LIKA LIKU

Posted: July 21, 2012 in celetukan
Tags: , , , , ,

Delapan belas tahun kami tidak bertemu, sepulang dari lokasi pengabdian di Medan dahulu. Kini berjumpa kembali. Parasnya tidak banyak berubah, hanya sedikit lebih tua. Ia menjemputku di gerbang universitas Islam, dan membawaku dengan motornya melaju kencang menyusuri jalanan kota hingga berhenti di tempat usahanya, konter handphone.

Tampak di depanku deretan lemari kaca. Di dalamnya ada beragam HP seken dari pelbagai merek terkenal. Masuk ke dalam ada meja yang di atasnya peralatan untuk menservis HP. Konter ini dijaga dua orang karyawan. Saat kami datang, satu orang tersenyum menyambut kami, mempersilakan masuk dan berpamitan pada kawanku, sang owner, untuk udzur diri. Tampaknya ia kebagian sip pagi. Sedangkan karyawan satunya masih terlelap dalam kantuk yg terlihat begitu berat. Hingga kami masuk ke dalam, iapun belum menyadarinya. Kuperhatikan penampilannya nyentrik. Rambutnya agak kusut nan nggimbal tertutup kupluk bundar yang berwarna hitam memudar. Matanya amat sayu terkesan jarang tidur malam. Terlilit di lehernya untaian tasbih besar terbuat dari kayu.

“Baru sebulan ini, menggeliat” ujar temanku setelah kami letakkan bokong di atas karpet, “setelah terpuruk sekian lama”.

“Tampaknya perjalananmu penuh terjal..” komentarku.

“Tepatnya, jatuh bangun” celetuknya.

“Tapi, kulihat engkau perkasa, kawan” pujiku.

“Kalau tidak karena agama yang kita punya, kemungkinannya engkau tidak menjumpaiku seperti ini”

“Alhamdulillah.. ” ujarku sambil pikiran ini menerka-nerka tentang roda nasib apakah gerangan yang tengah menggelinding kepadanya.

“Untuk ukuran seusiaku saat itu, aku pernah berjaya. Konterku maju pesat, hingga aku merambah ke bisnis jual beli mobil. Namun..”

“Apa yang terjadi?” tanyaku penasaran, sambil kulihat ia menarik nafas dalam-dalam.

“Bisnis,” katanya “ternyata memiliki aturan main sendiri, dan saya menjadi korban permainan itu”

“Maksudmu, kamu ditipu?”

“ya, begitulah. Bussines is bussines. Tiada kawan tiada aturan. Yang ada hanyalah keuntungan di tangan”.

“Kalau boleh menebak, kamu dikhianati teman?”

“Ya begitulah. Langsung ludes seketika. Termasuk konter ini. Saya bangkrut total!”

“Tapi kan, tidak bangkut keimanan??” kataku asal nyeplos.

“Hampir saja, namun Alhamdulillah.. Allah masih memberiku petunjuk dan kesempatan untuk belajar bahwa semua yang ada pada kita, sejatinya bukan milik kita. Itu hanyalah titipan, kapanpun mau Tuhan akan mengambilnya..”

“Luar biasa” ujarku sambil mantuk-mantuk, “kayaknya kamu terpilih untuk diuji dalam melakoni kata bijak ini, dan kamu sukses”.

“Satu hal yang aku belajar dari itu adalah semuanya ada yang ngatur. Jangan sombong dan pelit” katanya sambil menggeser tempat duduknya.

Kulihat karyawan nan nyentrik terbangun. Matanya nan sayu terbuka, melihat ke kami lalu tersenyum malu-malu, “Spuntene spuntene, kulo mboten ngertos dugine panjenenganipun [maaf, maaf, saya tidak menyadari kehadiran Anda semua]” ujarnya sambil menyalami dan mencium tangan saya.

“Eittt apa-apaan ini? Kok pake cium segala.. kayak salaman sama kyai aja” kataku spontan karena memang tidak terbiasa dengan cara beginian. Kulihat temanku hanya tersenyum-senyum saja.

Nyuwun sewu.. kulo bade mlebet rumiyin.. [permisi, saya tinggal ke dalam dulu]” katanya dengan sangat sopan ala abdi dalem keraton Jawa. Saya hanya tersenyum mempersilakan dengan penuh keheranan. Kulihat sekali lagi temanku. Ia tertawa melihat aku salah tingkah.

“Sapa dia sebenarnya?” tanyaku kepada sang teman sambil berbisik.

“Ceritanya panjang” jawabnya, “inilah salah satu wujud dari belajarku. Ngemong dia” lanjutnya. “Ini sudah lumayan. Dia itu tidak pernah tidur malam. kebiasaannya, sehabis isya ia berjalan entah kemana kakinya melangkah. Sejak kecil ia kayak indigo. Punya indra keenam, bisa masuk ke alam lain”

“Pantas saja, saya sejak awal melihatnya kok terkesan ada sesuatu padanya” aku menimpali.

