BINGKISAN

Posted: August 24, 2014 in celetukan
Tags: , , ,

bingkisanKang Mo sumringah hatinya, sekaligus penasaran. Ia mendapat bingkisan. Tertulis jelas di sampulnya ada nama Sarimo, nama pemberian orang tuanya. Alamat yang tertera juga benar. Nama jalan, gang, nomor rumah, sekalian RT/RWnya tidak salah. Semuanya tertuju kepada dirinya. Sarimo tidak munafik, ia senang. Merasa tersanjung, karena ada yang memperhatikan. Seumur-umur baru kali ini ia mendapatkan satu paket hadiah. Namun, dari siapa bingkisan itu, inilah yang membuatnya dua hari terakhir tidak bisa tidur tenang. Tidak tertulis siapa sang pengirim. Minimal ninggal nomor HP, juga tidak.

“Sudahlah, Pak. Tak perlu dipikirkan” ujar Yu Na, istrinya menghibur, “mungkin saja dari mantanmu hihihi”

“Ngawur!” Ucap Kang Mo singkat.

“Buka aja Pak, mungkin di dalamnya tertulis nama pengirimnya” usul sang istri.

“Jangan, Bu! Kalau isinya bom, bagaimana?”

“Walah.. jangan lebay begitu tah Pak..” jawab Yu Na, “siapa yang mau ngebom kita? Orang kecil kayak kita ini tidak ada untungnya diancam-ancam. Modar seribu juga tidak ada yang nganggap”

“Siapa tahu toh Bu.. Lha wong zaman sekarang ini, semua hal tidak bisa ditebak jhe. Tidak bisa dipastikan!”

“Tapi kan… tresnaku marang sirahmu sudah pasti tah, Pak?” Yu Na ngguyoni.

“ mBlekedes!!” ujar Kang Mo datar, tanpa senyum.

“Ayo pak, cepat dibuka! Saya jadi ikut penasaran isinya apa?” kata Yu Na.

“Jangan, bu..!!” pinta Kang Mo.

“Ayo buka!” tegas sang istri, “Sampean memang selalu lambat ambil tindakan!”

“Jangan bu.. jangan..”

“Sini saya yang buka!” Ujar Yu Na sambil tangannya berusaha merebut bingkisan dari suaminya.

“Jangan..” Kang Mo tidak mau kalah, tetap mempertahankan bingkisannya, sehingga terjadi perebutan, upaya tarik menarik.

“Kalau sampean takut bom, biar saya saja yang buka” kata Yu Na tegas sambil tangannya menarik bingkisan ke arahnya.

“Jangan bu, jangan..” Kang Mo menariknya kembali ke arahnya.

Mbeledus sekalian tidak apa-apa. Gini aja kok bikin sampean galau..”

“Jangan bu… nanti kalau Sampean mbeledus, cintaku juga ikut gosong..” sempat-sempatnya Kang Mo ngegombal di tengah upaya perebutan yang semakin sengit.

Karena keduanya, Kang Mo vs Yu Na, saling kekeh dan semakin kuat tarikannya masing-masing, akhirnya brreett! Sampul bingkisan yang rapi itu robek besar dan terlihat box HP merek terkenal, masih gress, masih ada plastiknya.

“Lho kan Pak… HP, bukan bom..” Ujar Yu Na melongo, demikian pula sang suami. “Sini saya buka..” lanjut sang istri.

“Jangan bu, jangan dibuka.. itu bom HP!!” teriak Kang Mo.

“Walah.. penakut Sampean, Pak. Beraninya saat di kamar tok hehehe” kata Yu Na sambil tangannya cepat membuka box, dan ternyata memang HP, tepatnya smartphone. “Bagus loh Pak. Pasti mahal banget ini, Alhamdulillah… Kok masih ada orang baik ya, pake kirim hadiah ke kita segala” lanjut Yu Na gembira. Namun tidak demikian dengan Kang Mo. Semakin istrinya mengotak-atik HP tersebut, hatinya semakin kecut. Ketakutan. Tersugesti oleh pikiran tentang bom.

“Eh, Pak. Ternyata.. dari orangnya, sudah diaktifkan lho Pak, HPnya” kata Yu Na, tanpa beban. Sedang Kang Mo semakin mengkeret nyalinya, namun tidak bisa berbuat apa-apa saat istrinya punya karep.

“Eh, Pak… ada satu pesan masuk” lanjut Yu Na, “Saya lihat pesannya Pak, ya. Barangkali di situ pengirimnya dapat kita tahu”.

Yu Na kebingungan tombol mana yang harus dipencet untuk membuka pesan tersebut. Yu Na memang katrok. HP di tangan tidaklah seperti miliknya yang jadul, tetapi sudah layar sentuh. Tanpa sengaja jempolnya menyentuh symbol amplop, dan “cringggg” terdengar suara dibarengi dengan munculnya satu pesan singkat. Yu Na membacanya. Seketika langsung lemes, lalu terkulai pingsan.

Kang Mo cepat menangkap tubuh istrinya, lalu membaringkannya di atas tempat tidur. Ia penasaran dengan pesan yang telah meledakkan kesadaran bininya. Pelan-pelan ia membaca: Salam tiga jari! Dengan hormat, Saya memohon Bapak tidak menolak untuk membantu saya menjadi menteri di Kabinet Persatuan Indonesia. Terima kasih (Presiden terpilih, Jokowi)”.

Kang Mo berkaca-kaca, lalu matanya melotot seraya ngedumel: “Gak Due udel! Ngenyek tenan, iki!”[]

Joyosuko Metro, 24 Agustus 2014

Comments
  1. plumbing services dublin

  2. benramt says:

    waalaikum salam..

  3. ridoamali says:

    Assalamualaikum.. pak Amin..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s