SAKIT

Posted: November 1, 2015 in celetukan
Tags: , ,

imagesMbah Fatima merasa diinjak harga dirinya dan tak kuasa membela, hatta sekadar berteriak. Semalaman matanya tak mampu dipejamkan karena peristiwa menyakitkan itu selalu berbayang.

Muncul penyesalan di benaknya mengapa ia sudi memberikan putra keempatnya untuk dinikahkan dengan putri keluarga kaya di kampungnya, kalau hanya kemudian menjadi objek kedengkian saudara-saudari iparnya. Dan yang lebih membuatnya tersakiti adalah mengapa percecokan antar ipar itu begitu mudah dihamburkan ke tetangga yang seakan akhir dari cerita itu menyudutkan anaknya sebagai biang kerok.

Dan ledakan rasa sakit itupun terjadi. Saat bersama para tetangga bertamu ke rumah megah bertingkat dua, mbah Fatima menjenguk sang empu rumah yg sedang dipeluk sakit. Sengaja ia berkunjung untuk memberikan dukungan moril pada keluarga si sakit, yang masih ipar bagi anaknya. Bukan untaian pengharapan doa kesembuhan yang keluar dari mulut istri sang sakit kepada para pembesuk, namun justru kalimat ghibah yang menelanjangi anaknya. Tiada sungkan sedikitpun kepada mbah Fatima sebagai ibu dari sang objek ghibah, bahkan terkesan mbak ipar itu memang sengaja melakukannya agar didengar langsung oleh nenek tujuh cucu itu.

“Mengapa ibu tidak membela diri saat itu?” Ujar Yu Parmi, isteri dari anaknya, saat mendengar peristiwa di rumah kakangnya itu. “Apa ibu tidak sakit hati mendengar Kang Marno dijelek-jelekan begitu? ” lanjutnya.

“Seandainya suamimu maling, Nduk, hatiku akan sakit bila ia dijelek-jelekkan di depanku, apalagi ia bukanlah sejelek yang mereka tuduhkan” jawab Mbah Fatima.

“Tetapi mengapa ibu diam saja, membawa derita ini?” Cecar Yu Parmi.

“Karena kami orang miskin, sedang keluargamu kaya. Sungguh orang miskin di hadapan orang kaya tak secuilpun ada benarnya” ucap Mbah Fatima.

“Tetapi kita kan punya hak untuk meluruskan fitnah ini, bu?”

“Biarlah, Nduk. Kita kembalikan ke Pencipta Kehi

dupan. Ia tak pernah tidur. Sungguh Ia punya hukum alam: Siapa yang menabur angin, dia yang menuai badai”

Yu Parmi memeluk ibu mertuanya sambil memintakan maaf atas kekurangajaran saudara kandung dan mbak iparnya.

“Yang sabar ya, Nduk” pesan Mbah Fatima lirih kepada anak mantunya itu, “saudara-saudaramu saat ini sedang digenggam dunia, maka kamu dan suamimu jangan terlalu berharap mereka akan selalu memandangmu sebagai saudara, walaupun kalian dilahirkan dari rahim yang sama”

“Injih bu. Sungguh tak salah aku menuruti wasiat almarhum ibuku untuk menjadi bagian dari keluarga njenengan. Ada ketentraman dan kehangatan yang tidak kudapatkan di antara keluarga besarku sendiri”

Mantu dan mertua itupun lalu saling tersenyum dan ke

mbali berpelukan. Setidaknya untuk sementara mereka bisa melupakan derita[].
Kereta Jogja-Malang, 1 nop 2015.

Comments
  1. Most appropriate the human race messages work to show your and present exclusive chance with special couple. Beginer appear system in advance of raucous people will most likely always be aware most of the golden value off presentation, which is a person’s truck. best man jokes

  2. Chester Sinn says:

    Hello! I simply would want to supply a enormous thumbs up for your great information you may have here about this post. I’ll be returning to your website for further soon.

  3. Bang Ical says:

    “Kembalikan pada Allah.”
    🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s