MBAHDIM

Posted: December 26, 2010 in celetukan
Tags: , , ,

“Kalau begini telak kekalahannya” ujar Kang Ri saat nonton bareng final AFF leg 1 Indonesia vs Malaysia di balai RW, “bisa-bisa malam ini saya gak bisa tidur nih” lanjutnya.

“Masak sampai segitunya, Kang?” ujarku ngguyoni, walaupun dalam hati saya juga sangat kecewa, prihatin dan entah apalagi, semuanya bercampur aduk..

“Ini masalah kebanggaan Dul, sebagai bangsa Indonesia. Patriotisme. Nasionalisme!”

“Iya kang, tapi mbok nggak usah lebai begitu dong”

“Ini bukan lebai, Tau!, tetapi satu ekspresi akan kerinduan saya warga Indonesia untuk memiliki sesuatu yang dapat dibanggakan dari bangsa ini” kata temenku yg tukang batu ini berapi-api, lebih tepatnya sewot.

“Kang, terus terang ya gak bohong. Sampean kalau emosionil begini kelihatan inteleknya lho..”

Plakkk!” seperti biasa, tiba-tiba aja tangannya telah mampir di jidatku tanpa ada kesempatan menghindar, “ngenyek!” ujarnya lalu ngeloyor pergi dengan wajah menunduk lesu bak prajurit yang baru kalah perang. Bisa jadi, banyak Kang Ri malam ini di Indonesia yang tidak bisa tidur karena sangat kecewa dan prihatin..

Walaupun begitu, saya setuju dengan Kang Ri. Ada kerinduan pada bangsa ini akan sesuatu yang bisa dibanggakan di tengah merosotnya prestasi di hampir semua lini kehidupan. Sehingga ketika ada setitik cahaya di piala AFF 2010 ini saat Timnas kita mencukur Malaysia, Laos dan Tailand di babak penyisian, itu menjadi harapan yang luar biasa. Dukungan, pujian dan sanjungan tampak begitu membahana di media masa kita. pemain naturalisasi yang belum fasih berbahasa Indonesia, Irfan Bachdim pun menjadi idola baru. Tidak hanya digandrungi para cewek ABG, tetapi juga menjadi newsmaker baru. Dari tato sampai kehidupan asmaranya menjadi jualan media yang laris manis. Dani dan Adit, anaknya Pak Kasla tetangga saya pun jadi lihai mengikuti gaya selebrisi Bachdim. Sampai-sampai tetangga saya juga ada yang berani berkomentar bahwa kehadiran pemain naturalisasi telah meningkatkan kualitas persepakbolaan kita.

Saya jadi teringat dengan Prof. Dimyati yang oleh kami, para mahasiswanya sering dipanggil secara takzim dengan Mbahdim. Beliau sering sekali melontarkan pertanyaan: Anda mau jadi Ilmuan Indonesia atau Ilmuan di Indonesia? Ada keprihatinan di balik celotehan Mbahdim di atas, yakni keprihatinan tentang tiadanya karakter dan mentalitas ilmuan. Banyak ilmuan di Indonesia, tetapi sedikit sekali yang berkarakter dan memiliki mental juara. Saya kira kritik Mbahdim di atas dapat diarahkan pada semua aktor bangsa ini, termasuk  Timnas sepakbola kita. Performa dan skill pemain kita tidak berbeda jauh dengan pemain Malaysia. Strategi yang dimainkan Riedl dan Rajagopal di final leg 1 ini juga sama. Hanya sedari awal  beban psikologis bermain di kandang musuh plus bonus teror suporternya yang kurang terdidik tidak mampu ditangani Timnas kita dan justru memusnahkan konsentrasi mereka, akibatnya banyak terjadi kecerobohan yang menguntungkan lawan dan terjadilah kekalahan telak 3-0.

“Inilah cerminan masalah bangsa ini” ujar Mbahdim di depan kelas saya dahulu, “tiadanya  karakter dan mentalitas juara”. Tampak PR besar pendidikan dan pembelajaran kita yang tak jua kunjung usai! Waallahu a’lam.[] Joyosuko, 26/12/2010.

Comments
  1. You produced some decent points there. I looked on the net for any issue and found most people goes as well as with the site.

  2. benramt says:

    hehehe, ruarbiasa… tampaknya ente sangat menyelami apa yang dikuliahkan oleh prof. Dim di kelas tentang “servitude of the mind” (keterbudakan mental) dan “intelectual depedency” (ketergantungan intelektual) hehehe. jarang lho ada mahasiswanya yang bisa memamabiak pikiran-pikiran philosticated beliau hehehe. selamatlah kalo beg-beg..

  3. tahid says:

    Sepak bola adalah seni dan budaya manusia yg paling tua. Sebelum kita lahir, sepak bola sudah menjadi permainan “para sesepuh” (mbah) yg dilakoni secara turun temurun. hingga akhirnya kini tibalah seorang “Mbahdim” sebagai bintang timnas yg jadi idola penduduk tanah air.

    Menarik apa yg pernah disampaikan Prof. Dimyati, atau yg oleh mas Amin sebut Mbah Dim, bahwa bangsa kita masih hidup dalam “servitude of the mind” dan “intelectual depedency”. jadi benar kalo bangsa kita belum bermental dan karakter juara, karena masih ketergantungan otak, pikiran dan tenaga orang asing.

    Rupanya mas Amin atau kita semua juga masuk ke lubang “intelectual depedency,” seperti yg dikatakan Mbah Dim. Dari ajang piala AFF, sepak bola ialah pembelajaran yg menanamkan rasa dan nilai kebudayaan, kemasyarakatan, keumatan dan kebangsaan. lagi-lagi ini cocok dg statemen Mbah Dimyati…

    Kata Mbah Dimyati, kebudayaan itu memiliki tujuh karakteristik;
    1. mata pencarian
    2. alat perlengkapan
    3. sistem kemasyarakatan
    4. bahasa
    5. keindahan
    6. pengetahuan
    7. sistem kepercayaan

    Dari ketujuh karakter di atas, sepak bola merupakan kerja budaya manusia yg mampu menyatukan dan menumbuhkan kecintaan nasionalime bangsa. selain dari yg bersifat manifes (tampak), sepak bola memiliki sifat laten (makna, simbol, nilai dan ide) yg luar biasa di tengah gegap gembita masyarakat.

    sepak bola semestinya menjadi “sekolah laboratorium” yg selalu diteliti dan dikembangkan agar melahirkan para pemain yg handal, kuat dan berprestasi. kita yakin kalau “setiap orang ada zamannya, atau setiap zaman ada orangnya”.

    selamat..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s