MARBOT

Posted: January 5, 2015 in cerpen
Tags: , , ,

marbotKang Di memang orang yang bersemangat. Baginya ibadah haruslah dilaksanakan dengan brigas, tidak pantas klemar-klemer. Ia seorang marbot di mushola RTku yang sengaja ditunjuk oleh pak RT untuk memakmurkan tempat ibadah itu karena semangatnya tersebut. Namun sayang, karena terlalu semangat itu, sering ia lupa diri bahwa beribadah jasmaniah haruslah didukung oleh ibadah hati.

Jamaah banyak yang mengkhawatirkan dan menasihati dirinya, bahwa banyak orang ia dhalimi mungkin akibat ketidaksengajaan, untuk tidak menyebut, ketidaktahuan diri. Namun, Kang Di cueks saja. Ia justru menuduh jamaahlah yang tidak paham agama.

Suaranya jelek. Tetapi jika ia berada di musholla maka marbot lain yang lebih yunior tidak boleh memanggil orang untuk sholat, kecuali dirinya. Tentu saja, adzannya sangat tidak layak didengar. Selain kencang memekakkan telingah, makhroj lafadz Arabnya kurang tepat, juga ritme dan lagunya kacau tidak bisa dinikmati.

Demikian pula, jika shalat telah diiqomati, ia langsung mengambil posisi imam. Serasa tidak ada jamaah yang pantas untuk maju memimpin shalat selain dirinya. Pernah Kang Mo berkomentar langsung di hadapan sang marbot itu, mungkin karena sudah tak tahan: “mbok ya kalau shalat jamaah, imamnya diserahkan pada yang lebih tua. Kan sering ada mbah Kaji Abidin, bacaan beliau tidak kalah bagus juga. Yang saya tahu, lebih tua dan bagus bacaannya lebih diutamakan menjadi imam..”

“Mo, kamu itu siapa?” Sanggah Kang Di, “tahu apa sampean tentang fiqh shalat? Jadi imam itu tidak gampang lho, Mo! Tidak sekadar tua syaratnya, tapi bacaannya harus benar, makhroj dan tajwidnya tepat”

“Terus kurang apa Kaji Abidin, Di?” Tanya Kang Mo, “dari pada sampean saja, menurutku lebih pantas beliau yang jadi imam”

“Tahu apa sampean Mo? Hanya kuli aja kok berani membanding-bandingkan?” tantang Kang Di dengan suara tinggi.

“Tidak perlu Anang Hermansya, Bebi Romeo atau Ahmad Dani, Di.. untuk menilai suaramu” jawab Kang Mo kalem. “Kucing aja lari kalau dengar kamu adzan..” lanjutnya sambil senyum.

“Sudahlah, Mo. Sampean aja yang iri karena tidak sanggup makmurkan musholla” sanggah Kang Di, “Ini masalah agama, tidak boleh sembarang orang yang pimpin. Haruslah benar-benar orang yang ahli. Urusan dunia saja harus ahlinya kok yang pegang, apalagi urusan akhirat” lanjutnya, sedikit berkhutbah.

Wow, tak salah Di, omongan sampean. Benar. Saya sepakat. Harus diserahkan ahlinya” ujar Kang Mo.

“Ya, memang tidak salah. Begitulah sabda Nabi. Makanya sampean harus paham itu?” Kata Kang Di, bangga.

“Tapi yang tidak saya setuju, Di… Sampeannya itu yang dinilai belum ahlinya!” Skak Kang Mo, langsung pada sasaran.

Memerah wajah Kang Di. Sambil sungut-sungut menahan amarah, ia berujar: “Jadi sampean menghinaku? Meragukan kemampuan agamaku?”

“Kenyataannya begitu, kok! Terus sampean mau apa?” tantang Kang Mo. Walaupun badannya kalah besar, tapi nyali dan keberanian Kang Mo tidak diragukan. Ia pendatang di RTku, tapi preman asli kampung ini pernah dilawan dan dihajarnya. Baginya, sekali langkah meninggalkan tanah kelahiran, pantang untuk kembali sebagai pengecut. Lebih baik kembali tinggal tulang, daripada hidup di negeri orang terhina dan ketakutan. Karenanya, kang Mo punya keberanian lebih, selama kebenaran ada padanya.

