TIDAK SEKADAR PERCAYA, TAPI JUGA MEMPERCAYAKAN

Posted: May 11, 2012 in naskah khutbah

khutbah Jum’at, Saiful Amien.

Satu lagi tragedi penerbangan yang menyentakkan ruang kesadaran kita. Pesawat Sukhoi Superjet 100 buatan Rusia yang niatannya melakukan joyflight, penerbangan promosi berkeliling Asia dengan mengunjungi 6 negara (yaitu Kazakhstan, Pakistan, Indonesia, Vietnam, Laos, dan Myanmar) harus berujung duka di gunung Salak Bogor. Belum diketahui apa penyebab kecelakaan ini, namun bagi kita yang telah dikaruniai hati dan akal pikiran, ada pelajaran yang mesti kita ambil dari setiap peristiwa.

Di antaranya adalah pertama, seberapa canggihnya ilmu dan teknologi yang kita kembangkan, tetap saja tiada yang sempurna. Tentang Sukhoi Superjet 100 ini, Mikhail Pogosyan Kepala United Aircraft Corporation (semacam asosiasi maskapai penerbangan Rusia) kepada Harian Russia Today, mengatakan bahwa pesawat ini cukup canggih. Memakai teknologi jet pesawat tempur atau dikenal sebagai teknologi jet generasi ke 5, pesawat ini memiliki kemampuan yang tangguh. Pesawat ini mampu memberikan peringatan awal kepada pilot untuk setiap kemungkinan darurat sehingga membuat pesawat ini tidak harus benar-benar ada dalam kondisi darurat dan memperbaiki kesalahan pilot (http://nasional.kontan.co.id/news/seperti-apa-sih-sukhoi-superjet-100/2012/05/09). Namun kenyataannya, tetap saja pesawat ini tak mampu menghindari kondisi darurat dan hilang dari pantauan radar.

Satu lagi fakta yang menunjukkan bahwa manusia dan apa saja yang dihasilkannya begitu rentan, rapuh dan jauh dari ambisinya tentang kesempurnaan dan keabadian.  Satu ibrah yang mesti senantiasa kita ingat, bahwa kita hanyalah “makhluk” bukan “Khalik” maka tak pantas kita taburkan benih apa saja yang terkait dengan buah kesombongan di dalam jatidiri ini. Allah SWT telah mengingatkan di dalam QS. Al-Isra` [17]:37:

وَلاَ تَمْشِ فِي الأَرْضِ مَرَحًا إِنَّكَ لَن تَخْرِقَ الأَرْضَ وَلَن تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولاً

Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.

 

Juga pada QS. Luqman [31]:18,  Allah Azza wa Jalla mengulanginya lagi:

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.

 

Jamaah Jum’ah yang selalu berharap ridha Allah..

Ibrah yang kedua. Pada setiap perjalanan yang kita lakukan baik itu dengan angkutan darat, kapal laut maupun pesawat terbang, kita tidak pernah mempertanyakan jalan apa yang dipilih, dimana, bagaimana dan hendak kemana kita diperjalankan kepada sopir, nahkoda atau pilot.  Kita percaya begitu saja dan memasrahkan sepenuhnya kepada mereka. Sehingga tampak kita tidak kuasa saat datang bahagia atau celaka. Bisa jadi, karena kita menganggap mereka memiliki otoritas sepenuhnya.

Namun, bagaimana dengan perjalanan hidup kita yang sesungguhnya? Sepertinya kita tidak mudah menjadi “penumpang” yang taat. Kepada Allah, Pencipta dan pemilik Tunggal hidup dan kehidupan ini, kebanyakan kita mempercayai-Nya. Kita percaya bahwa Dialah pencipta kehidupan maka pasti Dialah yang Paling Tahu jalan apa, di mana, dan bagaimana menjalaninya. Tetapi, ternyata jarang di antara kita yang mau mempercayakan sepenuh hidup kita kepada-Nya semata. Kepada Rasulullah, Muhammad SAW kita juga percaya bahwa beliaulah yang diberi mandat oleh Allah dan memiliki otoritas untuk menahkodai perjalanan hidup kita. Tetapi lagi-lagi, sangat sedikit dari kita yang benar-benar mau mempercayakan sepenuhnya dengan mengikuti petunjuk dan sunnahnya. Tampaknya, banyak di antara kita yang menjadi “penumpang munafik” dalam perjalanan hidup ini. Tidak adanya kesatuan kata dan tindakan dalam berberiman-islam, padahal menjadi muslim tidak sekadar percaya tetapi juga mempercayakan segalanya hanya kepada Allah SWT. Bukankah demikian yang diajarkan kepada kita:

قُلْ إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ . لاَ شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَاْ أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ

Katakanlah: “Sesungguhnya salat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)” (QS. Al-An’am [6]: 162-163).

 

Ma’asyiral Muslimin wa zumrotal mu’minin rahimakumullah..

Itulah ironi kehidupan di dunia ini. Dalam bepergian sementara yang kita lakukan di dunia ini kita gampang sekali mempercayakan segalanya kepada sopir, nahkoda atau pilot yang kita tidak pernah mengenalnya. Namun dalam perjalanan yang sesungguhnya, malah kita tidak mudah memasrahkan hidup-mati kepada nahkoda yang kita lebih mengenalnya daripada orangtua sendiri. Padahal kalau kita mau merenungi, inilah perjalanan hakiki yang tidak mengenal kembali. Ia terus melaju sampai titik akhir keabadian: bahagia atau celaka.

