KANG DIN

Posted: August 19, 2010 in celetukan
Tags: , , , ,

Tiba-tiba lelaki ini menangkapku di jalan sepulang tarawih. Dibawanya aku masuk ke kedai kopi di pinggir kampung dekat kuburan. Aku tidak berkutik saat kemudian ia memesan secangkir kopi buatku, sesuatu  yang pernah membuat jantungku berdegup kencang karena tidak tawar.

“Entah sampai kapan saya harus mengejarnya” kata Kang Din malam itu. Saya melihat memang ada kegelisahan dan kepenatan di wajahnya. “Saya sudah konsultasi ke Kyai, namun tetap saja hatiku gundah. Aku pernah dimintanya untuk menziarahi makam para wali, ngalap berkah kedekatan mereka dengan Gusti Pangeran, sudah kulakukan, namun tetap saja aku belum dapat menemukannya. Terus kemana lagi dong saya mesti mencari??”

“Sebenarnya, kalau boleh tahu, apa sih Kang yang sampean kejar itu?”

“Gusti Allah!” Jawabnya singkat, dan itu membuatku tersentak. Wuih!! Nggak salah nih orang! Seketika pikiranku memutar ke belakang. Kalau dicermati memang ada sesuatu yang berbeda pada diri Kang Din akhir-akhir ini. Ia menjadi demikian gelisah, padahal ia yang saya kenal adalah juragan perahu yang sangat sukses. Julukannya amat terkenal,  juragan Ceker. Secara keberagamaan, kalau Gerzt boleh ngomong, ia termasuk abangan. Shalatnya sak kobere, persisnya lebih banyak bolong. Setiap tahun, ia bersemangat mensponsori tradisi sedekah laut di kampungku, yang tentunya demikian sarat dengan sinkretisme. Ibadah haji sudah pernah ia lakukan, namun tetap saja tidak mampu menghantarkannya menjadi seorang santri. Tapi kini tiba-tiba ia berupaya mencari Tuhan.

“Dul, di mana kira-kira Gusti Allah, menurutmu??” Aduh! Dia bertanya kepadaku..

“Di mana ya, Kang?” jawabku balik bertanya  agar bisa menghindar dari perbincangan yang abot tenan ini.

“Sampean kan guru. Guru agama” waduh duh duh dia mulai mengejarku, “pasti dong sampean sering mengajari murid-murid di sekolah tentang Tuhan. Jelaskan padaku, di manakah Gusti Pangeran?”

“Paak” tiba-tiba ada suara Mbok Nem yang memanggil Kang Din, “ada tamu menunggu di rumah”. Alhamdulillah, aku lega. Tengkyu Mbok Nem, engkau menyelamatku dari pertanyaan yang selama ini tidak pernah terbayang sedikitpun dibenakku.

“Dul” Ujar Kang Din, “Kapan-kapan kita lanjutkan..” lalu berlalu.

Untuk sementara, aku terbebas. Namun bagaimana aku mesti menjawabnya bila ketemu lagi. Di sekolah aku hanya mengajar sesuai buku teks, di mana Allah beserta nama-nama indah dan sifat-sifat-Nya sekadar dihafal tanpa ada proses pengalaman bermakna (meaningful learning) yang mampu melahirkan penghayatan sejati dan internalisasi nilai-nilai ketuhanan di dalam kesadaran maupun tindakan sehari-hari.

Apakah gambaran Tuhan yang ada di buku teks itu jawabanku. Entahlah, aku sendiri walaupun sering memperbincangkan tentang Tuhan atau menyebut asma-Nya di setiap waktu, ternyata aku sendiri tidak pernah menyadari ke-ada-anNya. Bahkan tidak juga sekadar mencari-Nya.

Diam-diam aku menjadi malu dan kebacut. Ternyata aku kalah telak, setidaknya kalah start oleh Kang Din dalam mencari Tuhan apalagi merindui-Nya.[]

Joyosuko Metro, 20/8/2010.

Comments
  1. benramt says:

    Tuhan ada di sini, di dalam hati, kata ebied G. ade.. masalahnya, mampukah kita senantiasa merindui dan melibatkan-Nya dlm setiap keputusan yg kita buat?..

  2. hatta Chano says:

    “Tuhan tidak jahu dari kita namun kita yg jahu dari Tuhan”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s