GAGAL

Posted: November 11, 2015 in celetukan
Tags: , , ,

gagalMbah Mis tengah terbaring lemas di atas ranjang rumah sakit elit sejak seminggu lalu. Ia hanya ditemani suaminya, Mbah Mus, dan keponakannya yang setia, Yu Na. Lalu ke mana anak dan mantunya? Mengapa tak satupun yang tampak bersabar mendampingi dalam sakitnya? itulah yang senantiasa terbetik dalam pikiran para pembesuk termasuk saya.

Orang sekampungnya amat tahu siapa Mbah Mis dan Mbah Mus. Mereka berdua secara ekonomi termasuk orang kaya di kampungnya. Dan dunia selalu saja meletakkan kekayaan sebagai salah satu pendongkrak status sosial, maka Mbah Mus/Mis pun dihormati oleh masyarakatnya. Apalagi Mbah Mus, sang suami, pernah nyantrik di pesantren saat tidak semua anak mampu mendapatkan pendidikan agama tersebut. Sehingga ia didaulat untuk menjadi imam tetap di masjid besar kampungnya. Lengkap sudah. Aspek ekonomi okey, aspek keagamaan sip. Jadinya keluarga mereka pantas mewakili santri-pedagang yang sukses.

“Cukup ada Munaro di sampingnya, Mbah Mis sudah ayem, Dul” kata Mbah Mus kepada lelaki paroh baya yang sedang besuk. Yu Na yang duduk di samping ranjang Mbah Mis, tampak tersipu, bangga, dan bertambah semangat memijat kaki budenya.

“Orang tua mana sih Dul, yang mau begini” tiba-tiba Mbah Mis berkomentar lirih. Lelaki paroh baya berusaha mendengarnya penuh empati. “Aku terus terang iri dengan keluarga besarmu, Dul”.

“Apa yang layak diiri dari kelurga kami, mbah?” timpal lelaki yang dipanggil Dul dalam keterkejutan. Setengah tidak percaya. Mana mungkin keluarga sekaya Mbah Mis/Mus justru melirik keluarganya yang hidup dalam keterbatasan.

“Kalau Mbah Fat, ibumu tidak tampak keluar kamarnya sejam atau dua jam saja” tutur Mbah Mis, “Semua anak dan mantunya sudah pada berdatangan dari rumahnya masing-masing, berkumpul dan menungguinya penuh perhatian”.

Mbah Mis minta Yu Na mengambilkan air minum, lalu melanjutkan: “Sedangkan saya di sini, walaupun sudah seminggu, anak dan mantu hanya sekadar jenguk seperti bukan keluarga”.

“Mungkin mereka sibuk, Mbah. Pekerjaannya tidak bisa ditinggalkan” komentar Dul sekadar menjaga agar orang tua yang masih memiliki hubungan kerabat jauh dengannya ini tidak terkesan ngomong sendiri.

“Pekerjaan kan tidak digendong siang malam, Dul” jawab Mbah Mis, “Apa susahnya berangkat ke sini? Mereka tinggal klik greng, mobil sudah siap di depan rumah masing-masing. Kalau mereka punya kemauan, pastilah setiap saat bisa kemari” tampak Mbah Mis meneteskan air mata. Lalu menerawang dalam diam. Dul pun tidak berani berkata apapun. Hanya membiarkan orang tua ini tenggelam dalam pikirannya, sambil terus ia pijiti lengan kanan Mbah Mis yang tak terpasang infus.

Ruang inap ini pun terbawa emosi Mbah Mis yang dalam diamnya terus meneteskan air mata. Mungkin ia sedang meratapi anak pertamanya. Rumah megah dua lantai dan toko beserta isinya ia berikan kepada sang sulung tersebut. Namun si anak jarang sekali menjenguk ibunya walaupun rumahnya hanya dipisah jalan raya. Suaminya yang orang jauh juga demikian. Sebulan sekali mudik dari pekerjaannya, namun sudah tiga tahun ini tak sedetikpun mau sowan apalagi sungkem ke rumah mertuanya, hatta di saat lebaran sekalipun.

Mungkin pula Mbah Mis sedang tidak bisa menemukan argumentasi, mengapa anak keduanya, lelaki satu-satunya yang diharapkan bisa mewarisi nama besar keluarganya juga tidak bisa diandalkan. Rumah megah dua lantai, tempat ia dan kedua saudaranya dilahirkan dihibahkan kepadanya. Demikian pula dengan mobil mewah keluaran terbaru dibelikan untuknya. Namun, akhir-akhir ini ia mulai pandai membantah orang tuanya, dan gampang iri kepada saudaranya.

Mungkin pula Mbah Mis sedang tidak habis pikir mengapa anak terakhirnya, perempuan, yang ia harapkan bisa menemani hingga akhir hayatnya di rumah besar nan mewah yang kini ditempati, yang juga akan dihibahkan kepadanya, justru si bontot itu menuntut dibangunkan rumah sendiri secara terpisah seperti saudara-saudaranya agar, katanya, bisa mengatur dan merawat sendiri.

“Dul!” tiba-tiba Mbah Mis memecah kesunyian.

Injih, Mbah” jawab Dul.

“Kami telah gagal sebagai orangtua!” ujarnya lirih, memendam kesedihan.

“Oh, mboten Mbah. Njenengan dan Mbah Mus telah berhasil, setidaknya dalam mengantarkan anak-anak untuk siap menjalani kehidupan mereka…” kata Dul, berusaha menghibur.

“Tidak, Dul. Ternyata menjadi orang tua itu tidak saat kita bisa melahirkan anak-anak, membesarkan dan memberikan sarana kehidupan bagi mereka. Tetapi menjadi orangtua itu ketika kita bisa mendampingi mereka menjadi diri yang kaya hati”[]

Luminor Hotel, Surabaya 11 Nopember 2015.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s