BERUBAH

Posted: November 9, 2011 in celetukan
Tags: , , ,

Kujabat tangannya erat. Maklum lama nian tidak bersuah dengan temanku ini stelah 18 tahun kita  berpisah saat pelepasan wisuda dahulu. Ada yang berbeda dari penampilan fisknya, namun tetap saja ada satu ciri yang bisa menghantarkanku pada gambaran tentangnya di masa sekolah dulu.
“Ternyata wajahmu berbeda jauh dengan gambaran yang saya bayangkan..” katanya sambil tersenyum.

La iya lah, kamu membandingkannya dengan gambaran saat sekolah dahulu” jawabku.

“Tapi tidak bebeda dengan potomu di FB, sekarang udah botak hehehe”

Setelah saling tanya kabar masing-masing kitapun beralih pada pembicaraan tentang teman-teman seangkatan yang lain.

“Macam-macamlah mereka” ucapnya. Satu persatu ia sebutkan beserta track recordnya masing-masing. Ada yang positif, namun ada pula yang negatif.

“Itulah mereka” lanjutnya, “namun saya bisa memaklumi. Saya anggap itu wajar”

“Maksud kamu bahwa track record yang negatif adalah kewajaran?” tanyaku mencoba memastikan.

“Seringkali kita menjust seseorang dengan emage tertentu karena info tentangnya sepotong-sepotong, dan cepat tersebar dari satu hp ke hp yang lain tanpa ada kesempatan baginya untuk melakukan pembelaan”.

“Bukankah tiada asap kalau tidak ada api?” tanyaku.

“Benar. Namun semestinya kita merasa prihatin, dan berusaha menolongnya”

“Menolongnya? Maksudmu?”

“Kita tidak pernah tahu, mengapa ia berbuat demikian bukan? Jangan-jangan karena terpaksa”

“Jadi kamu lebih menyalahkan kondisi? Padahal bukankah selama di pendidikan dahulu kita ditempah untuk tetap tegar dengan akhlaq baik dalam menghadapi segala situasi?”

“Benar. Namun tetap saja dari seratus telur, ada saja yang tidak menetas seperti yang diharapkan”

“Menurutku itu analogi yang tidak tepat. Masak kita disamakan dengan ayam hehehe. Tapi, saya setuju, kita memang mesti menolongnya. Namun bagaimana caranya? Takutnya kita mencoba nulung malah kepentung?”

“Itulah yang telah berubah dalam diri kita” ucapnya.

“Apa itu?” tanyaku.

“Hilangnya positive thinking. Husnudz dzon. Saya merasa iri dengan pak Haji Hasan, tetangga saya. Beliau angkatan 60an di sekolah kita. Setiap bulan ia menyisihkan uang untuk keluarga salah satu teman seangkatannya padahal berkali-kali saat muda dahulu sang teman itu telah menipunya. Ketika kutanya, mengapa ia berbuat demikian. Pak Hasan hanya berucap: ia telah mengambil takdir ketidakberuntungannya, kitalah yang terdekat untuk mengingatkannya. semoga ia mau mengubah diri[].

Jakarta, 7 November 2011

Comments
  1. benramt says:

    bukan siapanya yang penting, bro. tetapi kearifan yg terbersit semoga dapat menggugah kita menjadikan hidup lebih bermakna karena pengkhidmatan kita kepada sesama hehehe

  2. siapa ya yang diceritakan ini, nice posting bro

  3. Syahrul Kamal says:

    Nice inspiring prof… mengigatkan kita untuk tetap survive dalam menghadapi segala macam persoalan hidup..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s