah di depan rumah”
“Ya sudah, Bapak temui beliau segera” pinta Yu Ila bersemangat, “saya dan anak-anak akan menghabiskan tetangga yang tersisa”
“Bolehlah kalau begitu. Salam buat mereka ya Bu..” ujar Dul lalu bergegas pulang.

***

Di depan rumah terlihat Kang Tono, istri dan kedua putrinya duduk di teras. “Ayo Kang, monggo pinarak” ajak Dul mempersilakan sambil tangannya memutar gagang pintu.

Minal aidin wal fazin, Kang” ucap Kang Tono sambil meletakkan ujung bokongnya di kursi tamu, “Ngaturaken sedoyo kelepatan, Kang” lanjutnya dengan senyum terkembang.

Sami-sami, Kang” jawab Dul, “demikian pula kami sekeluarga, mohon dimaafkan segala khilaf dan dosa”

Sami ugi kulo lan keluarga, Kang Dul” jawab Yu Tini, istri Kang Tono.

“Ayo monggo didahar jajane” pinta Dul sambil tangannya lincah membuka tutup beragam toples di meja. “Bagaimana si Niswa, Kang? jadi kapan berangkat nyantri?” tanya Dul membuka pembicaraan.

“Itulah Kang..” jawab Kang Tono lesu. Demikian pula, dengan Yu Tini, wajahnya tertunduk menatap ujung jemari kakinya. Sementara Niswa sibuk menenangkan adiknya yang agak rewel.

Dul mencium ada yang tidak beres dengan suasana kebatinan suami-istri di depannya. Saat Ramadhan kemarin, keduanya bersemangat mendukung permintaan putri pertamanya yang ingin belajar di pesantren. Namun, mengapa sekarang saat pendaftaran dan tes masuk tinggal beberapa hari keduanya terlihat mengkeret, kehilangan daya.

“Itu bagaimana, Kang?” tanya Dul untuk mencairkan kebekuan.

“Itulah di antara maksud kedatangan kami kemari” ujar Kang Tono sambil menghela napas besar di hujung hidungnya, “untuk memberitahukan..”

“Memberitahukan apa, Kang?” Dul penasaran.

“Kayaknya kami tidak jadi berangkat. Kami berdua telah memutuskan, Niswa tidak jadi nyantri” jawabnya kurang bergairah.

“Mengapa Kang?” tanya Dul, “padahal saya dan istri tadi malam sudah bersepakat untuk memberikan pinjaman lima juta, biaya pendaftaran awal. Kapan pun boleh sampean cicil semampunya..”

“Kalau itu insyaAllah sudah ada Kang. Sebagian besar hasil pinjaman dari mbahnya Niswa, dan sisanya lagi dukungan dari para jamaah musholla kita. Bahkan untuk berangkat ke pesantren malam ini Pak Muh memberikan tumpangan kendaraan bareng dengan putrinya yang juga hendak didaftarkan..”

“Lha terus.. apa yang menghalangi sampean untuk mewujudkan impian si Niswa, Kang?” tanya Dul, masih penasaran.

“Begini Kang. Sebenarnya kami malu mengutarakannya, tetapi kami harus jujur pada Sampean agar tidak menyalahkan kami karena sampean paling kuat mendukung Niswa ke pesantren” jawab Kang Tono masih kurang daya. Sementara Yu Tini, istrinya, tetap menunduk ke hujung kakinya.

