7 Indikator Kebahagiaan

Posted: July 8, 2011 in naskah khutbah
Tags: , , ,

Siapa di antara kita yang tidak menginginkan kebahagiaan? Tentu semuanya mau. Dan untuk meraihnya banyak upaya yang dilakukan oleh manusia, yang kadang-kadang justru malah menjauhkannya dari kebahagiaan itu sendiri. Dari itu sebagai seorang muslim -yang tentunya menjadikan Islam tidak hanya sekadar sebagai identitas formal semata, tetapi sebagai way of  knowing (cara mengetahui) dan a way of life (cara hidup)- kita mesti merujuk kepada al-Qur’an dan as-Sunnah untuk mengetahui dan menapaki jalan menuju kebahagian tersebut.

Islam memandang kebahagian dalam kacamata yang tauhidi, tidak dualistik atau skularistik. Islam memandang kebahagian itu merupakan kesatuan di dunia dan di akhirat, sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Al-Baqarah ayat 201:

  وِمِنْهُم مَّن يَقُولُ رَبَّنَآ آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”.

Inilah harapan yang senantiasa terlontarkan dalam setiap munajat kita untuk mendapatkan rahmat Allah, berupa kebahagiaan dunia dan akhirat. Ada keberserahan diri secara total, dan itulah identitas transendental kita sebagai orang beriman, bahwa sebesar apapun ikhtiar kita hanyalah berkat rahmat Allah jua terkabulkan apa yang kita idamkan.

Apa yang dimaksud dengan kebahagiaan? Ibnu Abbas, salah seorang sahabat Nabi SAW yang sangat telaten dalam menjaga dan melayani Rasulullah SAW, dimana ia pernah secara khusus didoakan Rasulullah SAW, selain itu pada usia 9 tahun ia telah hafal Al-Quran dan telah menjadi imam di mesjid, pada suatu hari ditanya oleh para Tabi’in (generasi sesudah wafatnya Rasulullah SAW) dengan pertanyaan tersebut. Dan ada baiknya, kita memperhatikan bagaimana ia menjawabnya dengan 7 (tujuh) indikator yang dapat kita jadikan sebagai alat ukur kehidupan kita :

Pertama, Qalbun syakirun atau hati yang selalu bersyukur.

Memiliki jiwa syukur berarti selalu qona’ah dan berlapang dada, sehingga tidak ada ambisi yang berlebihan, tidak ada stress, inilah nikmat bagi hati yang selalu bersyukur. Dan ini dapat kita contoh dari nabi Ibrahim alaihissalam sebagaimana digambarkan dalam QS. An-Nahl ayat 120-122:

إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا للهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ. شَاكِرًا ِلأَنْعُمِهِ اجْتَبَاهُ وَهَدَاهُ إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ. وَآتَيْنَاهُ فِي الْدُّنْيَا حَسَنَةً وَإِنَّهُ فِي الآخِرَةِ لَمِنَ الصَّالِحِينَ.

Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan), (lagi) yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah, Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus. Dan Kami berikan kepadanya kebaikan di dunia. Dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh.

Seorang yang pandai bersyukur sangatlah cerdas memahami sifat-sifat Allah SWT, sehingga apapun yang diberikan Allah ia malah terpesona dengan pemberian dan keputusan Allah. Bila sedang kesulitan maka ia segera ingat sabda Rasulullah SAW yaitu : “Kalau kita sedang sulit perhatikanlah orang yang lebih sulit dari kita”. Bila sedang diberi kemudahan, ia bersyukur dengan memperbanyak amal ibadahnya, kemudian Allah pun akan mengujinya dengan kemudahan yang lebih besar lagi. Bila ia tetap “bandel” dengan terus bersyukur maka Allah akan mengujinya lagi dengan kemudahan yang lebih besar lagi. Maka berbahagialah orang yang pandai bersyukur!
Kedua. Alazwaju shalihah, yaitu pasangan hidup yang sholeh.

Pasangan hidup yang sholeh akan menciptakan suasana rumah dan keluarga yang sholeh pula. Di akhirat kelak seorang suami (sebagai imam keluarga) akan diminta pertanggungjawaban dalam mengajak istri dan anaknya kepada kesholehan. Berbahagialah menjadi seorang istri bila memiliki suami yang sholeh, yang pasti akan bekerja keras untuk mengajak istri dan anaknya menjadi muslim yang sholeh. Demikian pula seorang istri yang sholeh, akan memiliki kesabaran dan keikhlasan yang luar biasa dalam melayani suaminya, walau seberapa buruknya kelakuan suaminya. Maka berbahagialah menjadi seorang suami yang memiliki seorang istri yang sholeh.
Ketiga, al auladul abrar, yaitu anak yang soleh.

Saat Rasulullah SAW sedang thawaf, bertemulah dengan seorang pemuda yang pundaknya lecet-lecet. Selesai thawaf, Rasulullah SAW bertanya kepada anak muda itu: “Kenapa pundakmu itu ?” Jawab anak muda itu : “Ya Rasulullah, saya dari Yaman, saya mempunyai seorang ibu yang sudah udzur. Saya sangat mencintainya, dan tidak pernah melepaskannya. Saya melepaskan beliau hanya ketika buang hajat, ketika sholat, atau ketika istirahat, selain itu sisanya saya selalu menggendongnya”.