Nggak, begitu. Mo…” ujar Kang Di, merendah. Mengkeret juga nyalinya.

“Kalau tidak begitu, terus bagaimana? Sampean sok merasa paling tahu agama. Paling punya hak untuk masuk surga. Apa mbahmu sudah ngapling surga untuk jatahmu? Jadi orang itu mbok ya bisa rumongso…” kata Kang Mo, to the point.

Sakit rasanya hati Kang Di mendengar ucapan terakhir Kang Mo, namun ia tidak mau lagi menanggapi. Tidak jelas apakah karena omongan Kang Mo benar, namun biasanya tidak mudah bagi seseorang yang merasa paling tahu dapat menemukan api kebenaran pada orang lain. Atau mungkin lebih karena Kang Di tidak punya nyali untuk melawan, karena memang keberanian tidak ada sekolahnya.

Tetapi, yang pasti, sejak saat itu Kang Di tidak pernah menganggap Kang Mo ada alias mencuekinya. Setiap ada kegiatan musholla, bisa dipastikan Kang Mo tidak dilibatkan oleh Kang Di. Sering marbot yunior diperingatkan tentunya dengan sedikit ancaman olehnya untuk tidak melibatkan Kang Mo. Ketika diberitahu perihal ini oleh si yunior, Kang Mo tersenyum saja sambil berucap: “Masih banyak ladang yang bisa digarap di luar musholla, yang bisa saya panen di akhirat kelak”.

Prilaku Kang Di, sang marbot utama musholla RTku sudah jamak diketahui oleh jamaah, termasuk perlakuannya terhadap Kang Di. Barangkali hanya Pak RT saja yang kurang tahu, selain mungkin karena amat jarang shalat berjamaah di musholla yang ia

bangun itu, juga karena sang marbot yang pandai mencuri akses langsung, untuk tak menyebut “pandai cari muka” ke beliau. Sehingga kalau ada suara liyan yang masuk tentang sang marbot, beliau tidak mudah menerimanya.

“Tidak hanya itu, Dul..” ujar Kang Ri kepadaku.

“Apanya, Kang?” Tanyaku pura-pura tak mengerti, karena saya sudah malas mendengar prilaku sang marbot, takutnya terjatuh pada ghibah.

“Itu, prilakunya si Paidi, marbot mushalla” jawab Kang Ri bersemangat, sepertinya ia punya banyak data tentangnya yang hendak dimuntahkan. Serasa kalau tidak dikeluarkan mulut Kang Ri bisa bisulan. Sehingga tanpa ditanya pun ia bercerita tanpa takut dosa bahwa Kang Di juga pernah berselisih dengan Kang Min.

“Saat itu, Kang Min diamanahi menjadi ketua panitia Qurban mushala kita” Kata Kang Ri mengawali. Saya terpaksa mendengarkan saja, “Rapat telah menyepakati bahwa penyembelihan akan dilakukan tepat hari pertama, setelah shalat Ied dengan alasan besuknya banyak panitia yang tidak libur kerja. Eh, malamnya Kang Di datang ke rumah Kang Min, meminta agar penyembelihan dilakukan pada hari kedua saja dengan alasan ia tidak bisa datang kalau hari pertama”.

“Lalu bagaimana tanggapan Kang Min??” tanyaku, ternyata aku terbawa ceritanya. Penasaran.

“Ya, jelas… Kang Min menolaknya, Dul. Ia menjelaskan bahwa ini bukan keputusan pribadinya, tetapi hasil rapat panitia. Mau ditaruh di mana muka Kang Min selaku ketua panitia kalau hasil rapat tiba-tiba dimentahkan sepihak. Intinya, Kang Min tidak bisa memenuhi permintaan Paidi.”

“Lalu bagaimana tanggapan Kang Di” tanyaku, semakin penasaran.