Intinya, suami istri ini mencoba bersikap realistik dalam menjalani kehidupan. Apalagi jika itu terkait sumber finansial. Kang Tono merasa ia hanya seorang loper koran dan karyawan rendahan warung photocopi yang bergaji jauh di bawah UMR. Sementara istrinya seorang pembantu rumah tangga yang bayarannya habis untuk nyicil ke majikannya atas rumah sangat sederhana yang mereka diami dalam keterbatasan. ” Kami tidak sanggup lagi harus nyicil pinjaman lima juta di atas, belum lagi SPP dan uang makan di pondok perbulan Rp. 650.000. Itu kalau diterima menjadi santriwati. Kalau tidak lolos ujian masuk, uang lima jutaan itu tidak semuanya dikembalikan. Satu juta saja misalnya uang itu tidak bisa diambil, bagi kami, itu adalah jumlah yang amat banyak. Kami merasa sangat berat harus hidup dengan cara gali lubang tutup lubang, Kang” ucap Kang Tono dengan mata berkaca-kaca. Sementara Yu Tini, tetap menunduk untuk menyembunyikan air matanya. Di dalam batinnya, ibu muda ini menjerit dalam dilema. Terjepit dalam kerasnya pertarungan antara harapan dan kenyataan, idealitas dan realitas, das sein dan das solen. Antara harapan bisa membentangkan karpet merah masa depan putrinya agar tidak copy-paste nasib dirinya dihadapkan dengan kenyataan sehari-sehari yang berkisah tentang sulitnya bertahan hidup dalam derita kefakiran dan ancaman kekufuran.

“Sebenarnya eman loh, Kang” ujar Dul, “Niswa punya potensi. Ngajinya bagus, prestasi akademik dan kecerdasan sosialnya juga. Eman kalau tidak disalurkan”.

“Itulah yang membuatku menangis. Sekali saja menjadi orang tua, ternyata tidak mampu memberikan yang terbaik. Tetapi bagaimana lagi? Aku tak berdaya!” ujar Kang Tono ngelokro. Sementara Yu Tini tetap menunduk dalam tangis yang tertahan.

“Sebenarnya, Sampean bisa Kang, kalau mau” kata Dul.

“Mau apa, Kang?”

“Mau berani untuk sedikit nekat” kata Dul asal ngucap, “orang bilang, hidup itu harus dilakoni secara pintar, namun orang pintar seringkali kalah dengan orang nekat, walaupun orang nekat masih kalah beruntung dengan orang bejo”

“Maksud sampean, kami harus nekat mondokkan Niswa dengan mengabaikan ketidakmampuan finansial keluarga kami?” ujar Kang Tono setengah tak percaya.
“Benar, Kang!” jawab Dul mantap.

“Tidak Kang. Itu gila, namanya. Tak tahu diri”

“Ya… namanya juga nekat, Kang. Kalo Tahu diri itu namanya bukan nekat..” jawab Dul.

“Tapi itu sama saja dengan bunuh diri!” ujar Kang Tono masih kurang bersemangat.

“Kalau itu belum tentu, Kang. Di sinilah iman kita diuji” ucap Dul, “Kita semua bodoh dalam malakoni hidup ini. Goblok semua. Tidak ada yang tahu apa isi lembar demi lembar takdir kita esok hari. Karenanya kadang diperlukan keberanian untuk nekat mempertaruhkan antara ikhtiar dan tawakkal. Ikhtiar itu bahasa lain dari kepintaran meramu realitas, sedangkan tawakkal itu istilah liyan dari upaya merengkuh ke-bejo-an. Ingat Kang, sinetron kehidupan seringkali menayangkan kekalahan orang pintar oleh orang bejo. mengapa bisa begitu? karena pada orang pintar seringkali muncul penyakit sombong sehingga sok bisa memastikan hasil rekayasa realitas yang diramunya. Ia lupa bahwa ada Dzat yang Maha Menentukan hasil rekayasa realitas. Di sinilah, orang bejo memerankan diri. Ia menguatkan imannya bahwa hanya Dzat itulah Yang Maha Memberi atau Menangguhkan pemberiannya. Karena baginya, kebodohan itu melahirkan peluang hasil fifty-fifty untuk keberhasilan atau kegagalan”

“Maksude piye, Kang? Kok tambah mumet sirahku” kata Kang Tono singkat.

“Hehe, sorry Kang” ucap Dul, nyadar kalau yang dihadapi bukan mitra guru seperti dirinya.

