JIDAT

Posted: November 3, 2015 in celetukan
Tags: , ,

jidatSampean laopo toh, Pak? (Kamu sedang apa, pak?)” Ujar Yu Siti pada suaminya, Kang Tain yang sedang berusaha keras menggosok-gosok jidatnya di depan cermin untuk menghilangkan dua bulatan hitam yang membekas di sana.

Nggak, Bu. Hanya membersihkan wajah kok! ” jawab Kang Tain ringan.

“Bersihkan wajah kok nggak ndang mari (tidak segera selesai)” ucap Yu Siti sambil mendekat ke suaminya.

Lho, Pak?!” Teriak Yu Siti terkejut, “Mana jenggotmu? kok dipotong sih, Pak? Tidak rela saya! Nggak sudi lihat Sampean klimis begitu” lanjutnya sambil mukul-mukul pundak suaminya.

“Ya… nanti kan juga tumbuh lagi toh, Bu” kata Kang Tain nyantai.

“Tidak!” teriak Yu Siti merajuk, “Aku tidak mau punya suami klimis begitu. Terlihat kurang jantan, Pak!”

“Ya, hanya sekali ini saja, Bu. Besok-besok tidak akan kupotong lagi!” hibur Kang Tain agar istrinya bisa diam dan ia bisa melanjutkan program menghilangkan “noda hitam” di jidatnya.

“Janji ya, Pak!? Tenan iki (Benar ini)!”

“Iya”

Jo mbujuk! (Jangan bohong!)”

“Iya, sayang..” jawab Kang Tain sambil tangannya memegang dagu sang istri dan tatapannya menghujam dalam di kelopak mata ibu dari anak-anaknya itu. Sedikit romantis, namun agak kaku, dan terkesan dipaksakan. Karena memang Kang Tain bukan tipe suami yang mudah mengumbar gombal dari mulutnya. Walaupun begitu, tetap saja Yu Siti tampak kleper-kleper seperti merpati betina seusai kawin.

“Tapi Pak, kalau boleh tahu, mengapa sih kok tumben-tumbennya itu jenggot dihabisi?” Tanya Yu Siti yang terlihat masih ada bekas kemerahan di pipinya.

“Ya, biasa saja toh, Bu. Sekali-kali ingin tampil klimis” jawab Kang Tain ringan.

Mbujuk, Sampean Pak!”

Mbujuk, bagaimana?”

“Saya sudah bersamamu belasan tahun, sungguh saya sangat mengenal Sampean. Sejak sebelum menikahiku, Sampean telah memelihara rambut sekepal tangan di dagumu. Dan terus terang Pak, itu di antaranya yang membuatku langsung terkintil-kintil, menerima pinanganmu. Selain aura kejantanan yang kurasakan saat melihatmu, juga karena alasan yang sering Sampean katakan, sebagai ittiba’ sunnah Rasul SAW. Tapi tiba-tiba sekarang Sampean memotongnya. Pasti ada alasan khusus. Iya toh?”

“Nggak, Bu. Tidak ada alasan khusus”

“Terus…diam-diam Sampean juga saya perhatikan dari tadi di depan cermin menggosok-gosok jidat seakan ingin menghilangkan itu noda hitam. Kok terlihat aneh Sampean Pak, hari ini? Ada apa sih pak??”

“Nggak ada apa-apa, Bu. Anggap saja biasa!” jawab Kang Tain seringan kapas.

“Biasa bagaimana?” Tanya Yu Siti, penasaran, “Ada dua keanehan yang Sampean tampakkan hari ini kok dianggap biasa. Pertama, Sampean habisi jenggot yang sejak jejaka dirawat, dan kedua, berusaha menghilangkan bekas sujud itu. Itu dua hal yang luar biasa bagi saya, Pak. Ayo Pak, ngaku saja deh! Sampaikan alasannya!”

“Alasan opo toh, Bu??”

“Apa Sampean sudah tidak percaya lagi sama istrimu ini, heh!?” tampak Yu Siti mulai hilang kesabaran. “Ingat loh, Pak. Sampean telah mengecewakanku hari ini dua kali!”

“Tidak usah lebai begitu toh, sayang…” ucap Kang Tain sambil tangannya ingin mengulangi rayuannya seperti di awal tadi. Namun kali ini Yu Siti tidak “ngefek” apalagi “klepek-klepek”.

