MOGOK

Posted: July 29, 2012 in celetukan
Tags: , , , ,

Yu Patim, istri Kang Ri, ngamuk. Karena sejak awal puasa hanya diberi janji saja oleh suaminya. Ia ingin bisa bersembayang terawih di Masjid Agung, namun tidak pernah bisa kesampaian karena Kang Ri tidak pernah mau mengantarnya dengan pelbagai alasan.

Lha piye toh, Bu. Jarak kampung kita dengan masjid agung kan ya jauh. Sebelas kiloan” kata Kang Ri.

“Sebelas kilo aja kok ya jauh toh, Pak?! Paling ya hanya seperempat jam, sampai!” ujar Yu Patim, sewot.

“Itu kalau nggak macet, Bu” sanggah Kang Ri, “Kalau jalanan macet ya bisa setengah jam-an, Bu..” kilah Kang Ri.

Walahhh Pak.. Pak! Jo kaken alasan. Kalau memang tidak mau nganter, bilang saja!”

“Bukan begitu, Bu..”

“Lha, apa? Kenyataannya begitu, kok!”

“Begini lho, Bu.. kalau perjalanan saja setengah jam, kan sampai Masjid Agung bisa terlambat. Lah wong di sana itu adzan, sebentar kemudian langsung iqomat jeh! Lha kalau terlambat kan ya tidak bisa menikmati” Kang Ri beralasan.

Hallah Pak, alasan tok. Itu kan kalau macet. Apa dikira ini Jakarta?? Pakai macet segala..”

“Ya, namanya juga jalanan, bu. Ya gak bisa ditebak toh?”

“Sudahlah. Kalau tidak mau nganter ya sudah. Seandainya saya bisa pakai motor sendiri, saya tidak akan bergantung karo sampean

Yo jo ngono toh, Bu. Mbok sampean pertimbangkan alasannya?” bujuk Kang Ri.

“Macet kok dijadikan alasan!”

“Belum lagi, Bu..” tambah Kang Ri, tidak habis argumentasi, “Buka puasa kita kan jadi tergesa-gesa karena mau cepat-cepat berangkat. Masak batalin puasa kok tidak tumakninah begitu??”

“Sudahlah Pak. Kalau ngomong sama sampean memang tidak ada menangnya..” ujar Yu Patin, ngambek.

“Tapi kan karena itu, Bune kepincut karo aku, toh??” rayu Kang Ri.

Prett! Ra sudi!” jawab Yu Patin, mencep.

Lha itu, buktinya Tole jadi nongol. Hehehe bukti cinta toh??”

“Cinta apa?? Gombal Mukiyo! Mana bukti rayuanmu dulu: jangankan ke ujung dunia, ke surga pun dikau kan kupapah. Mana buktinya?? Ke Masjid Kota saja wegah!”

“Ya.. itu kan dulu toh, Bu. Sekarang jamannya suda beda..”

Hallah, Pak. Wis, jangan salahkan kalau nanti malam sahurnya garingan!” kata Yu Patin, mengancam.

“Maksudnya, Bu?” Tanya Kang Ri.

“Pingin tahu..?” Yu Patin sambil kedip-kedipkan mata.

“Iya, sayangngngng..” Kang Ri tak kalah mesra.

“Benar nih Cin.. Pingin tahu??” Yu Patim sambil tersenyum, manis sekali.

“Benar, Cintaku…” Kang Ri tidak mau kalah.

“Dekat sini, Say…”

“Oh iya, Sayangku…”

“Dengarkan baik-baik: Aku mogok masak!!!” teriak Yu Patim memberi kata putus dengan galak.

Toweng weng weng!!!!!” terasa lonceng besar biara Shaolin bak berdentang keras di depan gendang telinga Kang Ri. Bintang-bintang beterbangan memutari kepalanya. “T-e-r-l-a-l-u” ucapnya, lemas.

 

-oOo-

 “Lah, sampean toh Kang. Kebangeten. Nganter shalat terawih saja tidak mau” kataku ngomentari, “Iya, kalau ke tempat maksiyat, sampean tidak mau, itu pantas, bahkan harus dilarang. Lha ini ke masjid, kok tidak sudi??”

“Bukan begitu, Dul..” kata Kang Ri, ngelokro..