“Ia tidak bisa menerima alasan Kang Min. Ia mengintimidasi bahwa prosesi qurban yang akan dilaksanakan dijamin tidak akan berjalan sukses, mengingat selama ini ialah yang paling paham tentang kondisi musholla dan orang-orang yang terlibat dalam teknis penyembelihan. Namun Kang Min bukanlah anak kemarin sore. Diintimidasi begitu justru ia tertantang untuk meladeni si Paidi. Dan ternyata, diam-diam si marbot itu mendatangi dan nggembosi satu-persatu orang yang biasanya ia libatkan dalam teknis pembolengan agar tidak hadir pada hari H”.

“Dan.. apakah upaya Kang Di berhasil, Kang??” tanyaku, bertambah penasaran.

“Gatot! Gagal total hehehe. Penyembelihan berjalan sukses. Dan usut punya usut, mengapa Paidi menginginkan hari kedua, karena pada hari pertama ia dapat kontrak penyembelihan plus pembolengannya di masjid lain di kota. Ia meminta qurban mushalla kita diadakan pada hari kedua seperti tahun-tahun yang lalu, karena dengan begitu ia dapat rizki tambahan yang berlipat”

“Oh… motivnya begitu, Kang!” ujarku menyimpulkan.

“Namun, akibatnya…” Kang Ri melanjutkan, “Ramadhan tahun lalu, Kang Min tidak dijadwal oleh Paidi untuk menjadi imam dan penceramah tarawih di mushala!”

“Hahahaha” aku terkekeh, tidak paham apakah itu karena lucu atau konyol.

 

****

 

Terdengar kumandang suara adzan magrib dari mushalla RTku. Suaranya jelek, kencang memekakkan telingah. Semua orang tahu, siapa sang pemanggil shalat itu. Namun, sampai iqamat diseruhkan lalu shalat dilaksanakan, yang ikut berjama’ah hanya saya, anak lelakiku yang masih SD, marbot yunior yang memang tinggal di kamar belakang mushalla, dan Kaji Abidin yang pensiunan guru agama. Sedang imamnya, siapa lagi kalau bukan Kang Di. Sudah hampir setengah tahun ini, jamaah tetap mushalla seperti itu. Bahkan kata istriku, sering untuk dhuhur dan asyar, marbot yunior adzan-adzan sendiri, iqomat sendiri dan shalat juga sendiri. Sungguh memprihatinkan untuk mushola yang besar dan bagus seperti itu.

Pernah suatu ketika saya mengajak bicara Kaji Abidin perihal mushala yang tidak lagi makmur. Dengan datar, beliau mengatakan: “Islam itu agama dakwah. Seseorang selama mengaku muslim, tugas utamanya adalah berdakwah, menyeruh orang kepada jalan Tuhan. Namun sayangnya, sering karena kita terlalu bersemangat sehingga alpa bahwa menyeru kepada jalan Tuhan haruslah disertai dengan hikmah dan cara-cara lahiriyah yang bijaksana. Akibatnya, panggilan yang kita serukan mestinya bisa menarik orang kepada jalan Tuhan dengan nyaman, tetapi yang terjadi justru sebaliknya, panggilan itu telah menghalangi bahkan membuat mereka menjauh dari jalan tersebut”.

“Maksudnya, semangat beragama saja tidak cukup, mbah?” tanyaku, menyimpulkan, “tetapi harus pula ditunjukkan dengan cara beragama yang luhur dan indah”.

“Benar, Dul. Jadi pintar kamu sekarang! Ceplok!” kata Kaji Abidin, sambil tangannya neplok jidatku.

“Kaji semprul!!” kataku dalam hati, sambil meringis menahan sakit, “Tua-tua masih cengengesan juga!”[]

Tlogomas, 10 Desember 2014.

 

***CERPEN ini pernah dimuat di Harian Kabar Probolinggo, Desember 2014.

Comments
  1. Eli Sasaki says:

    I was just chatting with my coworker about this last week at the resturant. Don’t know how in the world we landed on the subject really, they

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s