KAPOK

Posted: June 1, 2015 in celetukan
Tags: ,

kapok2Entah apa sebabnya, Kang Nam kalau diajak main ke rumah teman-temannya yang kaya dan berharta, pasti tidak mau. Sampai elek, njengking-njengking atau sungkem di kakinya sekalipun, ia tetap menolak. Padahal kuyakin, pasti ia tahu hukum dan balasan menyambung tali silaturrahim. Lha wong, ia ustadz tentu dong pernah membaca hadits silaturrahim.

“Sudahlah, Dul. Kamu saja yang main ke rumah Kang Bah. Aku titip salam saja!” Ujarnya saat ku ajak ke rumah teman lama Kang Nam.

“Ayolah, Kang. Sampean kan sudah lama toh tidak bertemu dengan Kang Bah?” Pintaku, sedikit merayu.

“Nggak, Dul. Malas”

“Silaturrahim lho, Kang?” Ujarku.

“Silaturrahim itu pada sanak kerabat, yang dekat dan yang jauh. Mereka yang diikat dengan rahim, peranakan” jawabnya berdalih.

“Apapun definisinya, tapi mengunjungi teman yang lama tak bersuah kan tidak ada salahnya, Kang?”

“Ya emang tidak salah” katanya singkat.

“Lha terus?…”

“Terus, apanya?”

“Kan tidak salah, kalau kita mengunjungi Kang Bah?”

“Ya emang tidak salah!”

“Tapi kok Sampean tidak pernah mau diajak bertamu ke rumah Kang Bah. Sampean sedang konflik ya dengannya?” Aku mencoba memancing hatinya.

“Tidak. Bertemu saja tidak pernah kok konflik. Ngaco kamu, Dul!” Jawabnya datar.

“Tapi bertamu ke rumah Kang Min kok semangat sekali, sampean? Padahal Kang Min dan Kang Bah kan dulu sama-sama sohib kentel Sampean, Kang?”

“Itu beda, Dul”

“Beda, apanya? Lha wong sama-sama teman!”

“Kang Bah sudah kaya. Sedangkan Kang Min seperti saya, miskin. Bahkan mungkin ia lebih miskin..”

“Jadi kalau teman yang kaya tidak layak dikunjungi begitu, Kang?” Tanyaku asal nyeplos.

“Tidak juga. Hanya malas saja!”

“Kok malas?”

“Ini masalah hati, Dul”

“Oh… tahu saya maksud sampean, Kang!” Kataku asal saja.

“Sok tahu!” Ucapnya serius.

“Maaf, Kang ya.. sekali lagi maaf. Sampean iri ya dengan kekayaan Kang Bah?”

Ha ha ha ha ha ha ha ha” tiba-tiba Kang Nam tertawa lebar, lalu berhenti seketika sambil berucap: “Kok tahu?!”

Aku jadi keheranan sendiri, tepatnya bingung bercampur rasa tak percaya. Benarkah Kang Nam pendengki. Dia kan ustadz, guru agama dan sepengetahuan saya selama ini ia lebih memilih hidup bersahaja penuh qanaah. Istrinya juga bukan tipe wanita penuntut kemewahan dunia. Tapi walaupun ustadz, Kang Nam kan juga manusia, pasti juga punya rasa iri atau dengki..

“Hei, kok ngelamun?” Kata Kang Nam membuatku kaget. “Kalau mau ke rumah Kang Bah, sana cepat berangkat.. nanti keburu dianya yang keluar rumah duluan. Dia orang kaya sekarang” lanjutnya.

Benar juga kata Kang Nam. Kang Bah sekarang bukan yang dulu. Rumahnya megah. Pagar depannya tembok setinggi dua meter dipadu jeruji besi besar-besar menambah kesan kaya pemiliknya dan eksklusif, tak mau diganggu. Lantai rumahnya tidak mau yang asal, harus keramik pilihan. Demikian pula perabot dan segala aksesorisnya, haruslah yang bukan biasa. Kalau teman-teman lain yang dulu sama-sama berangkat miskin amat terlihat peningkatan hidupnya tahap demi tahap. Dari mobil tua terus berganti yang lebih muda namun tetap seken dan itupun kredit. Tetapi Kang Bah, tidak. Langsung mobil keluaran terbaru, dan kontan, tidak pakai cicilan. Dan sejak saat itu, ia menjadi orang supersibuk yang tidak mudah ditemui. Demikian pula istrinya, Yu Narti. Menjadi wanita karier yang lebih banyak bekerja daripada ngurusi rumah tangga. Hari libur pun, menurut Yu Sumi, pembantunya, tak pernah dipakainya untuk acara sosial di RTnya seperti PKK atau majelis taklim tetapi lebih dimanfaatkan untuk istirahat total atau liburan keluarga. Jangan-jangan karena perubahan gaya hidup seperti inilah Kang Nam kapok bersilaturrahim dengan teman-temannya yang sekarang menjadi orang kaya.