Lalu anak muda itu bertanya: “Ya Rasulullah, apakah aku sudah termasuk ke dalam orang yang berbakti kepada orang tua?” Nabi SAW sambil memeluk anak muda berkata: “Sungguh Allah ridho kepadamu. Kamu anak yang soleh. Anak yang berbakti. Tapi ketahuilah, anakku, cinta orangtuamu tidak akan terbalaskan olehmu”.

Dari hadist tersebut kita mendapat gambaran bahwa amal ibadah kita ternyata tidak cukup untuk membalas cinta dan kebaikan orang tua kita. Walaupun begitu, minimal kita bisa memulainya dengan menjadi anak yang soleh, dimana do`anya teruntuk orang tua amat mustajabah. Berbahagialah kita bila memiliki anak-anak yang sholeh.
Keempat, albi`atu sholihah, yaitu lingkungan yang kondusif untuk iman kita.

Yang dimaksud dengan lingkungan yang kondusif ialah, kita boleh mengenal siapapun tetapi untuk menjadikannya sebagai sahabat karib kita, haruslah orang-orang yang mempunyai nilai tambah terhadap keimanan kita. Dalam sebuah haditsnya, Rasulullah menganjurkan kita untuk selalu bergaul dengan orang-orang yang sholeh. Orang-orang yang sholeh akan selalu mengajak kepada kebaikan dan mengingatkan kita bila kita berbuat salah. Orang-orang sholeh adalah orang-orang yang bahagia karena nikmat iman dan nikmat Islam yang selalu terpancar pada cahaya wajahnya. InsyaAllah cahaya tersebut akan ikut menyinari orang-orang yang ada disekitarnya. Berbahagialah orang-orang yang selalu dikelilingi oleh orang-orang yang sholeh.
Kelima, almalul halal, atau harta yang halal.

Islam memandang harta bukanlah pada banyaknya, tetapi halalnya. Ini tidak berarti Islam menghalangi umatnya untuk kaya. Dalam riwayat Imam Muslim di dalam bab sadaqoh, Rasulullah SAW pernah bertemu dengan seorang sahabat yang berdoa mengangkat tangan. “Kamu berdoa sudah bagus”, kata Nabi SAW, “Namun sayang makanan, minuman, pakaian dan tempat tinggalmu didapat secara haram, bagaimana doamu dikabulkan”.

Berbahagialah menjadi orang yang hartanya halal karena doanya sangat mudah dikabulkan Allah. Harta yang halal juga akan menjauhkan setan dari hatinya, maka hatinya semakin bersih, suci dan kokoh, sehingga memberi ketenangan dalam hidupnya. Karena itu, hendaklah kita berhati-hati dan selalu teliti menjaga kehalalan harta kita.
Keenam, Tafakuh fi dien, atau semangat untuk memahami agama.

Semangat memahami agama diwujudkan dalam semangat memahami ilmu agama. Semakin kita belajar, semakin kita terangsang untuk belajar lebih jauh lagi tentang Islam baik yang tersurat maupun yang tersirat.  Allah menjanjikan nikmat bagi umat-Nya yang menuntut ilmu, semakin ia belajar semakin cintalah ia kepada agamanya, dan semakin tinggi pula cintanya kepada Allah dan rasul-Nya.

Cinta inilah yang akan memberi cahaya bagi hatinya. Semangat memahami agama akan meng”hidup”kan hatinya, hati yang “hidup” adalah hati yang selalu dipenuhi cahaya iman dan islam. Maka berbahagialah kita yang penuh semangat memahami ilmu agama Islam.
Ketujuh, yaitu umur yang barokah.

Umur yang barokah itu artinya semakin tua semakin sholeh, yang setiap detiknya diisi dengan amal ibadah. Seseorang yang mengisi hidupnya untuk kebahagiaan dunia semata, maka hari tuanya akan diisi dengan banyak bernostalgia tentang masa mudanya dan cenderung kecewa dengan ketuaannya.

Di samping itu, pikirannya terfokus pada bagaimana caranya menikmati sisa hidupnya; iapun sibuk berangan-angan terhadap kenikmatan dunia yang belum sempat ia rasa. Hatinya kecewa bila tidak mampu menggapai kenikmatan yang diidamkannya.

Sedangkan orang yang mengisi umurnya dengan banyak mempersiapkan diri untuk akhiratnya, maka semakin tua semakin rindu ia untuk bertemu dengan Sang Pencipta. Hari tuanya diisi dengan kemesraan bersama Sang Maha Pengasih. Tidak ada rasa takutnya untuk meninggalkan dunia ini, bahkan ia penuh harap untuk segera merasakan keindahan alam berikutnya. Inilah semangat “hidup” orang-orang yang barokah umurnya, maka berbahagialah kita bila dirahmati seperti ini.

Jadi, tujuh indikator kebahagian yang dapat kita jadikan alat untuk mengukur kehidupan kita, yaitu: (1) memiliki hati yang selalu bersyukur; (2) bersanding bersama pasangan hidup yang sholeh; (3) melahirkan anak-anak yang soleh; (4) berada di dalam lingkungan yang baik; (5) memiliki harta yang halal; (6) selalu semangat untuk memahami agama; dan (7) mempunyai umur yang barokah. Wa Allahu a’lam!

Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s