Lha, apa?? Alasan macet lagi?” tanyaku.

“Kamu kan tahu sendiri. Masjid Agung itu kan bacaan imamnya panjang-panjang. Denger-denger, dua rakaat dijatah satu juz al-Qur`an seperti di Masjidil Haram”

“Lha itu kan bagus, Kang. Apalagi bacaan imamnya fasih dan lagunya seperti Syekh Sudais. Apanya yang salah?” kataku, mengejar.

“Ya, tidak ada yang salah. Hanya saja.. hanya saja..”

“Hanya saja, apa? Wah, mestinya sampean bersyukur punya istri seperti Yu Patim yang minta dianterin untuk menikmati shalat dengan imam seperti di Makkah”

“Itulah, Dul masalahnya!” ujar Kang Ri dengan nada meninggi.

“Apa?” kataku dengan sabar.

“Saya tidak bisa, atau mungkin, belum bisa menikmati shalat yang lama begitu, walaupun bacaan imamnya bagus dan lagunya enak. Saya belum bisa khusuk. Pikiranku sering terbawa melayang ke mana-mana”

“Memang sih, Kang” ujarku dengan nada melemah, diam-diam dalam hati saya juga merasakan kondisi hati yang sama dengan Kang Ri, “Mbah Ji Mat pernah bilang, dalam shalat berjamaah gerakannya bisa sama, imamnya bisa sama, masjidnya juga sama, namun rasa shalat tiap jemaat bisa berbeda-beda. Ada yang merasa nikmat, lezat, namun tidak jarang galau, terganggu bahkan tersiksa. Itu mungkin yang dimaksudkan sebagai pengalaman spiritual. Itu subjektif sekali, dan tidak bisa dipaksakan”

“Benar, Dul. Saya setuju itu. Tidak bisa dipaksakan!” Kata Kang Ri bersemangat.

“Tapi, keinginan Yu Patim untuk bisa menikmati pengalaman itu juga tidak bisa dihalangi loh, Kang!” kataku mengingatkan.

“Ah, Dul. Jangan kau ingatkan lagi tentang itu” pinta Kang Ri.

Loh betul Kang. Sebagai istri, ia punya hak untuk mendapatkan itu dari sampean

Lha, enak di dia, galau di saya dong..” ujar Kang Ri menyimpulkan.

“Ya.. disiasati dong, Kang..”

“Maksud kamu???”

Sampean anter Yu Patim ke Masjid Agung. Sambil nunggu dia selesai, sampean bisa jalan-jalan di kota”

“Benar juga. Terus, kapan saya shalat tarawihnya??”

“Kalau mau tarawih, sampean bisa cari masjid lain, di kota kan banyak, yang bacaan imamnya seperti selera sampean

“Wah, boleh juga nih idemu! Tapi bagaimana kalau istriku minta dianter tiap hari?” tanya Kang Ri.

“Ya, nggak masalah, Kang. Kan bisa jalan-jalan di kota tiap hari. Asyik kan??” jawabku sekenanya.

“Asyik, katamu?”

“Iya. Jalan-jalan kan asyik. Bisa lirak-lirik di pusat perbelajaan”

“Benar nih, asyik?”

“Iya, memang asyik, toh?”

“Bagaimana Kalau kamu juga ikut aku nganterin?”

“Gak sudi!” jawabku ketus.

“He he he he” Kang Ri meninggalkanku sambil mengengeh. []

 

Joyosuko Metro, 28/7/2012

Comments
  1. abdul rohman says:

    matur tank you pak amien (abdul rohman) hehehehe

  2. afwan pak foto menyauasul sek mbulet opereatore.kebengen sek ngantukkkkkkkkk

  3. mohon kemuarahan hatuiiii bapak yao!

  4. pak kok mesti kita kalau ktemu kok pada waktu yang mana q selaul telat wahhhhhh

  5. pak tadi bagi yang terlambat apa gak di absen ceee. wah gimana tuh ntar

  6. puji jamuuuuuuuuuu says:

    pusinggggggggggggggggggggggggggggg…………………..!

  7. benramt says:

    nggak juga, bu ida… udah lama ide tulisan ini saya simpen, hanya belum mood nulisnya aja hehehe

  8. ida says:

    hasil kolokium tasawuf… great..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s