HARGA DIRI

Posted: March 28, 2010 in celetukan
Tags: , , , , ,

Sering sekali ibu tua dengan pakaian yang lusuh ini lewat di depan rumahku. Pertama saya menganggapnya biasa saja seperti layaknya pengemis. Bukankah saat ini memang pengemis menjadi profesi tersendiri bagi sebagian orang untuk memperoleh keuntungan yang lumayan. Mereka bekerja dengan pelbagai modus dan cara masing-masing. Ada yang terang-terangan menadahkan tangan ke semua pengendara di setiap lampu merah, ada yang door to door dengan gaya memohon belas kasihan. Bahkan ada pula yang beraksi seakan meminta sumbangan untuk pesantren atau panti asuhan, sehingga saat ini tampak saya kesulitan membedakan antara pengemis betulan dan jadi-jadian.

Karena itu, setiap ibu tua ini terlihat dari jauh hendak lewat depan rumah, saya memberi anakku recehan untuk dikasihkan kepadanya jika ia meminta. Namun, alih-alih berhenti di depan pintu, orang tua renta itupun hanya tersenyum kepada anakku sambil berlalu menuju tong sampah di pojok depan rumah, kemudian mengais-ngais tempat bau itu dan memasukkan barang-barang berbahan plastik yang didapat ke dalam kantong lusuhnya. Ternyata ia pemulung, bukan pengemis seperti dugaanku.

Saya menjadi penasaran dengan ibu tua ini. Mengapa ia yang telah udzur, masih demikian gigih bekerja seperti ini. Kalaupun ia meminta, kuyakin banyak orang yang akan memberi karena memang penampilannya asli miskin, tidak dibuat-buat. Namun setiap anakku menyodorkan recehan kepadanya, ia senantiasa menolak dengan senyumnya yang tulus. Siapakah nenek lusuh ini? mengapa tiba-tiba terlihat di mataku ia tampak berkarisma dalam kemiskinannya?

Saya tak kuasa lagi menyimpan rasa penasaranku, pernah suatu hari kulihat nenek itu melintas di depan rumah, aku berupaya menyapanya dengan ramah: “Monggo mbah, monggo pinarak“.

Inggih, matur nuwun” balasnya ramah namun tetap saja ia tidak mampir.

Saya memahami memang begitulah etiket ala Jawa, seakan mengiyakan namun sesungguhnya adalah penolakan secara halus. Saya tak ingin memaksanya berbincang, barangkali ia memang tidak mau diganggu atau sapaanku bisa jadi dalam persepsinya adalah basa-basi ala Jawa juga. Namun, tetap saja rasa penasaranku tentang dirinya tak kunjung terobati karena sapaanku kepadanya pada hari-hari berikutnya juga tetap tak berbalas. Hingga pada suatu hari, ketika aku sedang menikmati goyangan gunting di kepalaku di pangkas rambut ‘Remaja’, tiba-tiba sang tukang cukur meninggalkanku sejenak untuk menyapa seorang nenek dengan bahasa Madura, lalu mereka berbincang-bincang. Kulirik cermin di sampingku dan aku terperanjat ternyata nenek itu adalah orang yang selama ini telah membuatku penasaran. aku mencoba nguping, tetapi tetap saja tak kumengerti karena memang saya tidak memahami bahasa mereka.

“Mas, siapakah nenek tadi?” tanyaku pada tukang cukur setelah ibu tua itu mohon diri.

“Kasihan mas, ibu itu” ujar tukang cukur mengawali jawaban, “ia mesti menanggung hidup tiga cucunya yang masih kecil-kecil”.

“Lha terus ke mana ayah ibunya?”

“Mereka telah meninggal dunia”

“Keduanya?”

“Ya, keduanya pada kecelakaan lebaran yang lalu” ujarnya sambil jemarinya lincah menari dengan gunting dan sisir di kepalaku.

Inna lillah wa inna ilaihi raji’un

“Itulah yang membuat aku kasihan kepadanya. Pernah kutawarkan niatku untuk mengadopsi cucu terakhirnya yang saat itu masih bayi, tapi ia menolak”

“Lalu dari mana ia menghidupi mereka?”

