ANAK

Posted: June 2, 2015 in celetukan
Tags: , , , ,

anak2Kang Mus jengkel, gregetan dan bercampur dendam. Didudukkan anak pertamanya. Ia ceramahi habis-habisan. Ia merasa tidak bisa menerima, mengapa anaknya yang tidak kurang satu apapun, tidak bisa lolos masuk menjadi siswa sekolah dasar unggulan di kotanya. Ia tidak berani menyalahkan Tuhannya atas takdir yang tertulis buat sang anak. Dari itu, kekesalannya tertumpah kepada anaknya, si Izah, yang sejak awal diceramahi tidak juga bisa mengerti mengapa ayahnya sewot setengah mati.

Anak yang baru tamat TK itu, hanya tahu kalau dunia ini menyenangkan. Sungguh terasa eman kalau tidak dimanfaatkan untuk banyak mencoba permainan. Ia tentunya belum bisa memahami hal-hal abstrak yang keluar dari mulut bapaknya. Karenanya, ia nyantai saja. Masang wajah “tanpa dosa”. Cueks bebek. Melihat itu, bertambah jengkel hati Kang Mus, bapaknya.

“Sudahlah, Pakne” sergah sang istri, Yu Lastri. “jangan ambisius begitu. Belajar kan bisa di mana saja. Tidak harus di sekolah unggulan itu!”

“Tidak bisa. Bune!” sanggah Kang Mus.

“Tidak bisa, bagaimana?” Tanya sang istri.

“Anak kita tidak boleh belajar di sekolah biasa-biasa. Harus yang luar biasa!” jawab Kang Mus ngotot.

“Mengapa? Apa kalau sekolah di SD unggulan, anak kita dijamin akan sukses dalam hidup?” ujar Yu Lastri nyantai.

“Hidup ini persaingan, Bu. Maka, anak kita harus bisa memenangkan persaingan itu. Ia tidak boleh lembek. Tidak boleh gampang putus asa. Ia harus belajar menjadi seorang fighter, petarung sejati!”

Subhanallah… Eling, Pak. Eling… Anak kita bukan robot. Anak kita sama seperti kita. Punya hati punya rasa. Lagian ia kan masih kecil. Mana paham dengan pikiran sampean yang melihat dunia adalah medan persaingan. Dunia anak adalah dunia senang-senang, Pak!” sanggah Yu Lastri. Ternyata ia masih ingat apa yang pernah ia dapat saat kuliah di Tarbiyah dahulu.

“Itu yang tidak boleh. Bu!” ujar Kang Mus sambil jari telunjukknya digeleng-gelengkan ke kanan dan ke kiri. “Anak kita memang belum bisa memahami, Bu. Tetapi ia harus bisa merasakan sejak dini bahwa hidup ini tidak bisa main-main. Itu harus dibiasakan dengan iklim persaingan yang ketat. Dan sekolah unggulan memberikan suasana pertempuran itu”

“Tidak!! Saya tidak sudi melihat anak saya suka berkelahi”

“Bu, tidak ada sekolah yang mengajarkan siswanya suka berkelahi”

“Lah, tadi sampean bilang apa? Pertempuran, persaingan… itu sama saja pak, perkelahian namanya..”

“Jangan dibayangkan dengan perkelahian fisik dong, Bu. Persaingan itu berbeda”

Halah pak. Itu kan hanya permainan bahasa. Intinya sama. Bagaimana bisa mengalahkan yang lain. Bagaimana bisa membuat yang lain menjadi pecundang. Lalu ia disebut pemenang. Bahasa halusnya: juara. Atau lebih halus lagi: paling berprestasi. Intinya, semua itu perkelahian” ujar Yu Lastri ngotot.

“Bu.. jelas tidak sama, toh… perkelahian dan persaingan..”

“Apanya yang tidak sama, toh Pak??” Potong Yu Lastri, “Lha wong… sama-sama yang lemah dibuat pecundang, kok beda? Apanya yang beda??”

“Nah, itu. Itu. Bune!”

“Itu, apanya?” Tanya Yu Lastri sewot.

“Itu tadi, yang sampean omongkan”

“Jadi Pakne setuju sama saya. Kalau perkelahian dan persaingan itu sama? Gitu dong, Pak. Jangan dibebani si Izzah untuk menjadi petarung..”

“Bukan itu yang saya maksud, Bu..” tukas Kang Mus.

Lah, terus apa?” Yu Lastri melotot.

“Itu tadi..” Kang Mus mengkeret.

“Itu apa? Yang jelas!” bentak Yu Lastri.

“Omongan sampean” tambah mengkeret.

“Iya, yang mana?”

“Yang terakhir” ujar Kang Mus tak berdaya.

“Iya, apaaa?” teriak Yu lastri.

“Izah tidak boleh jadi orang lemah, sehingga mudah dipecundangi. Sehingga mudah dikalahkan” jawab Kang Mus.

“Saya tidak bilang begitu, Pakne!” Yu Lastri membela diri, “ternyata sampean tidak berubah. Ingin menjadikan si Izah sebagi petarung”

“Lah memang hidup menuntut begitu toh, Bu?” komen Kang Mus nyantai.

“Nggak!, Tidak begitu. Itu kan hidup dalam pikiran Sampean, Pak!” balas Yu Lastri tak kalah nyantai.

“Lha terus, Bune maunya bagaimana?”

“Saya mau anak kita menjadi anak yang shalihah dan pandai dengan tidak harus mengalahkan yang lain. Tidak harus dengan melalui persaingan kalah-menang, tetapi dengan kerjasama yang saling menguntungkan”

“Itu kan alam pikiran Sampean saja, Bu..” tukas Kang Mus, mematahkan.

