BERUNTUNG

Posted: August 13, 2010 in celetukan
Tags: , , , , , ,

Nyuwun sewu, assalamu’alaikum” sapa Bu Kaji Patimah saat lewat depan kami yang sedang kongkow di teras mushollah sehabis tarawih.

“Eh, bu Kaji. Monggo-monggo bu.., wa’alaikum salam..” jawabku agak sungkan.

“Beruntung sekali ya Bu Kaji Patima itu?” komentar Kang Mo.

“Beruntung apa toh Kang?” tanya Kang Mus, “apa beliau habis dapat undian?”

“Undian jidatmu kui” jawab Kang Mo ketus, “Masak Bu Kaji kok ngurusi undian segala..”

“Lha, terus beruntung bagaimana, maksudnya sampean?” tanyaku.

“Ya.. beruntung dalam hidup. Bahagia begitu..” jawab Kang Mo.

“Kok bisa? Apa alasan sampean, Kang?” kejar Kang Mus.

“Coba sampean perhatikan” kata Kang Mo mencoba menjelaskan, “Di antara pengurus perguruan Muhammadiyah di desa ini barangkali memang Kaji Ali almarhum, suami Kaji Patimah, bukanlah yang terkaya secara materi. Masih kalah dengan Kaji Nyono, Kaji Tain, atau Kaji Dulasan, tetapi ketika meninggal dunia, saya yakin Kaji Ali masih meninggalkan harta yang lumayan buat Kaji Patimah. Kedua, anak-anak Kaji Patimah yang berjumlah enam, tumbuh menjadi orang-orang yang bisa di bilang ‘lurus’, lulusan pesantren semua, nggak neko-neko, semua dah berkeluarga, para menantunya juga ‘lurus’. Semua hidup rukun dan saling membantu. Coba bayangkan, Orang tua mana yang tidak beruntung? Secara materi berkecukupan, aktif beramal di masyarakat, dan keturunan yang ditinggalkan juga seperti yang diharapkan…”

“Iya, ya.. sampean kok ya sempet-sempetnya mikir begitu Kang?” tanya Kang Mus.

“Ya.. walaupun saya ini hanya Tukang Mbecak, tapi kan ya boleh toh mengambil pelajaran dari para tetangga yang sukses..” ujarnya bangga.

“Iya sih… tapi Kaji Dulasan juga bahagia tuh kayaknya?” Kang Mus mencoba mencari bandingan.

“Memang sih.. barangkali yang paling kaya di sini adalah Kaji Dulasan, tetapi menurut saya dalam mendidik keluarga, ia kurang sukses. Anak-anak dan menantunya tumbuh macam-macam. Ada yang bercerai. Ada yang nggak bisa meninggalkan minuman keras. Ada yang suka hutang di sana-sini. Ya barangkali itulah ujian hidup Pak Kaji Dulasan..”

“Memang benar sih Kang, pengamatan sampean tentang Bu Kaji Patimah, dan semoga memang benar begitu, tapi..” kataku.

“Lha memang benar begitu kok Dul. Makanya aku sungkan dan takzim pada Bu Kaji itu. Saya senang kalau beliau naik becak saya ketika pergi ke pasar. Nggak dibayar pun saya ikhlas!”

“Walah.. Sampean kui Kang, sok kemelintih pakai ngomong ikhlas segala” kata Kang Mus menyela. “Padahal, berharap yang naik becak sampean Bu Kaji Patimah terus karena memang beliau pasti memberi lebih banyak dari standarnya. Iya toh???”

he’e hehehe” jawab Kang Mo tersipu, lalu keduanya tertawa-tawa..

“Tapi Kang..” aku mencoba berkomentar.

“Tapi opo toh Dul?” kata Kang Mo, “Udah nggak usah tapi-tapian. Walaupun guru, awakmu kan masih kecil hehehe”

“Iya, cah cilik ra usah mbantah. Lagian waktu Kaji Ali hidup, kamu loh masih kecil hehehe, mana kamu tahu keluarga bu Kaji Patimah?” Keduanya pun lalu tertawa-tawa kembali.

Saya jadi agak marah dengan ulah kedua tukang becak tersebut. Masak saya jadi bulan-bulanan begini.. Ya Allah, ini bulan puasa, beri saya kesabaran..

“Tapi, Kang..” kataku mencoba lagi untuk masuk pembicaraan.

Mereka berdua masih tertawa juga..

“Tapi, Kang”

“Topa-tapi, topa-tapi. Kamu itu mau ngomong opo toh pak guru!?” ujar Kang Mo, “Bagaimana Kang Mus? Si Dul dikasih ngomong nggak?”

“Kasihlah Kang … Nanti menangis. Kan kasihan masak ada guru menangis.. hehehe” jawab Kang Mus sambil senyam-senyum.

Dasar Tukang Becak sableng! Aku menggerutu dalam hati.

“Silakan ngomong bapak guru…” kata Kang Mo dengan tangan seakan mempersilakan.

“Nggak sih, aku hanya ingin ngomong…”

“Lha, iyo ngomongo…” bentak Kang Mus.

“Aku hanya ingin bilang, kata orang Jawa: Urip kui mong sawang sinawang (hidup itu seringkali terletak pada cara melihat, worldview gitu!)”

“Oh, sawang-sinawang…” komentar Kang Mo dengan wajah mengejek.

“Bener, itu Pak Guru. Sawang sinawang” Kang Mus menambahkan, lalu keduanya tertawa-tawa kembali..

Tukang becak gemblung! Aku angkat kaki, meninggalkan mereka berdua di teras mushollah. Melihatku pergi, mereka pun tambah terpingkal-pingkal tertawanya. Aku hanya bisa menggerutu, berupaya bersabar sambil berharap semoga tertawa mereka bisa menghilangkan penatnya hati mereka setelah seharian membanting tulang di tengah himpitan sembako yang harganya melangit ketika ramadhan kayak sekarang. Tertawalah Kang, untuk modal kerja esok hari![]

Joyosuko Metro, 12/8/2010.

Comments
  1. Martin Mosen says:

    I appreciate, result in I discovered just what I was taking a look for. You’ve ended my four day long hunt! God Bless you man. Have a great day. Bye

  2. Alexander Castro EA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s