MBAH MUKHLAS

Posted: February 15, 2012 in celetukan
Tags: , ,

Pintu rumahku diketuk orang. Ketukannya lemah, salam yang diucapkan pun sama, hingga hampir saja tidak terdengar di telinga. Bergegas saya buka pintu.  Kudapati Mbah Mukhlas, tetangga sebelah rumah, berdiri dengan senyum sepuluhsentinya.

“Maaf, Mbah. Dari tadi ya, ngetuknya?” ujarku menyambutnya.

“Oh.. nggak, baru saja” katanya masih dalam senyum.

“maaf Mbah, maaf.. Monggo mbah, pinarak..”

“Gak usah, Dul. Saya hanya mau pinjam tangga”

“Oh, ada Mbah. Sebentar,  saya ambilkan” kataku sambil bergegas ke belakang rumah.

“Ini tangganya, Mbah!”

“Saya pinjam dulu ya, Dul” katanya sambil tangannya hendak meraih alat panjat itu. Namun, secepatnya saya menjawab: “Injih, Mbah. Biar saya ngantarkan tangga ini ke rumah panjenengan. Monggo Mbah..”

“Terima kasih lho Dul” balasnya sambil berjalan di sampingku.

***

Saat tiba di rumahnya, Mbah Mukhlas memintaku untuk menyandarkan tangga di pohon pepaya depan rumahnya.

“Jenengan ini sudah amat sepuh, tapi kok masih mandiri toh Mbah. Mau mengganti genteng yang mana, Mbah?” kataku mencoba menebak, sapa tahu saya bisa membantunya. Kasihan, umurnya sudah 80 tahunan. Tentu badannya tidak setegap kita, namun hebatnya, tidak pikun sedikitpun.

“Tidak ada genteng yang bocor kok, Dul” jawabnya.

“Lha terus.. buat apa nih tangga?” tanyaku.

“Buat metik buah itu” sambil jari telunjukknya mengarah ke satu-satunya pepaya yang telah menguning.

“Kalau begitu, biar saya yang memetiknya, Mbah” kakiku pun siap memanjat, namun..

“Jangan, jangan Dul. Tidak usah. Nanti ada yang memetiknya sendiri” katanya memohon.

“Ya sudahlah kalau begitu.. Saya pamit dulu ya, Mbah!”

“Terima kasih, Dul. Oh ya, saya pinjam tangganya barang sehari atau dua harian ya..”

Injih Mbah, monggo…” dan sayapun ngacir.

***

Pintu rumahku diketuk orang. Ketukannya lemah, salam yang diucapkan pun sama, hingga hampir saja tidak terdengar di telinga. Bergegas saya buka pintu.  Kudapati Mbah Patimah, istri Mbah Mukhlas, berdiri dengan senyum sepuluhsentinya.

“Maaf, Mbah. Dari tadi ya, ngetuknya?” ujarku menyambutnya.

“Oh.. nggak, baru saja” katanya masih dalam senyum.

“maaf Mbah, maaf.. Monggo Mbah, pinarak..”

“Gak usah, Dul. Saya hanya diminta Mbah Mukhlas memberikan ini” sambil tangannya menyodorkan sebuah pepaya yang telah menguning.

Seketika pikiranku kembali pada buah pepaya yang menggantung di pohon depan rumah Mbah Mukhlas dua hari yang lalu. “Lho Mbah, kok diberikan saya sih? Terus buat Mbah Mukhlas dan Jenengan sendiri bagaimana?” ujarku menanyakan.

“Oh, ada tiga kok Dul, pepayanya” jawab Mbah Patimah.

“Tiga? Seingatku hanya satu kok Mbah. Lha Wong, saya pingin membantu memetiknya, tetapi dilarang sama Mbah Mukhlas”

“Hehehe itulah kenyataannya” kata Mbah Patimah singkat.

“Pakne ini bagaimana sih??? Ada tamu kok diberdirikan aja depan rumah” kata Istriku yang tiba-tiba nongol dari belakangku, “monggo, Mbah. Pinarak” lanjutnya sambil menuntun Mbah Patimah masuk ke ruang tamu.

“Ini lho, Nduk. Disuruh Mbah Mukhlas nganterin pepaya ke sini” kata Mbah Patimah setelah duduk di kursi reotku.

“Wui, kok besar sekali Mbah, pepayanya. Dari pohon depan rumah itu, Mbah ya?” tanya istriku.

“Iya, Nduk”

“Sebentar Mbah, ya. Saya ke belakang dulu” ujar istriku sambil menenteng buah pepaya, meninggalkan kami berdua di ruang tamu.

***

“Mbah, terus terang saya penasaran” ucapku memulai pembicaraan lagi bersama Mbah Patimah sepeninggal istriku dari ruang tamu, “bagaimana ceritanya pepaya itu jadi tiga buah, padahal jelas-jelas yang saya lihat di atas pohon kemarin hanya ada sebuah?”

“Bagaimana, Dul ya?” ujar Mbah Patima ragu-ragu.

“Bagaimana apanya, Mbah?” kataku balik bertanya.

“Diceritain apa tidak ya?”

“Lha, memang ada orang yang dirugikan  toh Mbah, kalau diceritakan?”

“Tidak sih… hanya saja…”

Pliis deh, Mbah. Tolong dong ceritain. Abis terlanjur penasaran nih..” kataku sedikit mendesak.