“Jelasnya, mungkin begini, Kang. Apakah sampean bisa memastikan kalau Niswa nyantri sampean akan hidup dengan cara gali lubang tutup lubang?”

“Kayaknya sih… begitu”

“Yang pasti Kang! iya atau tidak?” desak Dul.

“Ya.. tidak bisa dipastikan, Kang Dul!”

“Terus… apakah Sampean bisa memastikan kalau Niswa nyantri, kondisi Sampean akan lebih baik?”

“Ya.. sama juga tidak bisa dipastikan, Kang Dul”

“Sama-sama tidak bisa dipastikan toh?” Dul menegaskan.

“Iya”

“Itulah kebodohan kita, Kang. Tetapi mengapa kita lebih memilih prasangka buruk terhadap ketidakpastian di atas? Kan tidak ada salahnya toh.. kalau misalnya kita berprasangka baik. misalnya, siapa tahu perekonomian Sampean akan membaik setelah Niswa nyantri. Agama kita mengajarkan bahwa setiap Allah menitipkan anak kepada kita, Dia pula menyertakan rizkinya bersama kita”

“Iya, Kang Dul. Tetapi mungkin saya belum bertawakkal dalam hal ini”

“Wis, Kang… Bismillah berangkat malam ini ke pesantren. Sambut ajakan baik Pak Muh untuk ikut mobilnya” kata Dul memberikan dorongan.

“Kami belum bisa memantapkan diri, Kang” ucap Kang Tono, masih ngelokro.

“Kang, Bismillah, berangkat! Sampean tahu tidak, ketika sampean tidak nyantrikan Niswa, sesungguhnya sampean telah menutup jalan-jalan surga bagi para tetangga yang selama ini telah ikhlas memberikan dukungan pada cita-cita Niswa baik secara moril maupun materiil seperti Pak Muh, Kang Sigit, Kang Mun dan Mbok Mini”

“Iya, Kang Tono, Yu Tini, berangkat saja malam ini, bismillah” ujar Yu Illa, istri Dul tiba-tiba bergabung di ruang tamu sambil membawa nampan di atasnya lima cangkir teh hangat. “Kalau sampean-sampean tidak berkeberatan, bagaimana kalau nanti ketika Niswa sudah diterima jadi santriwati, bulanannya kami yang nanggung?”

Piye bu?” tanya Kang Tono pada istrinya, “Dukungan keluarga Kang Dul tidak main-main loh..”

“Terserah Sampean, Pakne” Jawab Yu Tini, “Tapi Enam Ratus Lima Puluh Ribu Rupiah perbulan tidaklah sedikit loh, Yu Illa” tegas Yu Tini dengan mata berkaca-kaca menahan haru, “apalagi ini selama enam tahunan”.

“Nggak apa-apa, Yu Tini. Bismillah. Gusti Allah mboten sareh” jawab Yu Illa penuh keyakinan. Sementara Dul, diam memendam tanya. Sejak kapan istrinya bisa memutuskan akan menanggung SPP dan uang makan Niswah setiap bulan. Tidakkah ia sadar, bahwa dana tersebut bukanlah sesuatu yang sedikit.

“Kalau nanti benar-benar Niswa diterima jadi santriwati, Sampean mesti bisa menabung Yu” pinta Yu Illa pada Yu Tini, “misalnya dua ribu rupiah perhari agar setahun bisa melunasi pinjaman lima juta tadi”.

Injih, Yu” jawab Kang Tono dan istrinya hampir berbarengan.

Singkat cerita, suami-istri itu pada akhir pertemuan merasa mantep untuk memberangkatkan putrinya ke pesantren setelah meneguhkan diri dengan memperkuat tawakal dan husnudz-dzannya kepada Tuhan Pemilik serta Pengatur hidup-kehidupan. Sementara Dul, masih menyisakan tanya yang menuntut jawaban segera. Sepeninggal tamunya, Dul meledakkan hatinya dalam tanya kepada Yu Illa: “Bu, tidak salahkah keputusan Sampean tadi?”