Plok!!” Terasa panas jidatku karena ditapok Kang Nam, “diajak ngomong kok ngelamun lagi.

“Sori, Kang” ucapku lirih.

“Cepat berangkat sana. Sampaikan salamku pada Kang Bah!”

“Tidak jadi, Kang” ujarku.

“Maksudmu?”

“Saya tidak jadi berkunjung ke rumah Kang Bah” jawabku singkat.

“Mengapa?” tanyanya heran.

“Saya ikut Sampean, Kang!”

“Ikut apa?” bentaknya.

“Ikut tidak mau bertamu ke rumah Kang Bah”

“Lha, iya. Mengapa? Katamu, itu silaturrahmi. Kok dibatalkan?”

“Ikut Sampean, Kang. Malas!” jawabku asal.

“Lho, tadi bersemangat? Kok tiba-tiba jadi malas?”

“Karena Sampean, Kang!”

“Kok, aku yang disalahkan??”

“Bukan disalahkan, Kang. Tapi jadi alasan yang membuatku malas berkunjung ke rumah Kang Bah!”

Hooo.. dasar Wong Gemblung! Saya tidak ikut-ikut kok dijadikan alasan!” ujarnya menggerutu.

“Habis, Sampean sih.. Kang. Diajak bertamu ke teman yang sudah kaya, jawabannya malas. Padahal saya tahu, bukan itu alasan keengganan sampean..”

“Lha, terus apa? Karena aku iri toh, pada kekayaan Kang Bah?”

“Bukan!” Jawabku pendek.

“Bukan? Kamu kan tadi bilang begitu?” ujarnya meminta kepastian.

“Tadinya, iya. Saya bilang begitu. Namun sekarang sudah saya ralat!”

“Dasar Wong Edan! Plintat-plintut!”

“Pokoknya saya tahu alasan, Sampean!” kataku, memancingnya penasaran.

“Apa memangnya??” Tanya Kang Nam, terpancing juga.

“Sampean kapok berkunjung ke rumah teman-teman sampean yang sekarang telah menjadi orang kaya, karena mereka telah berubah gaya hidupnya dan tidak mudah ditemui. Benarkan tebakan saya??” ucapku yakin.

“Salah besar!” jawabnya singkat.

“Kok bisa?” ujarku tak percaya.

“ya, bisalah…”

“Masak??”

“Mereka mau berubah kek, melupakan teman-teman lamanya kek, tak mau diganggu kek, itu urusan mereka. Setiap orang punya pilihan gaya dan manajemen hidup masing-masing, dan saya tidak peduli..”

“Lha, terus apa dong, Kang?”

“Kamu ini sekadar pingin tahu? Atau pingin tahu bingit?? hehehe” ucapnya kayak anak sekarang.

“Sudahlah, Kang. Jangan bercanda, ah! Wis tuwek!” pintaku.

“Ini masalah hati, Dul” jawabnya, “Saya lebih berbahagia kalau berkumpul dengan teman-teman yang sama-sama miskin. Di situlah saya merasa tertuntut untuk lebih banyak bersyukur. Dan satu lagi, Dul..”

“Apa itu, Kang?”

“Berkumpul dengan mereka yang kaya” jawabnya serius, “membuatku mudah tergelincir pada rasa putus asa dari rahmat Allah”.

“Ah, Tenane, Kang??” ucapku cengengesan.

Plok!!” lagi-lagi jidatku jadi sasaran, “Dasar Wong Edan!” katanya sambil meninggalkanku.[]

Joyosuko Metro, 31 Mei 2015.

Comments
  1. I’d like to say “well done”! This is an excellent bit of material you have written. I am in agreement with you on many points. You have made me think.

  2. I dugg some of you post as I cogitated they were very beneficial very useful

  3. The difference between the right word and the almost right word is more than just a fine line! it’s like the difference between a lightning bug and the lightning!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s