PUASANYA TIDAK DITERIMA

Posted: July 29, 2011 in naskah khutbah
Tags: ,

Dua hari lagi kita akan memasuki bulan Ramadhan. Bulan di mana kita diwajibkan untuk berpuasa. Sebagaimana firmannya dalam QS. Al-Baqoroh [2] ayat 185:

 

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيَ أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُواْ الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُواْ اللّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu memasuki bulan itu, hendaklah ia berpuasa, dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.

 

Secara fiqhiyyah, kita memahami puasa sebagai upaya ibadah kepada Allah dengan menahan diri dari makan, minum dan berhubungan suami-istri.           Dalam makna yang demikian, puasa kita secara de jure tentunya sah, namun secara de facto yang lebih substansiil, bisa jadi ibadah puasa kita itu belum bisa diterima. Mari kita ingat-ingat kembali beberapa kisah pada pelbagai hadis berikut ini.

Ketika sedang di tengah-tengah sahabat, tiba-tiba Rasulullah diam. Seorang sahabat bertanya: “Apa gerangan yang terjadi, ya Rasulullah?”

“Saya tadi berdo’a dan diamini oleh para malaikat.”

“Apa yang Anda mohonkan?”

“Mereka yang melakukan kesalahan pada orangtuanya harus segera meminta maaf. Jika enggan meminta maaf atas kesalahannya, mudah-mudahan Tuhan tidak menerima puasanya”.

Pada lain kesempatan, ada satu sahabat menceritakan tentang seseorang yang tekun berpuasa di siang hari dan mendirikan sholat di malam hari, “sayangnya” kata sahabat itu, “lidahnya sering menyakiti tetangganya”.

“Dia lebih pantas menjadi penghuni neraka” kata Nabi.

Hadis lain meriwayatkan, pada bulan Ramadhan ada perempuan sedang mencaci maki pembantunya. Kebetulan Rasulullah mendengarnya. Perempuan itu lalu dipanggilnya dan Nabi bersabda: “Makanlah makanan ini”.

“Saya sedang berpuasa, ya Rasulullah” jawabnya.

“Bagaimana mungkin kamu berpuasa, padahal kamu mencaci maki pembantumu. Sesungguhnya puasa mestinya menjadi penghalang bagimu untuk tidak melakukan perbuatan yang tercela. Betapa sedikit orang berpuasa tetapi betapa banyak orang yang hanya berlapar-dahaga”.

 

Sholat dan puasa merupakan ibadah yang langsung ditujukan kepada Allah. Tidak seperti zakat atau haji yang terkait pula dengan masyarakat. Walaupun begitu, tidak berarti dua jenis ibadah yang bersifat vertical itu seteril dari persoalan sosial. Bahkan sebaliknya, nilai ibadahnya justru sangat tergantung kepada sikap hidup pelakunya di tengah masyarakat dan lingkungannya.

Tidak ada satupun ibadah yang tidak terkait dengan kehidupan sosial. Ritual dan seremonial bukan satu-satunya penentu. Tuhan menilai seseorang bukan hanya melihat bagaimana dia tekun dalam ibadah ritual tetapi juga bagaimana perilakunya dalam kehidupan sosial. Di sinilah tampak bahwa, Islam memandang ibadah sebagai wujud penghambaan dan keberserahan total seseorang hanya teruntuk Allah SWT, namun nilai dan impaknya memancar ke semua makhluk di sekitarnya. Kalau boleh meminjam teori pembelajaran, semestinya ibadah kita dapat memberikan instructional effect (dampak langsung) pada penguatan kepribadian-spiritual kita di satu sisi, dan nurturance effect (dampak pengiring) pada perbaikan lingkungan-sosial kita di sisi yang lain. Pada makna ibadah yang demikianlah, kita memandang ibadah secara tauhidi, tidak dikotomik: kesalehan spiritual versus kesalehan sosial. Karena orang yang beribadah adalah mereka yang shaleh seutuhnya.

Beberapa riwayat yang telah diceritakan hadits di atas barangkali patut menjadi perhatian ketika kita hendak memulai ibadah puasa Ramadhan seperti saat ini. Apakah kita pernah melukai hati orangtua kita? Marilah kita datang kepadanya. Tidak perlu menunggu lebaran tiba. Kita gembirakan mereka. Kita hibur kesedihannya, dan kita obati kekecewaannya agar puasa kita mudah diterima.

Apakah kita pernah bermasalah dengan tetangga kita? Segeralah kita selesaikan dengan baik-baik agar puasa kita besok tidak sia-sia. Bukan hanya tetangga tempat tinggal kita, tetapi juga tetangga meja kerja atau tetangga rekan kerja kita.

Apakah kita punya pembantu atau bawahan? Mungkin kita pernah memarahinya tanpa alasan yang jelas, atau bahkan merendahkannya, akan baik sekali jika kita meminta maafnya,lalu mulai sejak saat ini kita berazam memperlakukannya dengan ramah, agar puasa kita besok mudah mustajabah. Allah menciptakan semua makhluknya dengan kesungguhan, kemuliaan dan kasih sayang, maka tentunya Tuhan akan murka jika ciptaan-Nya itu kita hinakan dengan cacimaki dan perlakuan kasar, kecuali jika kita ingin puasa kita hanya lapar-dahaga semata.

Jadi, pesan moral dari renungan kita kali ini adalah bahwa Ibadah puasa mengharuskan kita menjaga kebersihan hati. Bukan hanya kepada orangtu dan tetangga tetapi juga kepada semua orang. Allah Maha Bersih dan mencintai orang-orang yang berhati bersih. Jika kita datang dengan hati kotor sedang Tuhan Maha Bersih maka “gelombang” hati kita tidak sama dan tidak akan menyambung dengan-Nya.

Mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang dibersihkan hatinya dalam rangka memasuki bulan Ramadhan yang penuh rahmat, berkah, dan ampunan-Nya amin… ya Rabbal Alamin..

Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s