UNJUK RASA

Posted: July 22, 2012 in celetukan
Tags: , , , , ,

“Dul, ini bahaya. Bahaya Dul, kalau benar-benar terjadi!” kata Kang Ri dengan napas terengah-engah.

“Apa sih, Kang?” ucapku sesantai mungkin.

“Bahaya Dul. Ini sangat berbahaya..” masih dengan napas naik turun.

“Iya, apanya yang bahaya? Nggak ada angin, nggak ada hujan, nggak ada pula gempa kok bahaya..”

Sweerrr Dul, kalau ini benar-benar terjadi, maka akan…”

“Bahaya!” kataku cepat nimpali.

“Benar,  katamu”

Lha, iya toh. Lha wong sampean dari tadi juga ngomong itu berulang-ulang..”

“Tapi ini bener lho Dul!” Kang Ri sedikit membentak.

“Iya, tapi itu apa? Bahaya, bahaya tok. Tapi tidak mau nyebutin!” kataku tidak kalah sewot.

“Itu lho, Dul. Jama’ah musholah kita at-Taubah berencana berunjuk rasa!”

“Berunjukrasa??” tanyaku sok terkejut. Sengaja biar terkesan ekspresif, dan Kang Ri jadi senang.

“Benar. Berunjukrasa!!” katanya tidak kalah ekspresif.

“Berunjuk rasa ke mana, Kang? Ke Pak Lurah? Pak RW? Atau Pak RT?” tanyaku lebih lanjut.

“Maksudmu??”

“Lho, sampean ini bagaimana sih, Kang??” kataku sedikit bingung, “Unjukrasa itu kan menunjukkan rasa, bisa senang, benci, tidak suka. Atau apalah.. Nah itu ditujukan ke mana? Atau ke siapa?”

“Nggak ke mana-mana dan nggak ke siapa-siapa!” jawabnya singkat.

“Woi, dasar wong.. untung lagi puasa, kalau nggak… huehhh!!!” ujarku geregetan sambil tangan menggenggam-nggegam tak karuan..

“Lah Jama’ah justru maunya tidak melakukan apa-apa jhe, Dul?” kata Kang Ri innocent.

“Maksud sampean??”

“Setelah 3 hari ini mereka melaksanakan tarawih di musholla kita, mulai malam nanti mereka bersepakat tidak mau berjamaah lagi di sana. Lebih baik mereka diam aja di rumah, tidak tarawih!”

“Oh, mereka mau boikot gitu maksudnya???”

“Ya begitulah..”

“Ya gakpapalah Kang” jawabku nyantai, “Lagian sholat tarawih tidak wajib hukumnya, bisa dilakukan sendiri-sendiri”.

“Bukan begitu Dul, kalau menurut saya..”

“Lha, menurut sampean bagaimana, Kang?”

“Menurut saya, ini berbahaya!!”

“Apanya yang berbahaya, Kang??”

“Musholla Kita jadi sepi!”

“Lha.. memang selama ini musholla kita kan tidak pernah ramai selain Ramadhan.. yang jamaah juga itu-itu saja. Satu shaf saja tidak pernah penuh!”

“Nah, itulah Dul, yang saya sebut bahaya”

“Apanya yang bahaya, Kang??  Apakah kalau tidak ada jamaah, terus musholla mau dirubuhkan? Tidak toh?? Jangan lebay gitu dong ah!” kataku  dengan sedikit begejekan.

“Dul, saya serius!!” katanya lagi-lagi dengan sedikit membentak.

“Iya, Kang. Jelaskan dong mana titik bahayanya??” kataku mencoba bersabar.

“Dengarkan baik-baik, Bapak Takmir yang terhormat..” ujarnya dengan wajah yang menegang. Justru dengan paras begitu membuat saya ingin tertawa, tetapi tidak berani, “kalau Ramadhan saja musholla ini sepi, terus.. kapan lagi tempat ibadah itu akan ramai?? Pikir dong. Pikirrrr..” sambil menunjuk-nunjukkan jarinya ke jidat.

“Benar juga ya, Kang!!” kataku menyerah, tidak jadi tertawa.

“Terus.. kapan lagi kita mengajari anak-anak kita mencintai tempat ibadah? Terus.. kapan lagi kita mensyiarkan kepada jamaah, bahwa shalat bersama itu menyenangkan??? Kapan dong?? Kalau tidak di bulan suci ini”

“iya, ya Kang. Betul juga!” ujarku, kalah. “Tapi, ngomong-ngomong.. kok tahu sampean Kang, kalau besuk jama’ah mau boikot?”

“Ya tahulah Dul. Lha wong mereka menyuruhku menyampaikan kepadamu, selaku kepala Takmir” katanya dengan sedikit cengengesan.

“Ini artinya, sampean diutus sebagai duta mereka? Atau Koordinator lapangan mereka?” tanyaku mulai serius.

“Ya… bisa dikatakan begitulah” jawabnya nyantai.