“Pertama” tegas Yu Siti, “Sampean potong jenggot tanpa meminta izin dariku. Dan kedua, Sampean berusaha menutup-nutupi alasannya dariku. Ya sudah, kalau begitu! Awas yo..

“Sayang… tidak begitu maksud saya” ujar Kang Tain, mengkeret juga dengan ancaman bini semata wayangnya itu.

“Terus?” tantang Yu Siti.

“Jadi sampean benar-benar pingin tahu alasan saya?” tanya Kang Tain balik.

He’e” jawab Yu Siti dengan mimik cemberut.

“Sekadar pingin tahu atau pingin tahu bingit?” canda Kang Tain.

Ra usah guyon! (Jangan bercanda!)” bentak Yu Siti.

“Ya sudah. Saya akan beritahukan alasannya, tapi janji ya, Bu”

“Janji apa?”

“Janji tidak akan bertanya lebih jauh”

“Apa itu?”

“Aku potong jenggot dan berusaha hilangkan noda hitam di jidat ini agar tidak menjadi fitnah!” Jawab Kang Tain.

“Fitnah, bagaimana?” Tanya Yu Siti.

“Ssstttt!” ujar Kang Tain sambil jari telunjuknya disilangkan di bibir istrinya, “sudah janji, tidak boleh bertanya lagi!”.

Yo wis, karepmu! (ya sudah, terserah kamu!)” kata Yu Siti sambil nggeloyor masuk kamar dengan membawa kecewa.

Kang Tain melanjutkan usahanya menghilangkan dua noda hitam di jidatnya. Di balik itu, sejak kemarin memang Kang Tain sedang dipeluk galau. Hatinya sedang berbalut bimbang terkait dengan pilihan cara menjalankan keberislamannya. Kegalauan itu muncul sejak diperlihatkan beberapa video dari Yutub oleh Kang Jais, teman sesama jama’ah di Musholla at-Taubah. Di video itu tampak seorang kyai kondang sedang menggoblok-goblokkan seorang muslim yang memelihara jenggot. Dan pada video yang lain tampak kyai lain juga menyinggung tanda hitam di jidat, dengan mengatakan bahwa “ulama-ulama yang alim, ahli ibadah, para sufi seperti para wali songo, tidak ada tuh yang jidatnya menghitam”.

Tersentak kesadaran Kang Tain oleh tayangan itu. Ia sangat menghormati para ulama. Melalui merekalah dalil-dalil tentang keberislaman yang bersumber dari al-Qur`an dan Sunnah sampai kepada dirinya. Tentu kalau benar mereka tidak punya tanda hitam di jidat padahal mereka ahli ibadah, shalatnya tak putus, dan sujudnya lama thuma’ninah. Sungguh Kang Tain merasa betapa lancung dirinya yang memiliki noda hitam di jidatnya.

Tetapi, noda hitam itu hadir sendirinya, pikir Kang Tain, tidak diada-adakan. Sebenarnya kalau boleh memilih, ia lebih berharap jidatnya tidak menghitam. Juga tentang jenggot, ia hanya ingin beragama secara bersahaja dan mudah. Nawaitu ngikut sunnah Rasul. Itu saja. Tidak lebih. Dan kalau sekarang, pikir Kang Tain, kalau keduanya dapat membuat ukhuwwah sesama muslim bisa berantakan, maka ia berusaha untuk menghilangkannya, walaupun Yu Siti, istrinya tidak bisa lagi klepek-klepek seperti sedia kala.

Kang Tain terus di depan cermin, berusaha menghilangkan noda hitam di jidatnya. Namun tentu saja hal itu tidak mudah, walaupun sudah digosoknya dengan cream ribuan kali. Setengah putus asa, terdengar istrinya berteriak dari kamarnya “gosok terus… Kalau perlu pakai koin lima ratusan Pak, Sapa tahu dapat hadiah mobil Avanza!”[]

Joyosuko Metro, 03 Nopember 2015.

Comments
  1. benramt says:

    silakan Ferdi, yang penting pesan dan maknanya kena.

  2. Achmad Ferdian says:

    Wah, boleh nih pak dibikin film pendek

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s