Mari kita cermati bagaimana dahsyatnya gambaran tentang ujung perjalanan hakiki ini. Allah berfirman dalam QS. Az-Zumar [39]: 68:

وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَصَعِقَ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَمَن فِي اْلأَرْضِ إِلاَّ مَن شَآءَ اللهُ ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَى فَإِذَا هُمْ ِقيَامٌ يَنظُرُونَ

Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing).” (QS. Az-Zumar: 68).

 

Saat sangkakala ditiup kedua kali, mulailah kita memasuki hari berbangkit (yaum al-ba’ts). Semua makhluk termasuk kita, dibangkitkan dari kuburnya oleh Allah Ta’ala, lalu kita dikumpulkan di padang mahsyar yang amat luas dengan pijakan yang rata tak bergelombang. Semua kita dalam keadaan tidak berpakaian, tidak beralas kaki, tidak berkhitan, dan tidak membawa sesuatu apa pun.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Pada hari kiamat nanti manusia akan dikumpulkan dalam keadaan tidak memakai sandal, tidak berpakaian, dan dalam keadaan belum berkhitan. Aisyah bertanya, ‘Wahai Rasulullah, kaum pria dan wanita (berkumpul pada satu tempat semuanya dalam keadaan tidak berbusana?!) apakah mereka tidak saling melihat satu sama lain?’ Rasulullah SAW menjawab, ‘Wahai Aisyah, kondisi saat itu amat mengerikan sehingga tidak terbetik sedikit pun dalam diri mereka untuk melihat satu sama lain!’.” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

Ya, saat itu masing-masing dari kita memikirkan dirinya sendiri dan tidak sempat untuk memikirkan orang lain, meskipun itu adalah orang terdekat kita. Allah Ta’ala berfirman di dalam QS. Abasa [80]: 34-37:

 

يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ  وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ  وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ  لِكُلِّ امْرِئٍ مِّنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ

Pada hari itu manusia lari dari saudaranya. Dari bapak dan ibunya. Dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya.”

 

Semua kita saat itu berada di dalam ketidakpastian. Masing-masing menunggu apakah termasuk orang-orang yang beruntung, dimasukkan ke taman-taman kebahagiaan (surga) atau termasuk orang yang celaka, dilemparkan ke dalam jurang kenistaan (neraka).

Dalam kondisi seperti itu Allah Ta’ala mendekatkan matahari sedekat-dekatnya di atas kepala kita, hingga panasnya matahari yang luar biasa itu mengakibatkan keringat kita bercucuran. Al-Miqdad bin al-Aswad radhiallahu’anhu bercerita, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Pada hari kiamat nanti matahari turun mendekati para makhluk hingga hanya berjarak satu mil. Pada saat itu kucuran keringat masing-masing manusia tergantung amalannya; di antara mereka ada yang keringatnya sampai mata kakinya, ada pula yang keringatnya sampai lututnya, ada yang keringatnya sampai perutnya serta ada yang tenggelam dalam keringatnya sendiri!’” (HR. Muslim).

Demikianlah kondisi kita saat itu. Berada di dalam kesusahan, kebingungan, dan ketidakpastian yang tiada bandingannya. Padahal satu hari pada saat itu bagaikan 50 ribu tahun hari-hari dunia! (QS. Al-Ma’arij [70]: 4).

 

Sidang Jum’ah yang dikasihi Allah..

Betapa mengerikannya ujung dari kehidupan kita. Karenanya mari kita gugah kesadaran kita untuk memperbaiki perjalanan hidup ini. Karena bila kita mau memperhatikan dengan penuh kejujuran, ternyata masih banyak di antara kita yang telah terlena dengan kelezatan duniawi, sehingga kita tidak mematuhi petunjuk dan arahan pilot kita yang hakiki, Rasulullah SAW. Akibatnya, kita malas beribadah kepada Allah dan mengikuti sunnahnya dalam beramal salih. Padahal pada hakikatnya perjalanan kita yang dihisab hanyalah  dalam waktu yang teramat singkat!

Kalau umur kita 60 tahun, sebenarnya kita hanya diminta beramal selama 30 tahun. Karena waktu tersebut dikurangi dengan masa tidur kita di dunia. Jika dalam satu hari adalah 8 jam, berarti masa tidur kita adalah sepertiga dari umur kita yaitu: 20 tahun. Lalu kita kurangi lagi dengan masa kita sebelum baligh. Masa dimana seseorang tidak berkewajiban untuk beramal. Taruhlah jika kita baligh pada umur 10 tahun berarti, umur kita hanya tinggal 30 tahun!

Subhanallah, bayangkan! pada hakikatnya kita diperintahkan untuk beriman dan beramal salih di dunia hanya selama 30 tahun saja! Alangkah naifnya jika dalam waktu sesingkat itu kita enggan melakukannya, sehingga tiba-tiba saja kita terkagetkan karena perjalanan telah berakhir. Tiba di ujung celaka yang akan kita alami selama puluhan ribu tahun lamanya!

Mari kita belajar memperbaiki diri dan terus menguatkan amal ibadah kita, lalu kita percayakan sepenuhnya kepada Yang Maha Hidup, Pemilik Tunggal perjalanan kehidupan ini. Semoga ridha dan inayah-Nya senantiasa menyertai kita, amin ya Rabbal Alamin..

 

Jamaah Jumat rahimakumullah

Mari kita ikhtisari renungan singkat jum’at ini dengan meneguhkan hati, pikiran dan tindakan kita bahwa sudah semestinya kita percayakan perjalanan hidup yang teramat singkat ini hanya kepada Allah semata dengan mengikuti petunjuk, arahan dan sunnah Rasul-Nya dalam beribadah dan beramal kebajikan. Hanya dialah yang dianugerahi Allah mandat dan otoritas untuk kita jadikan nahkoda dalam mengarahkan hidup dan kehidupan kita menuju ujung kebahagiaan nan abadi.

Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s