MBAH MADIRAN

Posted: August 14, 2010 in celetukan
Tags: , , ,

Bagi saya dan anak-anak kecil lainnya, orang ini selalu membuat takut untuk berbuat gaduh di komplek perguruan Muhammadiyah di kampungku. Karena ia serasa menjadi penghalang kami untuk bermain petak umpet atau kejar-kejaran di masjid. Anehnya setiap kami pergi ke masjid pasti orang ini sudah di sana. Namanya Mbah Madiran, setidaknya begitulah orang kampung memanggil. Kakek ini buta. Walaupun begitu, kerikil atau sandal yang disambarkan kepada anak-anak ketika berbuat gaduh tidak pernah meleset. Dijamin delapan puluh delapan koma delapan persen tepat sasaran. Itu yang membuat anak-anak takut terhadap orang tua ini.

Kelebihannya yang lain, kemana-mana ia berjalan tidak berbantukan tongkat padahal ia harus mengantarkan radio atau barang elektronik lainnya ke tukang servis di kampung sebelah yang mesti melewati galengan (jalan-jalan kecil) pemisah antar tambak ikan atau tambak garam. Namun hingga saya dewasa, tidak pernah terdengar kabar tentang mbah Madiran yang tercebur ke tambak.

Satu lagi yang membuat saya hingga kini tidak bisa melupakan orang tua ini ketika pulang kampung adalah suara adzannya, terutama saat maghrib tiba pertanda boleh berbuka puasa. Suaranya sih tidak merdu, bahkan cenderung mengganggu, namun gaya, lagu, cengkok dan spit kontrolnya terasa lucu. Kadang hingga kini untuk meramaikan suasana saat berbuka, saya, adik atau kakak saya menirukan gaya adzannya, dan kamipun terpingkal-pingkal.. Aduh, Mbah Madiran, kenangan masa kecilku tentangmu sungguh tak terlupakan.

“Saya dulu nakal sekali” katanya suatu ketika di emperan masjid sambil menunggu maghrib tiba. Kok tumben, batinku berkata, orang tua ini mau membicarakan dirinya. Mungkin pas hatinya sedang sumringah!

“Suka berantem” lanjutnya, “Judi sih nggak. Tapi kalau ngombe tuak dan sabung ayam sih iya. Tapi soal hobi gelut, saya jagonya. Mbacok orang juga pernah. Salah paham dikit aja, bisa membuat saya berkelahi”

“Betul toh, Mbah?” kataku ngguyoni dan sedikit agak meragukan, karena memang dari para orang tua di kampung saya tidak pernah mendengar trekrekor Mbah Madiran sebagai pendekar (bukan: pendek, irunge mekar hehehe). Atau mungkin saja saya yang kurang investigasi, kayak wartawan infotaiment gitu hehehe.

Iki Cung, buktine. Mataku tidak bisa melihat” sambil tangannya menunjuk.

“Kena sabetan golok, Mbah?” tanyaku.

“Nggak!”

“kena culek musuh, Mbah?”

“Nggak juga!”

“Kelilipan bubuk racun yang ditaburkan oleh musuh, seperti dalam pilem silat, Mbah?”

“Masih salah!”

“Pasti Mbah kalah tarung lalu lari dikejar musuh dan keculek paku?”

“Ngawur awakmu. Aku pantang lari saat berkelahi. Apalagi keculek paku segala..”

“Atau Mbah lagi mengintai musuh dengan sembunyi di tambak, tiba-tiba ada ikan keting yang mematil kedua mata eMbah?

“Ah, ngarang awakmu, Cung!”

“Lah terus karena apa Mbah?” kataku mendesak.

“Ceritanya begini” Mbah Madiran mulai berkisah, “Hari itu di masjid ini ada pengajian. Dulu, masjid ini milik bersama. Nggak ada eN-U, nggak ada Mukammadiyah. Nggak ada liberal, nggak ada salapi. Nggak terpecah-pecah seperti sekarang yang setiap kelompok merasa paling berhak mengapling surga..”

“Loh Mbah, ceritanya mana??” kataku mengingatkan.

“Iya, ya hehehe” sambil tertawa dan terlihatlah giginya yang ompong, “Kyainya saat itu ceramah tentang tobat. Tobat nasukah. Sambil jaga parkiran sepeda ontel, lirik-lirik aku mendengarkan ngajinya Kyai itu. Kok makbedunduk, hatiku luluh, jiwaku tersentuh. Aku menangis..”

“Wah.. pasti karena banyak menangis, Mbah Madiran jadi buta ya?? Wah hebat njenengan Mbah, punya pengalaman tobat yang menarik..” aku nerocos seakan sudah tahu ending ceritanya.

“Plakkk!” jidatku dipukulnya, “ngawur kamu! Masak mata menjadi buta kok dianggap pengalaman menarik. Semprul!”

“Benar loh Mbah, mirip pengalamannya Nabi Ya’kub alaihissalam yang menjadi buta karena banyak menangis atas kehilangan putranya Nabi Yusuf alaihissalam

“Salah! Bukan itu yang menjadikan mataku tidak bisa melihat”

“Lah terus apa dong, Mbah??”

“Itulah.. dengarkan dulu ceritanya. Banyak berkayal kamu!”

“Iya deh. Monggo dilanjutaken Mbah..”

“Malam itu juga aku bergegas pulang ke rumah. Aku pakai sarung, baju koko dan berkopyah. Lalu kutunggu sang Kyai di ujung jalan kuburan yang akan dilaluinya”

“Lalu Mbah?? Untuk apa Mbah mengahadang Kyai di kuburan itu?” kataku tidak sabar.

“Ketika kyai itu muncul dari kejauhan dengan sepeda ontelnya, saya telah bersiap dengan berdiri di tengah jalan. Barangkali nampak oleh Kyai itu ada orang menghadangnya, beliaupun turun dari sepeda dan menuntunnya dengan sabar dan perlahan”

“Terus.. terjadi perkelahian yang seru nggak, Mbah??” aku semakin penasaran.

“Aku tidak sabar menunggu kyai sepuh yang berjalan pelan itu” lanjut Mbak madiran, “aku pun berlari mengejarnya dengan maksud untuk merangkul dan menyatakan tobatku, namun ternyata ketika berlari aku keserimpet sarungku sendiri. Aku terjatuh menabrak kyai. Tubuh ringkihnya pun terpelanting dan aku menindihnya. Namun, celakanya ada yang terasa pedih di mataku. Ternyata mataku keculek gagang setir sepedanya…”

“hahahaha” aku tertawa terpingkal-pingkal, dan..

“Plakkkk!” Mbah Madiran menampar jidatku dengan keras. Aku seketika diam sambil meringis kesakitan. “Jangan tertawa di atas penderitaan orang lain!” ujarnya. Lalu iapun tertawa terbahak-bahak dengan mulut ompongnya itu.

“Dasar macan ompong!” gumamku masih dalam kesakitan.

Masih dengan tertawa-tawa, kakek tua itu bangkit dari duduk dan berkata: “Sudah.. ayo takjil. Waktu magrib sudah tiba!” lalu ia menuju mikropon di samping mimbar dan terdengarlah adzannya yang khas: lucu bercampur mengganggu!!![]

Joyosuko Metro, 15/8/2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s