MANTAN

Posted: August 18, 2014 in celetukan
Tags: , ,

imagesYu Ila cemberut. Juga mungkin cemburu. Pasalnya, Kang Marno tiba-tiba menyebut nama seorang perempuan dan mengajak berkunjung ke rumahnya.
“Mantanmu ya, Kang? ” selidik Yu Ila.
“Bukan” jawab Kang Marno datar.
“Yang bener??, jo goro..” telisik sang isteri.
“Bener.. hanya seorang sahabat yang dipertemukan lagi oleh teknologi” ujar sang suami.
“Tapi dulu kan sampean ada hati kepadanya, toh? Ayo ngaku aja!!”
“Iya, tidak salah. Karena persahabatan memang harus melibatkan hati. Kalau tidak pakai hati, itu namanya politik, bu” sergah Kang Marno diplomatis.


“Maksudku, perempuan itu dulu pernah sampean taksir toh? Ngaku aja deh, ra usah muter-muter..
“Sampean tak salah bune. Tapi itu bagian dari masa lalu..”
“Justru itu yang saya khawatiri, pak..”
“Khawatir apanya, bu? Itu hanya masa lalu yang tak mungkin bisa kembali..”
“Nah, itulah yang saya takutkan!!” Ucap Yu Ila dengan penuh tekanan.
“Apanya? ” tanya Kang Marno cueks.
“Sampean menjadi tersandra dalam dekapan masalalu!”
“Cie cie.. bune kok puitis banget..” ujar Kang Marno sambil bibirnya ngecupi kening istrinya.
Wis wis, serius iki pak. Jo guyon!” Ujar Yu Ila, tapi tampak kemerahan juga parasnya..
“Lha, saya serius juga bu, saat ngecupi keningmu. Karena aku sedang tersandra dalam dekapan masa kini!” Bertambah humaira wajah Yu Ila..
“Pak” lanjut Yu Ila, “hati-hati loh, Pak! ”
“Hati-hati bagaimana?” Tanya kang Marno, “tidak usah khawatir berlebihan bu.. Engkau dan keluarga kita adalah anugerah terindah yang tak mungkin memalingkanku kepada bayang-bayang masa lalu..”
“Iya, sih.. saya sangat mengenal suamiku..” ujar Yu Ila.
“Terima kasih bu” ucap Kang Marno.
“Tapi…”
“Tapi, opo bu?”
“Dulu waktu naksir dia, sempat melamar?” Tanya Yu Ila.
“Iya”
“Lantas, diterima?”
“Tidak” jawab Kang marno polos.
“Hahahaha” Yu Ila tertawa terpingkal-pingkal, “bertepuk sebelah tangan lagi! Hahaha di sinilah aku sangat mengenali suamiku haha”
“Bu.. bune, sadar bu..” kang Marno meredahkan ketawa istrinya.
“Ada apa sayang?” Tanya Yu Ila tersadar.
“Tahukah sampean?”
“Apa, pak?”
“Justru karena banyak pintu yang tertutup buatku itulah, yang menuntunku untuk menemukan dan mengetuk pintu hatimu. Ternyata Tuhan telah mematutkan diriku buatmu, bukan buat yang lain” jawab Kang Marno, lebay.
“Blekedes!” Komentar Yu Ila sambil ngeloyor ke dapur, tampak kemerahan juga pipinya.[] Yogyakarta, 18 Agustus 2014

Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s