60 HARI DI NEGERI PARA MULLA (Bagian 9)

Posted: March 11, 2010 in catatan perjalanan
Tags: , , ,

HARI KETIGABELAS, KAMIS, 06 DESEMBER 2007

Hari ini saya habiskan waktunya untuk mengikuti kuliah seperti biasa. Hanya saja sorenya ada kuliah tambahan mengenai Methode Menghafal al-Qur`an yang disampaikan oleh Ghulam Hosein, seorang Hafidz Qur`an. Di Iran, walaupun pembelajaran bahasa Arabnya bisa disebut tidak sukses, namun penghafal Qur`an amatlah banyak jumlahnya. Di sini, penghafal Qur`an tidak hanya hafal ayat-ayat kitab suci itu, tetapi juga beserta halaman, nomor ayat dan juznya.

Pada kesempatan ini Ghulam menguraikan tatacara menghafal al-Qur`an dengan gamblang dalam bahasa Persia yang kemudian diterjemahkan secara langsung oleh Abu Ammar. Setelah itu dilanjutkan dengan uji hafalan oleh para peserta. Di sinilah kami merasa ta’jub. Ada yang mulai menguji dengan membacakan awal ayat lalu meminta dilanjutkan, menyebutkan ayat berapa dan berada di juz berapa. Ada juga yang membacakan akhir ayatnya dan meminta untuk membacakan ayat itu secara utuh dari awal, sekalian menyebutkan nomor ayat dan juznya. Dan lebih ekstrim lagi, ada yang membacakan awal ayat lalu meminta melanjutkan secara penuh ditambah dengan ayat sebelumnya dan sebelumnya lagi. Ajibnya, Ghulam bisa, bak computer dengan program Holy Qur`an ketika mencari ayat al-Qur`an. Luar biasa. Ajib…

HARI KEEMPATBELAS, JUM’AT, 07 DESEMBER 2007

Libur kuliah. Banyak peserta yang memanfaatkan waktu untuk istirahat, tidur sehabis subuh, ada juga yang bermain pimpong. Pada pukul 11, saya dan beberapa kawan berangkat ke Masjid Muhammadiyah di komplek pemakaman Fatimah al-Ma’suma untuk melaksanakan shalat Jum’at. Kami dipandu oleh Nor, mahasiswa Indonesia asal Makasar dengan mengendarai bis antar-jemput kampus-masjid yang memang disediakan bagi mahasiswa Madrasah Imam Khumaini. Demikian pula saat kembali dari masjid, kami juga mengendarai bis yang sama setelah menunggu sejenak di bawah derasnya air hujan yang amat dingin. Memang tigahari ini Qum senantiasa diguyur hujan. Dan terasa ada sesuatu yang berbeda bagi saya karena sejak datang di kota ini, langit terus terlihat biru tiada awan apalagi mendung. Konon kalau mendungnya hitam maka yang turun adalah air, tetapi kalau mendungnya putih maka yang turun adalah salju.

Seperti yang pernah saya ceritakan, jum’atan di sini memang berbeda. Lebih atraktif seperti demonstrasi dan tidak sesakral di tradisi sunni. Pada jum’atan kali ini saya dan kawan-kawan dating agak terlambat sehingga kebagian duduk di serambi masjid, tidak di ruang utama. Kami kebanyakan melakukan shalat sunnah dua rakaat sambil menunggu khatib naik mimbar. Mungkin dari itulah banyak jama’ah yang memperhatikan kami, karena tata shalatnya agak berbeda dengan mereka. Bersedekap misalnya, padahal mereka tidak. Termasuk yang memperhatikan adalah dua pemuda yang duduk di samping kanan saya. Setelah saya mengakhiri shalat sunnah saya, pemuda ini menyapa saya dengan bahasa Inggris “where are you from?”. “Indonesia” jawab saya. “Syi’i or Sunny?”. “Sunny”. “Welcome” sambutnya dengan tersenyum yang seakan menghilangkan perbedaan antara kami, lalu kamipun bercakap-cakap tentang bayak hal sampai tak terasa jum’atan berakhir, bahkan hingga saya keluar masjidpun ia tetap mengajakku berbincang, dan kami baru berpisah sesampainya di halaman luar masjid. Ia seorang mahasiswa di Teheran yang memang sengaja hadir di Qum untuk menikmati suasana keberagamaan di sini. Tampaknya ia mengajakku berbincang dalam maksud tersebut sambil mempraktikkan bahasa Inggrisnya. Maklum di Qum ini, memang bahasa Inggris kurang berhasil dipopulerkan. Konon orang Iran sangat nasionalis, tepatnya amat mencintai budaya dan nilai-nilai bangsanya, juga karena bahasa Inggris masih menyisakan trauma sejarah tentang penjajahan Barat (Inggris & Amerika) atas mereka.

Pada pukul 14.30 saya mengikuti kegiatan budaya, berupa apresiasi film Iran “the Color of the Paradise”. Film yang mengisahkan tentang seorang anak cacat fisik, namun memiliki nilai-nilai kebajikan yang membuat kecerdasan emosionil-spirituilnya sungguh menyentuh perasaan, hingga diam-diam dalam redupnya lampu ruangan, dengan agak malu-malu, saya menitikkan air mata. Pada kesempatan ini, film tersebut dibedah oleh seorang pengamat film terkenal dari Teheran. Memang saya harus mengakui, sineas Iran luar biasa. Mesti sensor pemerintah begitu ketat, film-film mereka begitu bagus. Walaupun tiada bumbu-bumbu seksisnya (atau erotis?), tetap mampu menghadirkan nilai-nilai kearifan yang mengajak hati untuk berdiskusi dalam bahasa diam, emosi, bahkan tetesan airmata [bersambung..]

Comments
  1. benramt says:

    kudo’akan semoga cita itu tercapai, kalau tidak ya suaminya yg hafidz, kalau tidak juga… ya anaknya atau dzurriyatnya yg hafidz.. insyaAllah… amin..

  2. endah 08110012 says:

    subhanallah ust……saya ta’ajub dengan para khufad….pengen sekali dapat menghafal al qur’an

  3. benramt says:

    kheli mamnoon…

  4. bangapad says:

    heli khubb ….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s