“Maksud, Sampean?” Tanya Yu Lastri tak terima.

“Kenyataannya tidak begitu, Bu. Kerjasama. Kooperasi. Kolaborasi. Itu hanya ada di pikiran, Bu. Realitasnya, hidup tetap persaingan.. itu takdir alamiah, Bu”

“Kata siapa.. kerjasama itu ada dalam pikiran, Pak?” Tanya Yu Lastri dengan wajah dimanis-maniskan, tampak ada siasat yang disiapkannya.

“Lho, barusan kata saya gitu lho, Bu..” Jawab Kang Mus enteng.

“Benar?? Nggak salah ucap??” ucap Yu Lastri, masih dengan wajah sok manis.

“Benar!!” kata Kang Mus mantap.

“Tidak menyesal mengucapkannya??”

“Tidak!!”

“Tidak mau menghapusnya dari pikiran Sampean, Pak??” kali ini wajah Yu Lastri sengaja lebih dimanis-maniskan lagi.

“Tidak!! Lha memang kenyataannya, hidup itu penuh persaingan kok.”

“Oh, jadi Sampean sudah mantap dengan carapandang begitu?”

“Mantab! Pakai huruf B” jawab Kang Mus, kali ini agak cengengesan.

Jo guyon! Ini serius. Ini soal carapandang. Kalau caranya salah, pandangannya juga akan keliru”

“Sudah yakin??”

“Yakin apa?”

“Yakin kalau sudah tidak mau mengubah carapandang kalau hidup itu persaingan??”

“Yakin, kalau bisa haqqul yaqin!!”

“Ya, sudahlah. Saya tidak mau bertanggungjawab atas resiko keyakinan Sampean itu, Pak!” komen Yu Lastri ringan.

“Maksud, Bune?”

“Saya akan mengikuti carapandang Sampean, kalau hidup itu persaingan” ucap Yu Lastri dengan senyum yang manis sekali.

Tenane, Bune?” Tanya Kang Mus dalam keterkejutan.

“Iya” Jawab Yu Lastri, mantap.

“Aku tidak memaksa Lho, Bu?”

“Iya, saya juga merasa tidak dipaksa, Pak?”

“Jadi Ibu setuju kalau kita didik anak-anak kita menjadi para petarung yang tak gentar dengan kuatnya persaingan hidup??” kata Kang Mus dengan hati penuh bungah.

“Iya, saya setuju” Jawab Yu Lastri dengan paras yang juga bungah, “dan untuk membiasakan iklim persaingan pada mereka, maka jangan sampai ada kondisi kerjasama, kooperasi dan kolaborasi, apalagi sinergi di rumah ini sehingga mereka tidak merasakannya.”

“Benar! Saya setuju!” ujar Kang Mus. Namun tiba-tiba ada rasa tak sedap yang menggelitik di hatinya: “Maksud, Bune?”

“Pendidikan adalah pembiasaan” kata Yu Lastri.

“Benar!”

“Pendidikan adalah keteladanan”

“Sepakat!”

“Dari itu, sejak sekarang kita biasakan anak-anak untuk berkompetisi”

“Wow.. setuju sekali, Bune. Tidak salah dahulu Bapak memilihmu untuk menjadi ibu mereka” ucap Kang Mus sambil menciumi pipi istrinya.

“Karena itu, sejak saat ini kita biasakan anak-anak untuk terus bersaing” kata Yu Lastri dalam dekapan suaminya.

“Wow, super sekali, Sampean Bu” sambil lagi-lagi menciumi pipi dan jidat istrinya.

“Atas dasar itu, mulai detik ini kita tunjukkan kepada mereka, untuk memberi keteladanan nyata bahwa kerjasama, kolaborasi apalagi bersinergi tidak perlu ada dalam keluarga kita” ucap Yu Lastri sambil sengaja manja di pelukan suaminya.

“Wow..” belum sampai pujian keluar dari mulutnya, lekas Kang Mus berucap: “Maksudnya??”

Pelan-pelan Yu Lastri melepaskan diri dari pelukan suaminya, lalu berkata: “Untuk memberi keteladanan nyata, sejak saat ini kita tunjukkan pada anak-anak bahwa tidak ada kerjasama antara saya dan Sampean!”

“Contohnya, Bu?” Tanya Kang Mus semakin penasaran.

“Kalau makan, kita saingan. Makan sendiri-sendiri. Masak sendiri-sendiri. Enak toh, saya tidak lagi masak seperti biasanya” lanjut Yu Lastri ringan.

“Lho, jangan toh, Bu. Iso cungkring aku!” ujar Kang Mus melas.

“Kalau tidur, sendiri-sendiri. Tidak perlu sekamar!” jawab Yu Lastri ringan.

“Apalagi ini, Bu. Jangan sampai terjadi!. Bisa kejet-kejet aku, Bu” tambah memelas.

Wis, pokok’e tidak ada kerjasama”

“jangan, Bu!”

Pokok’e persaingan dan kompetisi!”

“Tidak, Bu!”

Lho, kan Sampean Pak, yang bilang begitu. Hidup adalah persaingan!”

Wis, nggak Bu. Nggak jadi, kalau begitu!”

Plintat-plintut! Dikira Izah dan adik-adiknya nongol sendiri? tanpa kerjasama?” damprat Yu Lastri, lalu mendekati Izah yang sedang asyik bermain pasar-pasaran, dan memeluknya penuh kasih.[] Joyosuko Metro, 2 Juni 2015.

Comments
  1. Can you please add Google Reader compatibility? It’s not able to recognize your RSS feed. You can email me if you need help in getting it to work.

  2. John says:

    termakasih infonya, sangat bermanfaat , Abdukrahman

  3. Bang Ical says:

    Asik ini, Pak😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s