“ya dari mengais barang bekas. Setiap hari ia melakukannya”

MasyaAllah, tidakkah ia meminta belas kasihan pada orang?”

“Pernah kutanyakan begitu, tapi ia berpantang untuk mengemis. Selama ia bisa berusaha, katanya, ia tidak akan pernah meminta-minta, walaupun kalau ada orang yang memberinya sadaqah, ia juga tidak menolaknya. Dengan mengemis ia takut apa yang dimakan oleh cucunya tidak berbarokah..”

Subhanallah, ujarku dalam hati, mulia sekali nenek itu, di tengah himpitan kemiskinan ia mampu mempertahankan harga dirinya demi masa depan keturunannya. Tapi sampai kapan ia bisa bertahan dalam kondisi yang semakin tak memihak ini? Entahlah, namun paling tidak ibu tua itu telah menorehkan kebermaknaan hidup di depan mata saya, bahwa diri ini akan berharga jika selalu memberi bukan meminta-minta. Waallahu a’lam! [] Joyosuko Metro, 20/03/2010

Comments
  1. kortingscode blokker (.nl)

  2. arief sugiea says:

    kisah yang luar biasa itu kesan q ketika memaknai cerita diatas,,,ada banyak pelajaran yang bisa kita ambil, dengan kelakuan dan apa yang diperbuat si nenek tadi sebenarnya mengajak kita berfikir ulang, bagaimana sih kita ini, apakah kita sudah bisa kayak sinenek tadi,,,,,atau atau yang lainya lah…jangan-jangan kita meskipun tidak jadi pengemis secara perilaku tetapi jangan 2 mental kita mental pengemis ????………………………

  3. benramt says:

    banyak hal yang kita alami, sebanyak itupula yang kadang mampu kita maknai, sungguh beruntunglah kita yang bisa menggali makna tersebut untuk melakukan perbaikan diri…

  4. rahma faricha says:

    setelah membaca cerita, merinding….
    tanpa disangka memang kita sulit membedakan mana pengemis yang benar-benar membutuhkan uang dan yang memang menjadikannya sebagai profesi…
    pengalaman memang saya pernah ketika pulang kuliah saya sengaja melewati gang agar sampai koz lebih cepat, namun ditengah gang saya “dicegat” orang perempuan berjilbab, rapi, dan menghimpit saya sembari meminta sumbangan untuk sebuah pesantren…saat itu jujur saya lupa membawa dompet dan saya katakan itu. hanya ada uang seribu di saku jaket. saya ulurkan tangan dengan memberikan uang itu….”maaf bu dompet saya tertinggal dan hanya ada uang seribu ini” si ambilnya uang dari tanganku dengan pandangan mata yang sangat tanjam “sereeeem”. ooooooooo syukron yo mbak” katanya dengan nada sangat ketus.
    msh gemetar ktika orang itu meninggalkan saya, dalam hati sy berfkir…..pa salah yang saya lakukan????

    namun setelah mebaca crta di atas sya berfkir…mungkin saya harus mengevaluasi diri dan harus lebih banyak lagi bersyukur lagi atas keadaan saat ini
    semoga Allah memberi kekuatan pada sang nenek

  5. m. tajuddin says:

    alangkah mulianya si nenek yang di ceritakan diatas, dengan keadaan yang menghimpit tapi tetap saja mampu mempertahankan harga dirinya.
    rasa salut dan bangga terhadap nenek tadi semoga kelak aku akan memiliki jiwa yang sepeti itu.

    bila ku mencermati cerita itu, dalam benakku berfikir bahwa perlu adanya pembekalan keilmuan/keterampilan yang bersifat praktis yang langsung bisa dimanfaatkan kepada masyarakat awam. misalnya dengan mengadakan kursus kilat yang tujuan nya agar masyarakat kecil mempunyai bekal yang cukup untuk hidup.

    namun cerita diatas juga memberikan pelajaran padaku tentang rasa syukur pada Allah yang telah memberi kenikmatan yang telah kurasakan walaupun terkadang aku merasa kurang…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s