“Karena kamu memaksaku ya, sudahlah. Cukup kamu saja yang saya beritahu. Begini ceritanya…”

***

Di sore hari menjelang maghrib, tiga hari yang lalu, Mbah Mukhlas menunjukkan kepadaku dua buah pepaya yang telah siap dipetik. Ia terkesan menantikan betul masaknya buah pepaya itu, sehingga setiap pagi dan sore ia selalu menyirami pohonnya. Rencananya, ia akan memanen pepaya itu keesokan harinya. Namun, sepulang dari sholat subuh, ia mendapati pepaya tersebut tinggal sebuah yang masih menggantung di pohon. Saya curiga ada yang mencurinya tadi malam.

Kulihat Mbah Mukhlas terduduk sedih di atas kursi depan rumah. Kuberanikan untuk menghiburnya: “sudahlah Pakne, lha wong hanya satu pepaya aja kok. Tidak perlulah bersedih begitu. Kan masih ada satu lagi yang bisa kita nikmati”.

“Bukan itu yang aku sedihkan, Bune…” Jawab Mbah Mukhlas agak sewot.

“Lalu apa yang membuatmu kurang bersemangat begini?” Tanya Mbah Patimah.

“Saya dari tadi tidak bisa membayangkan bagaimana sulitnya orang yang membutuhkan itu memanjat pohon pepaya ini dan memetik buahnya. Kasihan, dia hanya dapat sebuah. Mestinya ia membawa dua-duanya.”

Lalu Mbah Mukhlas bangkit dari kursinya dan memberitahuku hendak ke rumahmu, Dul, untuk meminjam tangga. Katanya sih, tangga itu hendak disandarkan di pohon pepaya agar memudahkan sang pencuri untuk memetik buah yang tersisa di malam harinya.

Monggo Mbah, diminum..” ucap istriku yang tiba-tiba datang dari belakang sambil membawa dua gelas teh hangat dan setoples keripik singkong.

“Kok ngerepotin sampean tho, nduk..” kata Mbah Patimah.

Mboten kok, Mbah. Mumpung ada..” jawab istriku sambil duduk di kursi samping Mbah Patimah.

“Terus bagaimana, Mbah?” kataku masih penasaran, “apakah pencuri itu datang lagi di malam hari?”

“Tidak. Ia tidak datang lagi di malam hari..”

“terus.. kok bisa jadi tiga, Mbah, pepayanya?” kataku todepoin.

“Pagi harinya, ada seorang lelaki dari kampung sebelah bertamu ke rumah. Mbah Mukhlas tidak mengenalnya. Setelah ngobrol ke sana kemari, sebelum pamitan pria itu meminta maaf kepada Mbah Mukhlas karena telah mencuri buah pepayanya. Ia mengaku sebenarnya ia ingin mencuri pepaya yang tersisa pada malam ketiga, namun saat ia melihat ada tangga yang tersedia di pohon pepaya itu, ia justru merasa tersadarkan dan berjanji tidak akan mencuri lagi. Dan untuk menebus kesalahannya, ia mengembalikan hasil curiannya beserta tambahannya yang ia beli di pasar buah.

“Ohhh begitu ceritanya..” kataku seakan tak percaya.

“ Sudah ya, saya mohon pamit dulu” kata Mbah Patimah sambil beranjak dari kursinya[]

Joyosuko Metro, 14/2/2012

(Thank to Haris Susmana & Fahmi Amrullah, atas obrolan kita tentang kebersahajaan Allahyarham Ust. Imam Syubani  di Bungalow Intan, Puncak Bogor 4/2/2012, yang menggugah lahirnya celetukan ini. Semoga keikhlasan salah satu penulis Durus al-Lughoh ini benar-benar bisa menginspirasi kita untuk tidak mudah berputus asa dari ni’mat Allah SWT. Amin..). 

Comments
  1. abdul mu'thi tegal says:

    bagus itu, sangat mengispiratif

  2. benramt says:

    tafadhol, akhi umar… semoga bermanfaat n bisa menginspirasi kepada kebajikan, amin..

  3. Umar Assidiq says:

    Akhi fillah ! ana nyimak bbrp tulisan ente sebelumnya misalnya ttg Khutbah jumat, bhs Arab lighai natiqiina biha dll. dan izin copas diantaranya. syukron, salam ukhuwah

  4. benramt says:

    @azzahro: mana tulisan azzahro??? boleh juga dikirim di blognya om ini, kan bisa dibaca banyak teman azzahro nanti…
    @syahrul: saya hanya berusaha mengais dan menata kembali kearifan yang tercecer dari kehidupan banyak orang yg saya temui atau kita perbincangkan, semoga bermanfaat.. dan bisa menginspirasi kita menjadi lebih baik.. amien. kalau antum punya tulisan yg inspiratif bisa dikirim ke blog saya ini…

  5. Syahrul Kamal says:

    keren mink…. sebuah inspirasi keikhlasan yang mengedepankan kebersahajaan… I like it…,,, afwan waktu di villa intan ana nggak intens mengikuti perbincangan antum..

  6. rafki says:

    luar biasa, trims ink, sayang ana ga ikutan waktu antum2 bercerita

  7. benramt says:

    alhamdulillah…semoga bisa menginspirasi kita untuk bisa berbuat lebih baik dan lebih baik lagi, amin…

  8. ida_____________ul says:

    tulisane sampeyan emang jos kang….

  9. nurul says:

    pesan moralnya dalem ustad… nice blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s