“Tidak” jawab Yu Illa mantap.

“Sadar?”

“Sangat sadar”

“Yakin”

Haqqul yaqin

“Ada duitnya?”

“Belum ada”

“Kok yakin?”

“Karena keyakinan tidak butuh duit” jawab Yu Illa, enteng.

“Jo guyon! serius ini Bu”

“Lha, apa saya terkesan sedang bercanda, Pak?”

“Tapi, ini berat loh, Bu. Enam Ratus lima Puluh Ribu perbulan kali Dua Belas kali enam tahun”

“Itu karena sampean hitung-hitung, Pak” sela Yu Illa, “Coba lakukan saja Pak, nanti kan ringan. Ada saja duitnya”

“Kok Sampean yakin banget?”

“Karena keyakinan seringkali tidak berjalan bareng dengan kepintaran matematis. Kan tadi sampean bilang begitu pada Kang Tono?” tembak Yu Illa.

“Itu kan untuk memotivasi Kang Tono dan Yu Tini, bu?” sanggah Dul.

“Apakah Kang Tono dan Yu Tini berhasil dimotivasi?”

“Kayaknya sih tidak..”

“Setelah nggedabruss sekian lama, tidak berhasil?” ujar Yu iIlla, menyerang.

“Iya, Bu” jawab Dul kalem, penurut di depan Isterinya.

“Tahu tidak apa sebabnya, Pak?”

“Apa? Coba?” tanya Dul agak malu.

“Karena sampean Jarkoni!” jawab Yu Illa.

“Apa itu jarkoni?”

Iso ngajar, tapi raiso ngelakoni hehe” jawab Yu Illa sambil cekikikan. Sementara Dul, memerah wajahnya menahan malu, “keteladanan adalah motivasi terbaik. Kalau omong doang, orang gila jagonya” lanjut Yu Illa.

“Terus.. apa yang membuat sampean memutuskan menanggung biaya bulanan Niswa tanpa merundingkannya denganku?” tanya Dul.

“Karena kebodohan! Kan sampean yang bilang begitu pada Kang Tono” jawab Yu Illa cepat, “pertama, kita bodoh, tidak mengerti mengapa Allah menghadirkan problematika keluarga Kang Tono kepada kita, mengapa tidak kepada orang yang berduit lebih banyak dari kita? bisa jadi Allah menawarkan jalan surga kepada kita, maka harus cepat diambil. Kedua, kita bodoh, tidak pernah tahu, jangan-jangan amal kebajikan seperti inilah yang mendapatkan ridha-Nya di saat shalat, puasa, zakat dan haji kita memang tidak bisa diandalkan”

Klekep. Dul terdiam, kalah. Segagah jenderal pun seorang lelaki, tetap saja pecundang di hadapan isteri.[]

Gontor, 20 Juli 2016.

Comments
  1. follow me says:

    I’ll gear this review to 2 types of people: current Zune owners who are considering an upgrade, and people trying to decide between a Zune and an iPod. (There are other players worth considering out there, like the Sony Walkman X, but I hope this gives you enough info to make an informed decision of the Zune vs players other than the iPod line as well.)

  2. That is the best blog for anyone who desires to search out out about this topic. You understand so much its nearly exhausting to argue with you (not that I truly would need aHa). You positively put a brand new spin on a subject thats been written about for years. Great stuff, simply great!

  3. Eugenio Kwok says:

    Spot i’ll carry on with this write-up, I truly believe this site needs a lot more consideration. I’ll apt to be once again to learn additional, thanks for that information.

  4. Liz Spraggs says:

    Girls’ Sandals

  5. betagan canada levobunolol hydrochloride dictionary levobunolol ophthalmic solution betagan drops used betagan c-cap betagan ndc betagan timoptic levobunolol works levobunolol monograph betagan heart failure levobunolol antiglaucoma levobunolol manufactu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s