GERBANG

Posted: July 18, 2016 in celetukan
Tags:

imagesDua puluhan tahun yang lalu, gerbang ini biasa ia lalui saat lari pagi setiap Selasa dan Jumat sepanjam enam tahun dengan perasaan yang tidak istimewa. Namun kali ini, berbeda. Tiba-tiba saja ada pemaknaan ulang yang membetot kesadarannya. Dengan tangan kanan menggandeng putra pertamanya, gerbang ini membawanya kembali ke masa di mana ayahnya dahulu juga menggandengnya di sini. Mendaftar menjadi santri di almamater ini.

Liku-liku ia jalani dalam thalabul ilmi. Semula berjalan datar, normal. Bibir bisa ia sunggingkan untuk membuat senyum sepuluh senti di setiap awal bulan, kala namanya tercantum di etalase depan kantor qism idaroh (bagian administrasi). Bukti wesel dan paket kiriman orangtuanya akan menyambung nyawa semangat belajarnya. Bila lauk di dapur umum kurang mampu menggoyang lidahnya, ia bisa menggantinya dengan pepes atau sebungkus ikan asin yang dibeli dari Walapa (warung lauk pauk). Bila perut terasa bersuara karena penatnya belajar malam, setidaknya ia masih bisa mengajak seorang teman untuk gagah memasuki kiftir (kantin santri) walaupun sekadar memesan sebotol temulawak made in ustadz Mahmud (Allah yarhamuh), dan selebihnya tandzif maqrunah dari meja-meja di sebelahnya.

Suasana indah di atas tiba-tiba harus terhenti di awal tahun ketiga. Selembar surat dari ayahnya serasa mewariskan kegelapan: Ayahnya mendapatkan PHK dari kantornya sehingga semua modal finansial berhenti seketika. Tiada perintah dari risalah itu yang mengharuskannya putus sekolah. Pun tidak ada pula amar untuk melanjutkannya. Semua digantungkan ayahnya di atas pundaknya sendiri sebagai anak zaman. Perasaannya diselimuti syak wasangka dan dibalut kebingungan. Hanya untaian kalimat pamungkas surat ayahnya yang sedikit menyalakan keberanian untuk mampu bertahan.

Hari-hari berikutnya tidak lagi memijarkan cahaya kegembiraan. Tiap akhir bulan, ia merasa dihantui tagihan SPP dan uang makan. untuk itu ia hanya berserah dalam munajat kepada Tuhan, bahwa Dia tidak pernah meninggalkan hamba-Nya sendirian. Pasti suatu saat nanti, uluran tangan-Nya akan datang. Ia sangat meyakininya. Sepanjang empat tahun tersisa, ia tidak memiliki buku, hatta kertas selembar pun, karena memang secuil koin saja tak pernah mampir di saku celana. Di dalam kelas, ia selalu berusaha keras untuk memperhatikan uraian ustadz dengan mengandalkan memorinya semata walaupun kantuk seringkali menderunya. Wajarlah, karena setiap malam ia hanya tidur tiga jam. Selebihnya ia manfaatkan untuk syahirul lail (begadang) membaca kitab-kitab pelajaran yang esok pagi harus segera dikembalikan ke pemiliknya, juga merangkumnya di atas kertas-kertas buangan yang ia pungut dari manapun ia lihat.

Sepanjang empat tahun ia lalui alur kehidupan tak biasa itu dalam sepi dari pantauan santri liyan. Mereka hanya mengenalnya sebagai sosok yang kurang gaul. Pakaian amat sederhana, serta sering terlihat hanya berkutat di masjid, kamar, dan kelas saja. Tidak pernah tampak di lapangan olahraga, kelas kursus keterampilan maupun kesenian, sehingga tidak banyak yang mengetahui deritanya, hatta pengasuh dan kyai pesantrennya. Memang sejak secarik kertas ayahnya datang, ia sudah bertekad untuk tidak berbagi derita kepada orang lain, apalagi mengemis belas kasihan mereka. Baginya, selain yang demikian adalah tanda orang yang tidak pandai bersyukur, juga melanggar prinsip yang dipegangnya bahwa hidup adalah kesediaan dengan ikhlas menerima akibat pilihan.

“Bi, abi..” panggilan putranya membuat ia tersadar. “Iya, sayang?” jawabnya, tergeragap.
“Abi melamun ya?”
“Iya, sedikit hehehe” Jawabnya malu-malu.
“Sedikit bagaimana? Dari gerbang sana sampai tempat pendaftaran sini, abi senyum-senyum sendiri kok dibilang sedikit..” protes anaknya.
“Oh.. sejak dari gerbang itu ya? maafkan abi ya”
“Melamunkan apa sih, Bi?” tanya anaknya.
“Tentang masa-masa Abi belajar di sini. Nanti Abi ceritakan deh, janji. Sekarang kamu minta formulir pendaftaran di kakak berjas dan berdasi itu, lalu kamu isi dengan sungguh-sungguh. Karena itu adalah awal kamu memasuki gerbang kesuksesan insyaAllah..”[]

Gontor, 17 Juli 2016

Comments
  1. Development of Africa

  2. Jeff Wirght says:

    ligue des champions

  3. osrodek terapii uzaleznien

  4. TANTRIC MASSAGE IN CENTRAL LONDON

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s