SAMPAH

Posted: December 8, 2014 in celetukan
Tags: , ,

sampahDi mana-mana warga berbisik tentang sampah. “Bener lho, mbak, sudah seminggu sampahku tidak diambil” ujar Yu Ila pada Yu Barsemi di sela-sela sambutan bu RT di kegiatan PKK.

“Sampean mending mbak, hanya seminggu. Kemarin tong sampah saya ngendon depan rumah hingga dua minggu” Yu Barsemi nimpali.

“Terus gimana mbak?” Tanya Yu Ila.

“Ya.. saya buang sendiri ke TPS, dari pada belatungnya jadi sebesar jempol kaki..”

“Maksudku, bukan itu.. kalau masalah buang sendiri, tiap hari saya juga melakukannya” komen Yu Ila.

“Lah maksud sampean apa, mbak?” Sanggah Yu Barsemi.

“Maksud saya, kelanjutannya bagaimana? Masak kita begini terus? Kita kan sudah bayar iuran sampah, buat apa kalau tetap kita buang sendiri..” kata Yu Ila ngotot.

“Lho, sampean jangan protes ke saya dong, mbak..salah alamat. Saya bukan RT! Itu tuh yang sedang ngomong itu yang perlu sampean semprot” ujar Yu Barsemi tak kalah ngotot.

“Lho, sampean kok jadi sewot, mbak? Saya kan ngajak diskusi”

“Sudah deh mbak, nggak perlu ada diskusi. Kita butuh solusi, bukan diskusi!”

“Lha bagaimana kita akan dapat solusi kalau kita tidak berdiskusi?” debat Yu Ila.

“Gini lho, mbakyu…” jawab Yu Barsemi mulai meredahkan suaranya, “sekarang zamannya kerja, kerja dan kerja. Tak perlu banyak ngomong, bicara, wacana. Bangsa ini terlalu banyak pengamat dan komentator”

“Kerja, kerja, kerja” Yu Ila menirukan, “walau tanpa mikir, mbak?”

“Ya, kalau memang diperlukan. Tanpa mikir!” Jawab Yu Barsemi.

“Tanpa mikir, mbak?” Tanya Yu Ila, tak percaya.

“Iya, tanpa mikir! Emangnya ada apa, kalau bekerja tanpa berpikir? Salah, menurut sampean?”

“Tidak ada apa-apa sih mbak” jawab Yu Ila yang kalah umur dengan lawan bicaranya, “hanya saja…”

“Hanya saja, apa?” Tanya Yu Barsemi.

“Hanya saja…” geremeng Yu Ila agak lemah.

“Hanya saja, apa?!” Bentak Yu Barsemi, keras.

“Hanya saja… bagaimana kalau.. kalau sampean langsung bekerja tanpa mikir” jawab Yu Ila, menantang.

“Boleh! Siapa takut?” Apa yang mesti saya kerjakan?” Ujar Yu Barsemi tak pantang tantangan, apalagi terkait dengan apa yang barusan ia ucapkan. Baginya, jorok menelan kembali ludah yang telah ia semprotkan.

“Benar nih, mbak?”

“Benar apanya?”

“Benar… kalau mau bekerja tanpa mikir???”

“Sudah, deh mbak. Tidak usah bertele-tele. Katakan segera apa yang mesti saya lakukan! S-e-g-e-r-a!” Tegas Yu Barsemi.

Dengan mantap, Yu Ila mengatakan: “Bagaimana kalau sampean melaporkan perihal sampah ini ke orang yang sedang ngomong di depan itu? Tidak perlu mikir, langsung sampean kerjakan!”

“Ke bu RT itu?” Tanya Yu Barsemi agak ngelokro.

“Iya, beliau yang bertanggungjawab. Beliau pemimpin kita, beliau pelayan kita” jawab Yu Ila datar.

“Nggak, ah. Capek deh, kalau sama beliau”

“Kenapa?”

“Nggak kenapa-napa. Malas aja!” Ujar Yu Barsemi, lalu ia memberikan alasan kesana kemari. Tentang karakter bu RT yang sulit mendengarkan; tentang gaji tukang sampah yang hanya Rp. 400rb sebulan, padahal ia harus mengambil sampah rumahtangga seluas tiga RT; tentang kepribadian tukang sampah yang tidak bisa ditebak, yang hanya mengambil sampah orang dengan tip tambahan semata; dan pelbagai alasan lainnya. Intinya ia tidak mau mengerjakan apa yang diminta Yu Ila.

“Lho, kan… tidak mau bekerja. Katanya kerja, kerja, kerja?” Ujar Yu Ila, sedikit memperolok.

“Bukannya tidak mau…” sanggah Yu Barsemi.

“Tapi…” lanjut Yu Ila.

“Nggak ada tapi-tapian, mbak..” sanggah Yu Barsemi agak malu-malu.

“Tapi nggak berani. Ya, tepatnya tidak berani, kan?” Desak Yu Ila.

“Terserah sampean lah. Yang penting aku nggak mau!” tutup Yu Barsemi, mengakhiri.

“Ya, karena bekerja, kerja dan kerja butuh keberanian nyata. Dan untuk itu, kita berpikir dahulu sebelum bekerja agar berani melaksanakannya secara strategik dan tepat tujuan..” simpul Yu Ila.

“Udahlah, mbak. Terserah sampean. Ngomong apa!” Kata Yu Barsemi, nyerah.

Mblekedes. Ternyata bisanya hanya ngomong doang!” Ujar Yu Ila, sambil ngelirik ke sampingnya, Yu Barsemi yang sungut-sungut. Bersama itu, ternyata sambutan bu RT baru mukaddimahnya, padahal jam di dinding menunjuk pukul 17.00 sore.[]

Tlogomas, 8 Desember 2014.

Comments
  1. Wheaton Real Estate

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s