MEWASPADAI CINTA DUNIA

Posted: June 18, 2010 in naskah khutbah
Tags: , , , , , ,

Khutbah Jum’at, Masjid AR Fakhruddin 18/6/2010

Saya ingin mengajak hadirin sekalian untuk menggali nilai dalam kisah sufi yang mashur ini. Diceritakan ada seorang sufi yang berlaku keras terhadap dirinya agar tetap zuhud. Ia tinggal di sebuah gubuk sederhana di tepi sebuah hutan. Karena takutnya akan menjadi jauh dengan Sang Maha Kasih maka ia meninggalkan semua kesenangan dunia. Hari-harinya digunakan hanya untuk shalat dan berdzikir kepada-Nya. Ia makan dan minum hanya sedikit. Ia berpakaian sederhana saja. Di gubuknyapun tak ada perabot kecuali yang sederhana dan sekadar diperlukan. Tangannya tak pernah lepas memegang tasbih. Ia betul-betul menjaga diri agar dunia ini tidak membuatnya terlena.

Sementara itu, tersiar kabar bahwa di tengah kota yang hiruk pikuk tinggallah seorang sufi yang lain. Konon ia seseorang yang berharta dan tinggal di rumah bak istana. Sang sufi yang hidup sederhana tadi menjadi penasaran dengan berita tersebut. Di benaknya menggelitik pertanyaan, bagaimana orang bisa menjadi sufi yang zuhud bila ia tinggal di tenggah-tengah kemeriahan kesenangan dunia? Maka timbullah hasratnya untuk bertemu dengannya, bila perlu ia akan menyampaikan nasihat kepada sufi yang tinggal di kota tersebut.

Akhirnya, hari itu ia berangkat ke kota. Penat perjalanan yang lama ditahannya demi sebuah misi mulia ‘menyadarkan seorang sahabat’. Ketika tiba di kota yang dituju, ia begitu terperangah mengetahui tempat tinggal orang yang dicarinya itu. Rumah tinggalnya itu benar-benar megah dengan taman-taman yang indah. Akhirnya ditemuinya sang pemilik rumah itu, yang menyambutnya dengan gembira ketika ia menyampaikan maksud untuk bertamu hingga beberapa hari.

Hari-hari bertamunya itu sungguh-sungguh silaturahmi yang baik. Mereka saling bertukar pikiran yang makin memperdalam keimanan mereka. Sesungguhnyalah mereka berdua itu orang-orang pintar yang tahu bagaimana menggunakan anugerah waktu. Pada hari terakhir, berpamitlah sufi sederhana tadi. Ia masih mengingat misi yang membawanya menemui sufi kaya raya tadi. Maka ditawarkannya kepada sufi kaya tadi untuk berkunjung ke gubuknya. Ajakan itu disambut oleh sufi kaya dengan gembira. “Bagaimana kalau kita berangkat sekarang juga?”, pinta si sederhana. “Baiklah, dengan begitu kita tidak menyia-nyiakan waktu” jawab si kaya.

Demikianlah, sufi sederhana tadi mengajak sufi kaya pulang ke gubuknya di tepi hutan. Harapannya, dengan mengalami tinggal di gubuk sederhana sufi kaya tadi berkesempatan belajar hidup jauh dari kesenangan duniawi. Itu sebabnya ia ajak berangkat dengan segera, agar tidak sempat mempersiapkan harta benda untuk dibawanya sebagai bekal. Dan, ternyatalah bahwa sufi kaya tadi tidak membawa harta apa-apa kecuali yang ada pada dirinya saat ia menyetujui ajakan pergi.

Singkat cerita, tibalah mereka di depan gubuk yang terkunci itu. Akan tetapi, sang sufi sederhana tadi tercekat. Barulah teringat olehnya bahwa tasbihnya tertinggal di kota. Aduhai, tasbih itulah yang menemaniku berdzikir. Dengan kesedihan yang sungguh-sungguh ia sampaikan kepada sang sufi kaya tadi, “Maafkan sahabatku, tasbih milikku tertinggal di rumahmu. Dan aku sangat membutuhkan tasbih itu”. “Wahai sahabatku, bagaimana mungkin engkau menekuri jalan sufi bila hati dan pikiranmu masih terikat dengan tasbih yang adalah benda dunia?”, jawab sang sufi kaya tadi. Jawaban itu begitu menghujam kesadarannya, membuatnya terhentak dan sangat malu.
Kearifan yang dapat digali dari kisah di atas adalah bahwa keterlenaan oleh dunia bukan dinilai dari banyak sedikitnya harta, bukan oleh besar kecilnya kekayaan tetapi oleh keterikatan hati dan pikiran kita kepadanya. Inilah esensi renungan kita kali ini. Katakuncinya adalah dunia dan keterikatan.