“Ini artinya, kalian mendemo saya? Berunjukrasa yang ditujukan ke saya?” tanyaku dengan wajah mulai menegang.

“Ya.. begitulah” lagi-lagi Kang Ri menjawab sesantai mungkin, “ Puasa memang membuat seseorang  cepat sadar hehehehe”

“Dasar wong… astagfirullah, ana shaim!” ujarku dengan geregetan.

“Ya begitulah.. puasa memang melatih kesabaran, pak Takmir. Hehehehe”

“!!!!!!!#$%#$#$%#$#%$%#%$#%$!!!#$#@@#@#@++==%&^%^” aku geregetan, “terus .. kalian dengan boikot itu menuntut apa dari takmir??” kataku mencoba menenangkan diri.

“Ini tuntutannya!!” tiba-tiba Kang Ri mengeluarkan gulungan kertas dari balik bajunya. Kubaca kertas itu berbunyi: ”KUKUHKAN MBAH JI MAT SEBAGAI IMAM TETAP TARAWIH SELAMANYA, TANPA YANG LAIN!!”

“Apa??!! Tidak salah kah??” ucapku setelah membacanya, terutama pada tiga kata terakhir: TANPA YANG LAIN.

“Ya, tidak ada yang salah, pak Takmir!” jawab Kang Ri tegas.

“Apa alasannya, Kang?!”

“Alasan pengukuhan, atau alasan penolakan?”

“Alasan penolakan saja. Kalau pengukuhan saya sudah mafhum!” kataku sambil teringat sosok Mbah Ji Mat. Orangnya sepuh. Tinggal di RT ini sejak dua tahun lalu ikut pindahan anak tunggalnya. Beliau  pensiunan guru agama. Bacaan al-Qur`annya bagus, makharijul hurufnya fasih. Walaupun tidak mengenal ritme tartil seperti hijaz, bayati atau yang lain, namun langgam bacaannya tidak membosankan. Jika membaca al-fatihah atau surat pendek, beliau membacanya ayat per ayat dengan perlahan dan jelas ejaan huruf atau panjang pendeknya, sehingga makmum dimungkinkan bisa mengikuti  atau remen-remen menerawang maknanya bagi yang pernah tahu.

Sepertinya, beliau banyak hafal ayat al-Qur’an terutama yang popular. Maklum mantan guru agama. Namun sepengetahuan saya kalau memimpin shalat tarawih, beliau tidak pernah membaca ayat yang panjang-panjang. Suatu ketika pernah saya tanya mengapa yang beliau baca hanya surat-surat pendek yang ada di juz terakhir. Beliau bilang, kalau baca penggalan ayat, takutnya salah memotong karena beliau meyakini kalau setiap surat dalam al-Qur`an pasti ada gagasan utamanya yang kalau dipenggal-penggal akan merusak keterkaitan/keserasian antar ayat (al-munasabah bainal ayat). Akan lebih baik kalau dibaca satu surat utuh. “Di samping, saya juga tidak hafal ayat yang panjang-panjang” katanya merendah.

“Hei, pak Takmir!” Kang Ri mengagetkanku, “mau tahu alasan penolakannya nggak??”

“Oh, iya. Kang! Tolong jelaskan!” pintaku.

“Selain Mbah Ji Mat, menurut jama’ah yang lain tidak layak, karena imam yang masih muda pada kemelinti dengan sok pamer bacaan ayat-ayat yang panjang. Bacaan dan lagunya enak sih.. tapi tidak bisa membuat jama’ah enak dan tenang beribadah. Makmum yang tua pada menggerutu kecapekan berdiri, makmum anak-anak juga sama” urai Kang Ri berapi-api.

“terus kalau imam yang tua??”

Gak teteh jadi imam. Bacaannya sih surat-surat pendek, tapi plintat-plintut. Gak jelas makhrajnya. Tidak tepat panjang pendeknya! Cukup hanya itu saja!”

yo, wis kang. Akan saya pertimbangkan dan bicarakan aspirasi ini dengan yang lain” kataku dengan gaya klise seorang pejabat, untuk menghibur pendemo.

“ya, udah. Nanti malam kalau tidak Mbah Ji Mat, boikot akan jalan..” kata kang Ri memberi batasan target waktu.

“ ya.. nggak bisa nanti malam toh, Kang. Kapan rapat dengan takmir yang lain??”

“Ya.. nggak mau tahu.. wassalam..” ujar Kang Ri ngeloyor pergi. Saya tertinggal dalam kebingungan. Mendelete  imam yang muda sih tidak masalah. Tetapi menghapus imam yang tua, itu bikin perkara. Karena mereka warga asli di RT ini, merasa telah berjasa membangun musholla dan minta dihargai dengan tampil menjadi imam tetap terawih, walaupun… Sudahlahlah. Apa kata nanti saja!! Pusing.. pusing!![]

 

Joyosuko Metro, 21/7/2012.

Comments
  1. benramt says:

    syukran ust rafki chan! jazakallah.

  2. nice posting, keep writing bro …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s