SEPI

Posted: August 12, 2013 in celetukan
Tags: , , ,
malam-bicara-sepi1

wanto-isme.blogspot.com

Praktis selama ramadhan kemarin Kang Wawan tidak mau menginjakkan kakinya sama sekali di musholla RT. Pada Ramadhan di tahun-tahun sebelumnya, hampir setiap malam ia menyempatkan diri untuk bertarawih di sana bersama istri dan anaknya. Namun kali ini yang terlihat hanya anaknya saja, itupun biasa, namanya juga anak-anak, terawih dijadikan kesempatan untuk berkumpul bersama kawan-kawan dan ramai sendiri di halaman musholah.

Kemarin, saat menjelang Ramadhan tiba, Kang Wawanlah orang yang paling semangat melakukan upaya penerangan jalan setapak menuju mushola. Ia menggerakkan warga, tentunya yang mau termasuk Kang Sugi yang Kristen berjibaku memasang dan menyalurkan listrik di sepanjang jalan menuju musholla. Di sinilah ia baru tahu, bahwa selama ini listrik musholla itu illegal, untuk tidak menyebut mencuri.

“Untuk beribadah kok nyolong” komentarnya kala itu.

“Lha kan ini fasilitas umum, Kang. Ya gakpapa toh?!” komentar Kang Tono sambil masang baut untuk menyambung antar pipa tiang listrik, “seperti penerangan jalan begitu.. kan dibolehkan??”

“Kalau penerangan jalan, memang ada aturannya, Kang. Redaksinya jelas. Dari biaya listrik yang kita bayarkan tiap bulan, diambil untuk itu” Kang Wawan menjelaskan.

“Bunyi teksnya memang begitu, Kang..” Kang Tono tidak mau kalah, “tapi substansinya kan sama, untuk kepentingan umum juga”.

“Ya, jelas berbeda toh, Kang. Penerangan jalan dan penerangan musholla tidak bisa disamakan!”

“Apanya yang beda kang??” Kang Tono menuntut jawaban.

“Kalau penerangan jalan, semua orang menikmati” Kang Wawan mencoba menerangkan, “semua orang, beda ras, suku dan agama, semua merasakan manfaatnya. Tetapi kalau musholla, apakah orang seperti Kang Sugi ini menikmati?” Kulirik Kang Sugi yang Kristen, hanya senyum-senyum sambil memasang bolam listrik di tiangnya.

“Benar juga apa kata Kang Wawan” ujar Kang Nur  ikut nimbrung, “demikian pula, kalau dilihat dari kacamata ibadah, memang terasa ada yang kurang pas. Masak untuk menghadap Tuhan kok jalannya tidak halal. Sama halnya dengan orang sholat, tapi sarungnya hasil curian. Mana bisa diterima..”

“Kalau menurut kamu, bagaimana Dul?” Kang Tono melirik ke saya.

“Memang sejak awal, saya kurang sreg, Kang” kataku, “dulu, saat saya membangun rumah ini, saya pernah menawarkan ke Sekretaris RT, agar listrik musholla diambilkan dari rumahku aja, saya bersedia nanggung sendiri. Namun, mungkin karena beliau sungkan, atau tidak ingin memberatkan saya, sehingga beliau tidak menerima usul saya dengan beralasan untuk kepentingan umum..”

“Dul, kamu pasti pernah tahu hadits Nabi” lanjut Kang Nur, “yang menceritakan ada seorang lelaki tampak khusuk berdoa, meminta kepada Tuhan ini dan itu. Lalu Rasulullah berkomentar, bagaimana do’anya terkabul kalau pakaian yang disandangnya adalah haram, makanan yang masuk ke dalam perutnya juga haram..”

“Iya, Kang. Kayaknya saya pernah mendengar hadits tersebut..” Kataku singkat.

“Jangan-jangan karena listrik haram ini, musholla ini tidak diberkahi” komentar Kang Nur.

“Bisa aja sampean, Kang” ujar Kang Tono.

“Buktinya, warga yang sembayang di sini hanya segelintir orang. Dari dulu sampai sekarang tidak pernah bertambah” jawab Kang Nur, serasa memberi  penguatan.

“Benar juga. Jangan-jangan, karena musabab ini, semakin sepi aja mushalla wakaf ini!” kataku dalam hati.[]

Joyosuko Metro, 12 Agustus 2013

Comments
  1. Dyan Turbes says:

    interiorismo valladolid

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s