“Kriettt..” pintu terbuka dan kulihat sang karyawan keluar sambil membawa dua gelas teh hangat. Ia menyuguhkan satu kepada bosnya dan satu lagi buatku. “Monggo diunjuk.. kulo bade shalat duhur rumiyin [silakan diminum, saya mau shalat duhur dulu]” katanya, lagi lagi dengan sangat sopan. Saya hanya tersenyum dan mempersilakannya.

“Tentunya dalam kejatuhan atau kebangkrutan duniawi itu ada rasa sakit yang luar biasa. Bagaimana cara kamu mensiasatinya agar bisa bangkit lagi. Saya yakin itu tidak mudah. Karena, seperti yang pernah saya baca, seseorang itu dikatakan gagal bukan pada saat ia jatuh, tetapi saat ia tidak bisa bangkit lagi dari kejatuhan itu..”

“Kalau diceritakan, akan panjang sekali, kawan!” ujarnya sambil menyeruput teh hangat, lalu melanjutkan “lika-liku kehidupan ini memang seringkali tidak bisa ditebak. Saya dibesarkan di lingkungan keluarga Muhammadiyah. Namun siapa pernah menyangka kalau saya pernah mendatangi makam wali atau kyai-kyai besar di tanah Jawa ini. Hampir semuanya pernah saya singgahi. Mungkin itulah bagian dari proses pencarian saya dalam mensiasati rasa sakit itu”

“Kalau boleh tahu, apa yang kamu lakukan di tanah pekuburan itu?” tanyaku penasaran. Kulihat karyawan nan nyentrik telah nimbrung bersama kami. Kulihat wajahnya lebih segar karena basuhan air wudlu yang masih membekas.

“Saya kira itu tidak penting bagimu, karena bagaimanapun aku menjelaskannya logika kemuhammadiyahanmu tidak akan bisa menerimanya. Karena memang sudah beda perspektif” jawab temanku.

“Tapi kan, tidak masalah jika kamu menjelaskannya lebih dahulu??..”

“Itu tidak penting”

“Lalu apa yang menurutmu penting bagiku dari perjalanan hidupmu?”

Pertama, serahkan semuanya pada Allah. Setiap senang dan duka kita melalui ibadat dan riyadlo ruhiyyah yang istiqomah-thuma`ninah. Lalu kedua, irham man fil ardli yarhamuka man fis sama` [kasihilah siapa saja yang di bumi, niscaya engkau dikasihi oleh siapa yang di langit] dengan shadaqoh dan akhlak karimah”.

“Hanya itu?” tanyaku.

“Tidak. Masih ada satu lagi”

“Apa itu?”

“Perut ini punya hak yang wajib kita penuhi. Yuk kita makan siang hehehe”

“Semprul ente! Saya sudah serius nih mendengar wejangan pak kyai..”

“Kyai penyet! Hehehe” tandas temenku.

“Mas, sampean minta lauk apa? Ayam atau ikan?” tanyaku pada karyawan nan nyentrik sebelum kami menuju warung makan.

Sampun mboten usa repot-repot. Kulo mboten dahar [sudah tidak perlu repot-repot, saya tidak makan]” jawabnya dengan sangat sopan.

“walah… gak ada yang repot. Ikan apa ayam?”

Sampun toh, saestu… mboten usa repot-repot [sudahlah, betul.. tidak perlu repot]”

“sudah dibilangin, gak ada yang repot” kataku sedikit memaksa “ ayam apa ikan?”

Nek ngoten, tahu tempe mawon… [kalau begitu, tahu tempe saja..]” jawabnya halus.

“Tahu tempe?” tanyaku sambil terbelalak.

Injih.. [iya]” jawabnya tak kalah halus. Dan kulihat temenku yang sudah duduk di atas sedel motor tertawa terbahak-bahak..[]

 

Joyosuko Metro, 21/7/2012

Comments
  1. Thanks for discussing your ideas in this article. The other matter is that if a problem occurs with a computer system motherboard, people should not consider the risk of repairing this themselves because if it is not done properly it can lead to permanent damage to the complete laptop. It will always be safe to approach any dealer of your laptop for any repair of its motherboard. They have technicians who’ve an experience in dealing with mobile computer motherboard issues and can make right analysis and perform repairs.

  2. Well, I don’t actually know a lot about it, but it really reminds me of a tale my professor one time shared with us: apparently, this thirteenth century English alchemist tried (in vain) to make gold from lead. He examined those ingredients so deeply, he evolved into an expert on both, and became rich as an official guide to the queen. Data was hard to come by in those days, far apart from nowadays with computer availability, and committed drivers etc. back then, once you realised something good, you could keep on counseling for a lifetime. But I digress. What I’m saying is that every now and then you come upon riches by simply attempting (and staying devoted to) something else, and thats just what happened to me once I accidentally got here. I was actually on the search for some technological records about driver updates when I began scouring the web, and got carried away…. Keep up the excellent work, and thanks for the article.

  3. Mel Mccarley says:

    Alexander Castro EA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s