Dunia berasal dari kata danaa-yadnuu, yang berarti dekat. Dinamai “dunia”, demikian Lisaul Arab menyebutkan, karena dekatnya dengan kita dan terlambatnya akhirat. Imam Ali (kw) mengatakan: “sesungguhnya dunia disebut ‘dunia’ karena dia yang terdekat dari segala sesuatu, dan sesungguhnya akhirat disebut akhirat karena di dalamnya terdapat balasan dan ganjaran”. Kata dunia di dalam al-Qur`an disebutkan sebanyak 115 kali. Di antaranya adalah surat Ali-Imran [3] ayat 14 yang berbunyi:

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاء وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita, anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).

Ayat ini menjelaskan tentang kelezatan dunia secara ilustratif sebagai kecintaan kepada wanita, anak-anak dan harta benda. Semua itu dijadikan indah di mata manusia, sehingga membuat kita cenderung dan gandrung kepadanya. Jika tidak berhati-hati dan kurang bisa mengendalikan diri maka kita akan terjatuh pada kecintaan berlebih dan kita menjadi orang yang terpedaya oleh dunia.

Dari sekian ayat tentang dunia, sebagian besar mengingatkan kita akan tipuan duniawi. Di antaranya dalam surat al-Hadid [57] ayat 20, Allah berfirman:

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الأَمْوَالِ وَالأَوْلادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا وَفِي الآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُورِ

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.

Rasulullah juga mengingatkan sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Said al-Khudry, bahwa Rasulullah saw duduk di atas mimbar dan kami duduk di sekelilingnya, lalu beliau bersabda: sesungguhnya di antara hal yang saya takuti pada kalian sesudahku adalah kemewahan dunia dan keindahannya (muttafaq alaih).

Selain Allah dan Rasulnya, banyak pula para bijak-cendekia yang mengingatkan tentang tipu-daya kehidupan dunia. Misalnya ada mengatakan: الناس أبناء الدنيا، ولا يلام الرجل على حب أمّه (manusia merupakan anak-anak dunia, maka tidaklah pantas seseorang mencintai ibunya).

Kalau demikian, apakah kita mesti meninggalkan dunia ini?. Tentu tidak begitu. Karena sebagai muslim kita memiliki pandangan yang khas tentang dunia, sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah saw: “ad-dunya mazra’atul akhirah” bahwa dunia itu adalah ladang akhirat. Bagaimana mungkin kita akan berpanen ria di akhirat kelak jika meninggalkan dunia, tanah ladang kita. “Sesungguhnya Allah swt, kata Imam Ali dalam Nahjul Balaghah, telah menjadikan dunia untuk masa sesudahnya, dimana penghuninya diuji untuk mengetahui siapakah yang terbaik kualitas amalnya, dan tidaklah untuknya kita tercipta, serta tidak pula dengan larut di dalamnya kita diperintah”.

Sebagai tempat bercocok amal, maka dunia hanyalah instrumen semata untuk menggapai tujuan utama, yaitu keridhaan Allah SWT. Karenanya, jangan sampai sesuatu yang instrumental itu melengahkan kita terhadap yang esensi. Untuk itu, marilah kita terus belajar untuk menjadikan pikiran, hati, dan jiwa kita sebagai  majikan dari kehidupan dunia kita, bukan sebaliknya menjadi budak yang terikat dengan harta benda kita.

@@@

Pada khutbah kedua ini, khatib ingin mengikhtisari khutbah pertama bahwa dunia, walaupun memiliki kecenderungan untuk menipu dan melengahkan kita, namun justru di situlah tempat kita bercocok-amal untuk kita panen di akhirat kelak. Karenanya, mari kita menghitung-hitung diri ini apakah kita selama ini telah menjadi majikan dari kehidupan dunia dengan tidak terikat pikiran hati dan jiwa kita kepadanya, atau sebaliknya kita menjadi budak dari dunia yang kita miliki. Indikatornya sederhana saja: apakah kita masih takut kehilangan apa yang kita miliki setelah berikhtiar dan bertawakkal? apakah kita masih tidak bisa mengikhlaskan apa yang telah hilang dari kehidupan kita? Apakah kita masih enggan memberikan yang kita miliki kepada orang yang ebih membutuhkan? Kalau iya, berarti kita bukanlah termasuk majikan yang kaya. Hamka pernah mengatakan, orang yang kaya adalah orang yang sedikit keperluannya. Kalau demikian, maka marilah kita belajar lagi, dan terus berlatih lagi karena menjadi orang kaya yang tidak dimiliki oleh dunia bukanlah perkarah mudah!.

Comments
  1. there are portable wine coolers which also fit in a small office space. i use them in my home office**

  2. Jodie Ooley says:

    option binaire long terme

  3. arief says:

    memang benar pak,,,,saat ini kita perlu mengoreksi diri, apakah kita “lebih” mementingkan dunia, atau akhirat, atau bahkan seimbang diantara keduanya {moga….heheheh}……
    tentunya kita mengetahui musuh kita saat ini bukanlah saiton atau pun iblis, akan tetapi musuh kita adalah hidup hedon (kata ustad Ghozali), modernisme, dan globalisme yang semua dari mereka memberikan ajaran untuk berlomba-lomba mencari harta benta, uang kekayan…..dan lain-lain.
    singkatnya kita harus berpijak pada “hal” benar…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s