BAGIO

Posted: June 1, 2012 in celetukan
Tags: , , ,

                “Dul, dalam hidup apa yg kamu cari?” kata Kang Ri malam itu, saat kongkow di serambi musolla sehabis isya.

“Maksud sampean apa, Kang?” kataku balik bertanya. Bukannya saya tidak memahami maksud pertanyaan Kang Ri, hanya saja saya mencoba mengetahui mengapa ia bertanya demikian.

“Kamu hidup di dunia ini, apa yang kamu cari?” ulang Kang Ri dengan penuh penekanan. Tampak ia memasang wajah serius.

“Duit” kataku begejekan.

“Hanya itu?”

“Ya, enggak to Kang!”

“Terus apa lagi?” katanya mencoba bersabar melihat sikapku yang kurang serius.

“Pangan” jawabku sambil garuk-garuk kepala yang tidak gatal.

“Apalagi?”

“Sandang” ujarku sambil kali ini ngupili hidung yang udah bersih.

“Apalagi?” katanya. Belum sempat saya menjawab, Kang Ri telah kehabisan kesabarannya menghadapi polaku, “sudah tak usah dijawab, Dul. Aku sudah tahu!”

“Lho aku mau menjawabnya, Kang” kataku pura-pura protes. “Swerr, saya serius, kang!”

“Gak usah! Saya sudah tahu!”

“Emangnya apa? hayoo..” masih cengengesan.

“Papan, toh?” jawabnya serius.

“Lho, kok tahu, kang?” tanyaku pura-pura penasaran.

“Sudahlah, tak usah cengengesan. Saya serius!” pintanya.

“terus kalau menurut sampean, dalam hidup ini apa yang dicari, kang?”

Cah gemblung!” ujarnya, “ditanya kok malah balik tanya” sambil ngeloyor pergi.

Dengan senyum kupandangi bayangan Kang Ri menjauh dari musholla hingga hilang ditelan malam. Namun pertanyaan yang ia berikan ternyata tak turut pergi bersamanya. Tidak pula sirna karena isengku terhadapnya. Malah merasuki ruang kesadaranku. Meneror. Menghantui. Membetot saraf perenunganku: iya ya, dalam hidup ini apa yang aku cari?

Ada benarnya sih, bahwa apa yang saya sebut dengan cengengesan tadi adalah kenyataan. Karena memang itulah di antara hal yang saya cari dan mungkin juga anda. Namun untuk apa itu semua? Ya, untuk apa??

“Pak!” anak perempuanku membuyarkan kesadaranku,

“Sejak kapan kamu ada di sini, nduk?” tanyaku.

“Dari tadi”

“Lha kok bapak gak tahu?”

“Lha bapak ngelamun aja” ujarnya menggerutu.

“Ada apa, nduk?”

“Ada tamu”

“Siapa?”

“Pak Bagio”

“Bagio?” tanyaku,

“Ya, pak bagio”

“Benar, benar. itu semua kalau dipikir memang untuk Bagio” kataku spontan.

“Maksud bapak apa?” tanya anakku, bingung.

“Oh, tidak” jawabku, cepat-cepat menetralkan pikiran putriku, “yuk kita pulang” ajakku sambil pikiranku terus berputar bahwa memang seringkali semua yang kita cari, materi atau non materi, ujungnya adalah untuk memperoleh “bagio”, kebahagiaan. Tetapi kebahagiaan yang bagaimana?  Kambingnya Pak Man, sebelah rumah, saya yakin bahagia karena bisa makan, minum, tidur, kawin, beranak dengan mudah dan terus begitu… Apakah kebahagian seperti itu? Kalau begitu apa bedanya kita dengan bangsawan (bangsa hewan) itu?

“Waduh!” sepontan mulutku mengeluh.

“Ada apa, Pak?” Tanya putriku yang berjalan di depanku.

“Terantuk batu, Nduk

“Pasti ngelamun lagi!”

Sampai di depan rumah, sayup-sayup terdengar putraku yang masih TK, dengan suara cadelnya menghafal do’a sapujagad, Rabbana atina fid dunya hasanah wa fil akhirati hasanah.. Ya, kebahagiaan dunia dan akhiratlah yang dicari, namun seringkali semua itu kandas karena hidup yang dijalani, lebih diorientasikan kepada pemerolehan materi duniawi semata… []

 

Tlogomas, 28/05/2012.

Comments
  1. of course internet dating is the trend these days, you can meet lots of people on the internet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s